Telegram Rodja Official

Kifayatul Muta'abbid wa Tuhfatul Mutazahhid

Mukaddimah Kajian Kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid (Bekal Bagi Ahli Ibadah dan Hadiah Bagi Orang Yang Zuhud)

By  | 

Mukaddimah Kajian Kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid (Bekal Bagi Ahli Ibadah dan Hadiah Bagi Orang Yang Zuhud) adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 15 Muharram 1441 H / 15 September 2019 M.

Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Mukaddimah Kajian Kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid (Bekal Bagi Ahli Ibadah dan Hadiah Bagi Orang Yang Zuhud)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Para pemirsa dan pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita akan memulai kajian kita pada kitab كفاية المتعبد وتحفة المتزهد Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid yang ditulisa oleh Al-Hafidz Abdul ‘Adhim bin Abdul-Qawiy Al-Mundziri Rahimahullah. Dan Syaikh Abdurrazzaq Hafidzahullah mengatakan:

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dan sesungguhnya akibat yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada seluruh keluarganya dan para sahabatnya.

Selanjutnya, ketahuilah sesungguhnya keutamaan amal dan pahala ibadah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi orang-orang yang mengerjakannya dari pahala yang besar, ganjaran yang agung, serta ampunan dosa-dosa adalah pintu yang sangat penting dari pintu-pintu ilmu, bab yang penting dari bab-bab ilmu yang seharusnya dan seyogyanya seorang muslim untuk memperhatikan hal ini. Karena dengan mempelajari hadits-hadits tersebut, keutamaan-keutamaan tersebut, akan membantu seorang hamba untuk continue dalam melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, memperbanyak dan terus-menerus melakukannya.

Dan para ulama telah menuliskan tentang bab ini (keutamaan amalan) pada buku-buku yang sangat banyak sekali. Bahkan dikhususkan bab-bab tentang keutamaan-keutamaan amalan yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah baik itu yang sahih atau kitab-kitab sunan atau kitab musnad dan selainnya dari apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan diantara kitab-kitab ringkas yang ditulis dalam bab keutamaan amal adalah kitab yang ada di hadapan kita semua yang berjudul Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid (bekal bagi ahli ibadah dan hadiah bagi orang yang zuhud). Kitab ini ditulis oleh Al-Hafidz Al-Muhaddits An-Naqiq Al-Faqih Abu Muhammad Abdul ‘Adhim bin Abdul-Qawiy Al-Mundziri Asy-Syafi’i Rahimahullah.

Kitab ini ditulis oleh salah seorang ulama Syafi’iyyah  yang lahir pada tahun 581 hijriyah dan meninggal pada tahun 656 hijriyah. Penulis kitab yang agung ini juga menulis kitab lain yang terkenal, yaitu kitab At-Targhib wa Tarhib. At-Targhib wa Tarhib adalah kitab lengkap yang membahas tentang keutamaan-keutamaan amal. Juga beliau mempunyai karangan-karangan lain yang sangat bermanfaat -yang paling terkenal- diantaranya adalah Mukhtashar Shahih Muslim (ringkasan shahih Muslim), Mukhtashar Sunan Abi Dawud (ringkasan Sunan Abi Dawud), Al-Jam’u Baina Ash-Shahihain (gabungan antara dua kitab shahih), Amalul Yaum wal Lailah (amalan sehari dan semalam), juga kitab-kitab lain yang sangat bermanfaat yang ditulis oleh beliau.

Baca Juga:
Meluruskan Syubhat Tentang Penyimpangan Tauhid

Ini adalah risalah yang dikhususkan oleh penulis kitab ini tentang keutamaan-keutamaan amal. Kitab ini sangat ringkas dan beliau membaginya dengan pembagian yang sangat bermanfaat. Penulis kitab ini Rahimahullah tidak memasukkan kecuali hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka kitab ini tidak ada di dalamnya hadits-hadits yang lemah. Dan semua yang tertera dalam kitab ini adalah hadits yang shahih dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan jumlah atau keseluruhan hadits-hadits yang ada dalam risalah ini ada 89 hadits. Dan yang disepakati oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim ada 42 hadits. Adapun hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Imam Muslim ada 35 hadits dan diriwayatkan sendiri oleh Imam Al-Bukhari ada 6 hadits. Juga ada 6 hadits yang tidak terdapat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim.

Sebab Penulisan Kitab

Penulis kitab ini Rahimahullah Al-Imam Al-Mundziri menuliskan dalam pendahuluan kitab ini dan menjelaskan sebab beliau menuliskan kitab ini atau risalah ini. Yaitu bahwasanya saudara beliau (Abu Ahmad Abdul Karim) meminta kepadanya untuk mengumpulkan kitab yang ringkas tentang keutamaan-keutamaan amal shalih dan pahala yang akan didapatkan bagi orang yang melakukannya.

Maka beliaupun Rahimahullah menjawab permintaan tersebut dan menuliskan risalah ini. Dan -demi Allah- ini adalah bukti kesetiaan saudara kepada saudaranya. Karena sesungguhnya orang yang paling berhak untuk diberikan manfaat bagi orang yang mendapatkan ilmu dan pemahaman yaitu seorang berbuat baik kepada saudaranya. Dan diantara bentuk kesetiaan yang paling baik dalam sejarah yaitu apa yang dilakukan oleh Nabi Musa ‘Alaihis Salam kepada saudaranya (Nabi Harun ‘Alaihis Salam). Ketika beliau berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta saudaranya menjadi pembantunya dan bersamanya dalam urusan mengemban dakwah kenabian. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan permintaan Nabi Musa dan menjadikan Nabi Harun sebagai Nabi dan Rasul.

Kemudian beliau Hafidzhullah mengatakan bahwasanya -kemungkinan dan kita berharap- diantara berkah dan manfaat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan untuk risalah dan kitab ini yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan bagi kita untuk mempelajari kitab ini dalam kajian kajian yang diadakan oleh Radio Rodja.

Kita semua berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah memberikan balasan yang sebaik-baiknya kepada orang-orang yang bekerja, orang-orang yang menjadi penanggung jawab kegiatan ini dan yang bekerja di Radio Rodja. Yang mana dengan kajian-kajian kita ini InsyaAllah ribuan orang akan mengambil manfaat dan kita semua berharap dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah memberkahi amalan-amalan kita dan menjadikan kajian kita ini adalah pintu terbukanya kebaikan-kebaikan dan motivasi bagi orang untuk selalu rajin beramal shalih.

Baca Juga:
Ibadah Dibangun di Atas Syari'at - Bagian ke-3 - Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islami (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Kita akan memulai membaca kitab ini dan kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala taufiknya kepada kita semua.

Pembahasan Kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya yang suci. Berkata Syaikh Al-Faqih Al-Alim Al-Muhaddits Baqiyatul Hufadz Zaqiyuddin Abu Muhammad Abdul ‘Adhim bin Abdul-Qawiy Al-Mundziri Rahimahullah:

Segala puji bagi Allah yang memberi taufiq kepada amalan-amalan shalih, yang merealisasikan harapan bagi orang-orang yang berharap kepadaNya. Aku memuji kepada Allah atas segala nikmatNya baik yang sekarang maupun yang akan datang dan aku bersaksi bahwasanya tidak Ilah yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Besar, Maha Tinggi. Dan aku bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad adalah hamba dan RasulNya yang Allah selamatkan dengannya manusia dari kesesatan. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepadanya, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya yang berhak mendapatkan kebaikan.

Sesungguhnya saudaraku (Abu Ahmad Abdul Karim) -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan darinya gangguan setan yang terkutu- telah meminta kepadaku untuk mengumpulkan untuknya satu kitab yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan amal tanpa sanad agar mudah untuk dihafalkan dan mudah untuk dibaca. Maka akupun mengabulkan permintaan tersebut karena ini adalah hak yang wajib untuk ditunaikan. Juga agar menjadi motivasi untuknya -insyaAllah- agar dia terus menerus continue melaksanakan apa yang aku tulis dalam kitab ini.

Maka akupun beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan aku kumpulkan kitab ini dan aku namakan Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Dan aku jadikan kitab ini 4 bab; bab yang pertama tentang shalat, bab yang kedua tentang puasa, bab yang ketiga tentang sedekah dan bab yang keempat tentang doa dan dzikir. Dan aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kitab ini bermanfaat kepadanya juga kepada seluruh kaum muslimin. Dan semoga amal ini menjadi amal yang ikhlas yang mendekatkan kepada rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah mukadimah yang ditulis oleh penulis kitab ini Rahimahullah.

Penjelasan Mukaddimah Kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid

Penulis kitab ini Rahimahullah memulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pendahuluan yang menunjukkan tentang isi dari risalah dan tujuan ditulisnya kitab ini. Dan ini disebut -dalam istilah bahasa Arab- sebagai Baro’atul istihlal (pendahuluan yang yang baik).

Kemudian beliau memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberi taufiq kepada amal-amal shalih, yang merealisasikan harapan orang-orang yang berharap kepadaNya. Karena dengan melaksanakan amal shalih sesungguhnya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa memberikan taufiq kepada amal shalih tersebut. Dan hanya dengan bantuan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambaNya maka seseorang bisa atau mampu untuk melakukan amalan-amalan tersebut. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merealisasikan keinginan-keinginan yang diinginkan oleh hamba tersebut dan Allah akan menyampaikan apa yang diharapkan dari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Bahaya Musibah Yang Menimpa Agama - Khutbah Jum'at

Perkataan penulis kitab ini Rahimahullah, “Aku menguji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmatNya yang sekarang maupun yang akan datang.” Yaitu adalah nikmat-nikmat yang telah berlalu dan yang akan datang. Yang dimaksud di sini adalah nikmat dunia dan akhirat.

Kemudian perkataan beliau Rahimahullah, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.” Yaitu Maha Besar dalam DzatNya, dalam nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Juga Maha Tinggi dalam kedudukanNya dan kekuasaanNya.

Kemudian beliau mengatakan, “Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan RasulNya yang Allah selamatkan dengannya manusia dari kesesatan.” Allah selamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَدْ أَنزَلَ اللَّـهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا ﴿١٠﴾ رَّسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّـهِ مُبَيِّنَاتٍ لِّيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kalian peringatan Rasul. Seorang Rasul yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah yang jelas agar ia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari kegelapan menuju cahaya.” (QS. At-Talaq[56]: 10-11)

Kemudian perkataan beliau, “Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepadanya, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya.” Yaitu orang-orang yang berhak mendapatkan kebaikan karena tingginya kedudukan dan derajat mereka. Juga mereka adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang agung dan kedudukan yang tinggi dalam umat ini.

Penulis kitab ini mengatakan, “Sesungguhnya saudaraku (Abu Ahmad Abdul Karim -semoga Allah melindungi dari gangguan setan-) meminta kepadaku untuk mengumpulkan untuknya satu kitab yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan amal dan hadits-hadits yang disebutkan tanpa sanad.” Ini adalah sebab beliau menulis risalah ini. Yaitu saudaranya yang bernama Abu Ahmad Abdul Karim meminta kepadanya untuk mengumpulkan satu kitab yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan amal namun keutamaan-keutamaan tersebut dituliskan tanpa sanad.

Abdul Karim yang disebutkan oleh Al-Hafidz Abdul ‘Adzim Al-Mundziri (penulis kitab ini) meninggal pada tahun 643 hijriyah. Yaitu 13 tahun sebelum wafatnya penulis kitab ini.

Perkataan beliau, “Agar kitab ini mudah untuk dihafal dan mudah untuk dibaca.” Ini adalah faidah manfaat dituliskannya kitab-kitab yang ringkas. Karena memudahkan bagi penuntut ilmu untuk menghafalnya. Juga menghafalkan hadits-hadits yang sahih yang terkandung dalam kitab ini.

Perkataan beliau, “Maka akupun mengabulkan permintaan saudaraku. Karena ia mempunyai hak yang wajib untuk ditunaikan.” Di sini beliau menjelaskan kenapa beliau mengabulkan permintaan tersebut. Karena ini adalah hak kerabat seseorang. Dan tidak diragukan lagi bahwasannya saudara adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikan dari saudaranya.

Perkataan beliau Rahimahullah, “Dan semoga kitab ini menjadi motivasi bagi saudaraku agar ia konsisten melaksanakan apa-apa yang aku tuliskan dalam kitab ini. Yaitu dari keutamaan-keutamaan amal.” Yang dimaksud dengan mulazamah di sini ya itu konsisten melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan keutamaan-keutamaan dalam banyak hadits-hadits. Dan di sini ada peringatan bagi kita bahwasanya tujuan ilmu adalah untuk diamalkan. Dan bahwasanya seorang penuntut ilmu seyogyanya untuk selalu bersemangat ketika menuntut ilmu dan mengumpulkan ilmu agar ia benar-benar termasuk disebut sebagai penuntut ilmu. Yaitu tidak cukup sekedar yang memahami dan menghafalkannya, akan tetapi dia dituntut untuk mengamalkan ilmu tersebut. Dan juga ada peringatan bahwasanya hadits-hadits keutamaan amalan adalah salah satu penolong bagi seorang hamba untuk bersemangat melakukan amalan-amalan tersebut.

Baca Juga:
Mulia dengan Manhaj Salaf (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas - Masjid Jami' Al-Mu'min Bandar Lampung)

Maka dari itu dinasihatkan bagi setiap muslim untuk membaca kitab-kitab yang berkenaan tentang keutamaan-keutamaan amal agar ia bersemangat untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Juga agar ia menjaga dirinya, menjaga umurnya, menjaga waktunya, jangan sampai hanya habis untuk perbuatan yang sia-sia atau memperhatikan ucapan-ucapan manusia baik yang memujinya maupun yang mencelanya. Karena diantara syi’ir yang ditulis oleh penulis kitab ini Rahimahullah:

اعمل لنفسك صالحاً لا تحتفل بظهور قيل في الأنام وقال فالخلق لا يرجى اجتماع قلوبهم لا بد من مثن عليك وقال

“Beramallah untuk dirimu sendiri, lakukanlah amal shalih dan janganlah engkau sibuk dengan perkataan manusia. Karena seluruh manusia tidak mungkin untuk sepakat. Pasti ada diantara mereka yang senang dan ada yang tidak senang.”

Penulis kitab ini mengatakan “Dan kemudian aku pun beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan aku kumpulkan untuknya kitab ini dan aku beri nama Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid.” Dan judul dari kitab ini menunjukkan bahwasanya kitab ini adalah ringkasan yang cukup dan kado yang baik bagi orang yang bersemangat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan zuhud terhadap dunia dan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita mengharapkan taufikNya.

Bab Pertama Tentang Shalat

Beliau mengatakan, “Bab yang pertama yaitu tentang shalat.” Kemudian beliau menuliskan atau meriwayatkan hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya. Dan bahwasanya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Penulis kitab ini Rahimahullah memulai hadits-hadits kitab ini dengan hadits Innamal A’malu Binniyat (Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya). Beliau mencontoh para ulama dalam kitab-kitab hadits, kitab-kitab fiqih yang mereka memulai kitab-kitab tersebut dengan hadits ini. Juga peringatan dari para ulama pentingnya niat dan agungnya kedudukannya serta wajibnya bagi kita untuk menghadirkannya niat tersebut. Karena menuntut ilmu adalah termasuk ibadah yang paling agung. Bahkan Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan bahwa tidaklah seorang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah yang lebih besar seperti menuntut ilmu. Dan ibadah tidak akan diterima kecuali jika dilaksanakan ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits qudsi:

Baca Juga:
Memaksimalkan Manfaat Ibadah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Sesungguhnya Aku Dzat yang tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang ia persekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya.”

Hadits Innamal A’malu Binniyat

Hadits Innamal A’malu Binniyat artinya bahwasanya amalan-amalan itu tergantung dengan niatnya. Karena sesungguhnya yang terpenting bukanlah banyak atau sedikitnya suatu amalan. Akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana niat itu lurus. Karena jika sebuah amalan -walaupun banyak- akan tapi niatnya rusak maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerimanya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Yaitu setiap orang akan mendapatkan pahala tergantung niatnya. Apabila niatnya baik, ia akan mendapatkan ganjaran dan pahala dari amalan tersebut dan apabila niatnya tidak baik maka ia akan mendapatkan dosa dan hukuman dari perbuatan tersebut. Dan Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali orang yang melakukan amalan tersebut memperbaiki niatnya dan mengharapkan dengan niat tersebut wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan permisalan dalam hadits ini:

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan RasulNya (niat dan tujuannya untuk Allah dan RasulNya) maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya (pahala dan ganjaran yang dapatkan). Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia atau wanita yang ia ingin nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia inginkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya bahwa bagian yang ia dapatkan dari hijrahnya adalah apa yang ia niatkan dari keinginan dunia dan tidak ada yang ia dapatkan di akhirat nanti. Maka permisalan yang disebutkan di sini menjelaskan kepada kita besarnya pengaruh niat terhadap diterima atau tidak diterimanya suatu amalan.

Bab 1 – Keutamaan-Keutamaan Shalat

Penulis kitab ini Rahimahullah memulai kitab ini dengan keutamaan-keutamaan shalat. Beliau mengatakan bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ ، كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ ، مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu jum’at ke jumat berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar tidak dikerjakan.” Dalam lafadz yang lain, “Dan dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya.” (HR. Imam Muslim)

Penulis kitab ini Rahimahullah memulai kitab ini dengan keutamaan shalat. Karena shalat adalah rukun Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Islam dibangun diatas 5 perkara; persaksian bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan RasulNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji dan berpuasa pada bulan Ramadhan.

Shalat Adalah Tiang Agama

Baca Juga:
Perbedaan Antara Tahrib (penyelewengan) dan Takwil

Shalat adalah tiang agama, pembatas antara keimanan dan kekufuran, pembeda antara seorang muslim dan seorang kafir. Maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah kafir. Dan shalat dalam agama Islam mempunyai kedudukan yang sangat tinggi karena ia adalah penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala. Shalat juga adalah penyejuk mata orang-orang yang beriman, kebahagiaan bagi jiwa mereka. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ

“Dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” (HR. Ahmad)

Juga beliau pernah bersabda:

أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Istirahatkan kami dengan shalat.” (HR. Ahmad)

Juga beliau apabila menghadapi masalah yang besar, beliau bersegera untuk melakukan shalat. Maka shalat ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi juga memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat banyak dan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Shalat Penyebab Diampuni Dosa

Dan penulis kitab ini Rahimahullah mengumpulkan hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang keutamaan shalat dan besarnya pahala shalat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan beliau memulai hadits-hadits ini dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat lima waktu dari jumat ke jumat berikutnya (dan dalam riwayat lain: Ramadhan ke Ramadhan berikutnya) adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar ditinggalkan.

Ini adalah keutamaan shalat lima waktu. Bahwasanya shalat lima waktu adalah penghapus dosa dan menggugurkan kesalahan-kesalahan seorang hamba dan dengan shalat ini maka dosa-dosanya akan terhapus. Bahkan shalat adalah penyebab terbesar diampuninya dosa dan kesalahan seseorang.

Dan ketika shalat ini adalah sebab diampuninya dosa-dosa, maka meminta ampunan dalam setiap gerakan dari gerakan-gerakan shalat ini kita dapatkan. Contohnya ketika kita minta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membaca:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ،

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku..”

Baca: Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat

Simak pada menit ke-46:14

Downlod MP3 Ceramah Agama Tentang Mukaddimah Kajian Kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid (Bekal Bagi Ahli Ibadah dan Hadiah Bagi Orang Yang Zuhud)

Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Lihat Juga: Radio Streaming, Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Ceramah Lucu, Khutbah Idul Adha, Kultum, Ceramah Singkat, Shalawat, Shalat JenazahRukun IslamRukun Iman, Ziarah Kubur, Shalat Berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Belajar Bahasa Arab,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.