Telegram Rodja Official

Fiqhul Usrah / Fiqih Keluarga

Memperbaiki Diri Untuk Memperbaiki Rumah Tangga

By  | 

Memperbaiki Diri Untuk Memperbaiki Rumah Tangga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Fiqhul Usrah (Fiqih Keluarga). Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. pada hari Sabtu, 27 Dzul Hijjah 1439 H / 08 September 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Cara Mempertahankan Hubungan Rumah Tangga: Tidak Ada Yang Sempurna

Kajian Ilmiah Tentang Memperbaiki Diri Untuk Memperbaiki Rumah Tangga

Sudah dimaklumi bersama bahwa rumah tangga itu akan jadi baik dengan iman dan taqwa. Juga akan baik bila semua anggota rumah tangga meyakini ketidaksempurnaan dan juga meyakini bahwa mereka tidak akan sempurna tanpa kebersamaan, tanpa saling menutupi kelemahan dan kekurangan yang ada.

Maka tentunya kita semua yang ingin membentuk rumah tangga yang baik harus memulai langkah-langkah yang praktis, langkah-langkah yang nyata dalam memperbaiki rumah tangga yang akan kita bentuk atau sedang kita bentuk atau sudah kita bentuk. Hal ini agar nanti ada perubahan-perubahan yang bisa kita rasakan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat nanti.

Mulailah Dari Diri Sendiri

Tentunya kita ingat dengan nasihat para ulama Rahimahullahu Ta’ala bahwa kita harus memulai semua dari diri kita sendiri. Nasihat Imam Syafi’i Rahimahullah juga yang lainnya:

Baca Juga:
Makna dan Konsekuensi Syahadat Anna Muhammadan Rasulullah

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ

“Mulailah dengan diri kamu.”

Karena tidak akan menjadi baik orang lain bila kita tidak pernah berpikir untuk memperbaiki diri kita sendiri. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyampaikan doanya ‘ibadurrahman dalam surat Al-Furqan:

يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kami para istri dan anak-anak yang menunjukkan pandangan dan jadikanlah kami sebagai imam bagi kaum muttaqin.” (QS. Al-Furqan[25]: 74)

Dan imam muttaqin artinya orang yang diikuti oleh orang yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga seorang laki-laki, seorang pemimpin rumah tangga akan berusaha untuk memperbaiki dirinya sendiri sebelum memperbaiki anggota keluarganya. Karena ini menentukan perbaikan yang ada.

Teladan Nabi

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai contoh yang cukup nyata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menjadikan beliau sebagai orang yang bisa memperbaiki sebuah masyarakat, sebuah tatanan negara dan dunia, maka Allah mulai dengan pembinaan pada diri Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejak kecil. Sejak beliau masih kecil sudah dibina oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pembinaan dan penjagaan yang sangat istimewa. Dimana beliau Allah berikan fisik yang kuat, Allah berikan pembinaan di perkampungan Bani Sa’ad, beliau di didik dengan mengembalakan kambing beberapa tahun lamanya, sampai kemudian mampu untuk berdagang dengan benar dan bagus, sampai Allah jaga daripada semua bentuk kesyirikan dan bid’ah yang ada pada zaman beliau. Sampai kemudian Allah berikan kepada beliau cinta untuk menyendiri, melihat kondisi masyarakat yang demikian bubar dan rusaknya sampai  akhirnya Allah berikan kepada beliau wahyu  wahyu.

Baca Juga:
Sikap Al-Wala’ Wal Bara’ Ka'ab Bin Malik - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pendidikan yang demikian istimewa agar mampu menjadi orang yang memperbaiki orang lain menjadi lebih baik. Dan beliau mempunya misi cukup istimewa yang kata beliau:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” (HR. Imam Malik)

Ini menunjukkan bahwa seorang pendidik, seorang kepala rumah tangga, harus memulai perbaikan dalam diri dia agar dia mampu memberikan kepada orang lain. Karena ada pepatah yang mengatakan:

فاقد الشيء لا يعطيه

“Yang tidak punya apa-apa tidak bisa memberi.” Yang tidak baik tidak akan bisa memberikan kebaikan kepada orang lain.

Oleh karena itu seorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangganya memulai dengan dirinya sendiri sebelum yang lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat At-Tahrim mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, jaga diri kalian dan juga kemudian keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)

Allah mulai dengan diri kita. Kita perbaiki dulu diri kita, ketaqwaan kita, iman kita, kemudian baru memperbaiki keluarga kita agar terhindar dari api neraka. Hal ini menunjukkan dengan sangat tegas bahwa seorang yang ingin perbaiki rumah tangganya maka memulai dengan perbaikan dirinya.

Dan ini tidak hanya pada sang laki-laki. Tapi juga pada yang perempuan pun juga demikian, bila ingin berbahagia maka ia mulai juga membina dirinya. Sehingga kalau suaminya sudah membina dirinya dengan baik, lalu istrinya pun demikian, maka akan bertemu antara dua hal yang sama. Artinya orang yang bertaqwa dengan orang yang bertaqwa akan menghasilkan rumah tangga yang istimewa dan rumah tangga yang bisa menjadi contoh bagi yang lainnya.

Baca Juga:
Enam Komoditi Riba - Kitab Zadul Mustaqni (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

Oleh karena itu ajakan saya kepada para kaum muslimin wal muslimat pemirsa Rodja TV dan pendengar Radio Rodja, marilah kita memulai dengan diri kita sendiri. Kita mulai belajar tentang perbaikan diri kita, dengan tazkiyatun nufus, sebagaimana Allah katakan:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿١٠﴾

Kita harus tahu mana yang mengotori hati kita dan mana yang bisa membersihkan hati kita. Sehingga hati yang bersih akan menjadi sumber kebahagiaan bagi anggota tubuh yang lainnya. Karena istiqamahnya hati akan membuat istiqamahnya lisan dan juga akan membuat semua anggota tubuhnya juga istiqamah.

Demikian juga kita harus mengenal kembali tentang konsep Islam mengenai rumah tangga. Kita harus mengerti bahwa rumah tangga itu adalah sebuah perahu yang akan mengarungi samudra kehidupan yang demikian luasnya, dengan adanya ombak, badai dan yang lainnya. Maka orang yang akan mengendarainya tentu akan belajar bagaimana mengelola kapal tersebut. Bagaimana bila diterpa angin? Bagaimana menanganinya? Bagaimana bila ada badai? Bagaimana juga menanganinya? Bahkan bagaimana kemudian mengarahkan kapalnya agar tidak menabrak ombak yang besar sehingga bisa selamat dari pada pecah dan tenggelam. Ini semua harus dipelajari dengan baik, tentunya pengetahuan ini harus bersifat praktis sehingga bisa kita amalkan dalam hidup kita sehari-hari.

Sehingga disamping kita memperbaiki diri kita dalam artian keimanan dan ketaqwaannya, juga kita memperbaiki ilmu pengetahuan kita agar kita mengerti bagaimana menangani masalah yang ada dan bisa menangani konflik yang ada. Karena tidak ada rumah tangga kecuali disana pasti ada pertengkaran ataupun masalah.

Baca Juga:
Berhati-Hati Dari Dosa Kesyirikan dan Macam-Macam Maksiat

Oleh karena itu pengetahuan tentang konsep Islam dalam masalah pernikahan, perceraian, tanggung jawab suami dan istri merupakan bagian yang harus diketahui oleh seorang muslim yang ingin membentuk rumah tangga yang baik. Demikian juga bagi muslim yang sudah bentuk rumah tangga dan perlu perbaikan atau yang sudah sukses, maka dia perlu untuk menjaga agar rumah tangganya tetap baik dan sukses.

Maka dibutuhkan disana memulai, kemudian memperbaiki dan mempertahankan. Sehingga seseorang tidak pernah ada yang merasa aman dalam rumah tangganya akan adanya masalah. Olah karena itu ketika diumpamakan sebagai sebuah kapal dengan bagus, kemudian kita bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dan berlayar dengan baik, maka ia harus mampu mempertahankan kapal tersebut agar seimbang. Jangan sampai tidak seimbang sehingga tenggelam di lautan.

Demikian juga dalam rumah tangga. Seorang yang sudah membentuk rumah tangga dengan baik, dengan iman dan taqwa, kemudian perlu adanya perbaikan-perbaikan di mana-mana dan juga perlu menjaga agar rumah tangga tetap istiqamah di atas ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seorang muslim tidak pernah lepas dari kata “belajar”. Seorang muslim tidak pernah merasa cukup dari kata “belajar”. Selalu belajar dan belajar. Oleh karena itu kita berdo’a:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah: “Ya Rabb, Tambahkanlah ilmu padaku.” (QS. Asy-Syams[91]: 10)

Menunjukkan bahwa seorang mukmin akan terus berusaha belajar dan belajar dan belajar agar bisa bertambah ilmunya dan kemudian bertambah kemampuan dan keterampilannya untuk bisa menjalankan dan menjaga keutuhan rumah tangganya.

Baca Juga:
Bagian Tubuh Bayi yang Boleh Dihias (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Maka mulai dengan diri kita sendiri dalam perbaikan jiwa kita, memperbaiki hati kita, akhlak kita, aqidah kita, dan juga belajar pengetahuan yang berhubungan dengan fiqih keluarga dan juga tentang nasihat-nasihat para ulama yang berpengalaman, yang hidupnya bersama dalil Al-Qur’an dan sunnah dan dengan pengalaman mereka yang demikian banyak menangani permasalahan masyarakat. Ini semua akan membuat kita semakin yakin akan keindahan Islam dan semakin yakin bahwa kita mampu untuk rumah tangga idaman yang selalu kita impikan, yaitu baiti jannati (rumahku adalah surgaku).

Simak dan download mp3 kajian Islam Tentang Memperbaiki Diri Untuk Memperbaiki Rumah Tangga

Jangan lupa untuk turut serta berbagi link download ceramah Membina Rumah Tangga di media sosial yang Anda miliki, seperti facebook, twitter, atau pun yang lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan pahala berlimpah.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.