Telegram Rodja Official

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat Tentang Makna dan Nasihat Untuk Bertaqwa Kepada Allah

By  | 

Khutbah Jumat Tentang Makna dan Nasihat Untuk Bertaqwa Kepada Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 2 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 29 November 2019 H.

Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Tentang Makna dan Nasihat Untuk Bertaqwa Kepada Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Jama’ah sidang Jumat yang berbahagia.

Pertama-tama Saya berpesan untuk diri saya dan untuk para jamaah sekalian agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena taqwa adalah sebaik-baik bekal menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah taqwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)

Baca Juga:
Peristiwa Isra' Mi'raj

Kemudian kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan banyak-banyak memujiNya atas segala nikmat dan karunia yang Allah limpahkan kepada kita semua. Teramat banyak nikmat-nikmat yang telah kita terima namun sangat sedikit syukur yang telah kita berikan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menggolongkan kita sebagai hamba-hamba yang bersyukur. Walaupun kita menyadari bahwa syukur kita tidak akan mampu untuk menebus semua nikmat yang telah kita terima. Namun Allah berjanji akan menambah nikmat-nikmat itu untuk kita jika kita mensyukurinya.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Jika kamu bersyukur, maka Aku akan tambah nikmat-nikmatKu untuk kamu.” (QS. Ibrahim[14]: 7)

Dan tentunya hamba yang bersyukur itu sedikit.

…وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ﴿١٣﴾

“…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba'[34]: 13)

Mudah-mudahan kita termasuk hamba yang sedikit itu. Dan cara kita mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jama’ah, kaum muslimin yang dimuliakan Allah..

Didalam Al-Qur’an, dalam ayat yang kita bacakan tadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah.”

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Dan hendaklah tiap-tiap orang memperhatikan bekal apa yang akan dibawa untuk hari esoknya.”

وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr[59]: 18)

Didalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bertaqwa. Dua kali perintah, di awal ayat dan di penghujung ayat. “Bertakwalah kamu kepada Allah”, ini merupakan pesan yang terbaik yang disampaikan oleh seorang muslim kepada muslim lainnya. Apabila saudara kita minta nasihat kepada kita, maka wajib bagi kita untuk menasihatinya.

Baca Juga:
Dalil Bahwa Al-Qur'an Kalamullah Dan Bukan Makhluk Bagian 2 - Kitab Al-Ibanah

وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu meminta nasihat, maka nasihatilah dia.” (HR. Muslim)

Kalaulah berat kita menyampaikan nasihat yang panjang, maka cukup bagi kita berkata kepadanya, “Ya Fulan, Ittaqillah (Wahai Fulan, bertakwalah kamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)”

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyampaikan pesan taqwa ini kepada NabiNya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ…

Wahai Nabi, bertaqwalah kamu kepada Allah...” (QS. Al-Ahzab[33]: 1)

Demikian pula Nabi berpesan kepada kita semua di dalam sabda beliau:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan iringilah keburukan itu dengan kebaikan niscaya akan menghapusnya, dan bergaullah kamu kepada manusia dengan akhlak mulia.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits ini Nabi berpesan kepada umatnya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pesan taqwa ini adalah pesan yang paling banyak kita dapatkan di dalam Al-Qur’an. Diantaranya ayat yang sering kita baca:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.” (QS. Ali-Imran[3]: 102)

Sebenar-benar taqwa mengandung tiga makna:

Pertama, sebenar-benar taqwa seperti yang dikatakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

 “Bertaqwa kamu kepada Allah dimanapun kamu berada.”

Yaitu bertaqwa kepada Allah pada saat kita sedang sendirian maupun ditengah keramaian. Ketika kita seorang diri maupun kita berada di tengah-tengah sahabat-sahabat/teman-teman kita. Inilah hakikat taqwa yang sebenar-benarnya. Taqwa tanpa memandang tempat dan kondisi, dimanapun kita berada, baik ada yang memantau dan melihat kita maupun tidak ada yang melihat dan memantau kita, kita tetap menjaga taqwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Dampak Buruk Dosa

Itulah makna حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa).

Kedua, حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa) juga bermakna bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apapun kondisinya. Baik pada saat suka maupun duka, pada saat lapang maupun sempit, pada saat kaya maupun miskin. Bagaimanapun keadaannya kita tetap mempertahankan taqwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak hanya bertaqwa pada saat senang, tapi kita lupa taqwa pada saat susah. Atau sebaliknya, kita bertaqwa kepada Allah pada saat susah tapi kita lupa kepadaNya pada saat senang.

حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa) itu bertakwa kepada Allah, menjaga hukum-hukum Allah, agama Allah, menjaga halal dan haram, baik pada saat kita senang maupun susah, lapang maupun sempit, miskin maupun kaya. Di sana ada sebagian orang yang bertakwa kepada Allah hanya pada saat-saat dia lapang. Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan usaha dan urusannya, maka diapun bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kesempitan, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan sebagian rezekinya, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mencobanya dengan musibah dan kesulitan, maka taqwanya pun hilang. Atau sebaliknya, ketika dia diuji dengan kesulitan, ketika dia diuji dengan kesempitan, ketika dia diuji dengan kemiskinan, dia bertakwa kepada Allah. Dia rajin ke masjid, bolak-balik, mondar-mandir berdoa kepada Allah, merintih sambil menangis, itu waktu sempit. Tapi ketika Allah beri kelapangan, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kekayaan, Allah gelontorkan rezeki dan nikmat kepadanya, dia lupa. Dia lupa masjid, dia lupa ketaatan, dia lupa segala amal shalih yang dia lakukan dahulu waktu dia miskin. Dia lupa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal waktu miskin dulu dia rajin berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nah, sekarang dia sudah kayak dia lupa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Barang Siapa Merusak Sesuatu Apakah Harus Menggantinya?

Maka حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa) adalah taqwa yang tetap kita jaga bagaimanapun keadaan kita. Saat kita susah maupun senang, lapang maupun sempit, tanpa pandang bulu.

Ketiga, makna حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa) adalah taqwa kepada Allah tanpa pamrih. Bukan karena pujian, sanjungan, apresiasi, komentar manusia. Bukan karena apa kata manusia atau apa kata dunia. Tapi dia bertakwa kepada Allah murni Lillahi Ta’ala, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan pujian, sanjungan ataupun apresiasi komentar manusia. Sebagian orang ketika sepi komentar dari manusia, maka diapun melemah, maka dia pun meninggalkan ketaatan dan amal shalihnya. Tapi ketika mendapat pujian, ketika dia mendapat apresiasi, komentar dari manusia, maka diapun semangat mengerjakan amal-amal kebaikan. Taqwanya hanya karena pamrih manusia.

Maka حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa) itu adalah bertakwa kepada Allah tanpa pamrih. Baik ada yang mengomentari kita ataupun tidak, baik ada yang memuji kita ataupun tidak, baik ada yang memberikan sanjungan kepada kita maupun tidak, kita tetap menjaga dan mempertahankan taqwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah makna dari حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa). Ayat yang mungkin sering kita baca, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa.”

Itulah makna dari حَقَّ تُقَاتِهِ (sebenar-benar taqwa).

فَاعْتَبِرُوا يَا أولى النّهى

Khutbah kedua – Khutbah Jumat Tentang Makna dan Nasihat Untuk Bertaqwa Kepada Allah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Baca Juga:
Tiga Wasiat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Para jamaah kau muslimin yang dimuliakan Allah..

Taqwa ini adalah sebaik-baik bekal kita untuk menghadapi alam-alam berikutnya. Taqwa inilah yang menjaga kita. Karena hakikat taqwa itu adalah menjaga agama Allah, batasan-batasan Allah, halal haram, perintah dan larangan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah bahwa taqwa kepada Allah itu diwujudkan dengan tiga hal:

Pertama, engkau beribadah kepada Allah, beramal, berbuat, maka tidak mungkin taqwa dengan berpangku tangan, tidak mungkin taqwa hanya dengan menganggur, tidak beribadah, tidak beramal shalih.

Kedua, dengan bimbingan cahaya ilmu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu bahwa taqwa identik dengan ilmu. Tidak dikatakan taqwa orang yang menjauh dari ilmu. Orang yang malas menuntut ilmu tidak bisa dikatakan dia orang yang bertaqwa.

Ketiga, semata-mata karena kamu takut kepada adzab Allah, yaitu dengan niat yang ikhlas. Dengan mengikhlaskan ketaatan-ketaatan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah definisi taqwa yang terbaik yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Terangkum padanya tiga perkara, yaitu amal ibadah, ilmu dan keikhlasan kita di dalam mengerjakan seluruh amal-amal shalih tersebut.

Demikianlah mudah-mudahan kita menjadi hamba yang beruntung pada hari kiamat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkan ke dalam surga yang luas yang lebarnya selebar langit dan bumi.

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 “Disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dan hanya orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan kesudahan yang baik.

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Kesudahan yang baik (happy ending), hanyalah milik orang-orang yang bertaqwa.

Tentunya kita ingin bahagia di akhir, bukan bahagia di awal tapi menderita dan sengsara di akhir. Kita ingin bahagia tanpa batas, dunia dan akhirat. Baik di alam dunia maupun alam-alam selanjutnya yang jauh lebih panjang. Alam barzakh, alam akhirat yang tentunya masanya lebih panjang daripada alam dunia.

Baca Juga:
Kewajiban Mensyukuri Nikmat Sehat - Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Kita ingin bahagia yang hakiki, bahagia tanpa batas yang tidak terbatas dengan kematian. Itulah bahagia yang dimiliki oleh orang-orang yang bertaqwa. Hanya orang aneh bertaqwa yang akan mendapatkan kenikmatan yang hakiki dan abadi.

Demikianlah mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua hamba-hamba yang tetap menjaga ketaqwaan kita kepadaNya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

  اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

اللهم تقبل أعمالنا يا رب العالمين، اللهم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم، اللهم اصلح ولاة أمورنا يا رب العالمين، واجعلنا من التوابين واجعلنا من المتطهرين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Makna dan Nasihat Untuk Bertaqwa Kepada Allah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.