Telegram Rodja Official

Kifayatul Muta'abbid wa Tuhfatul Mutazahhid

Doa Setelah Shalat Beserta Keutamaannya

By  |  pukul 10:32 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 03 Januari 2020 pukul 3:29 pm

Tautan: https://rodja.id/2jd

Doa Setelah Shalat Beserta Keutamaannya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 12 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 09 Desember 2019 M.

Pembahasan halaman 220 pada kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Download mp3 kajian sebelumnya: Keutamaan Dzikir Pagi Petang dan Doa Setelah Adzan

Kajian Islam Ilmiah Tentang Doa Setelah Shalat Beserta Keutamaannya

Tsauban meriwayatkan bahwasannya apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selesai dari shalatnya, beliau beristighfar tiga kali kemudian membaca:

اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلالِ والإكْرَامِ

Berkata Al-Walid, “Aku bertanya kepada Al-Auza’i, ‘Bagaimana cara beristighfar?’ Beliau mengatakan, “Astaghfirullah, Astaghfirullah..” (HR. Muslim)

Penjelasan Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Dalam sunnah, tertera banyak doa-doa dan dzikir-dzikir yang dibaca setelah salam. Dan seyogyanya bagi setiap muslim untuk berusaha membaca doa-doa tersebut. Karena pada dzikir-dzikir dan doa-doa tersebut ada kebaikan, ada berkah, ada keselamatan, ada penjagaan, ada kesempurnaan. Dan semua hal tersebut tidak akan didapatkan kecuali dari petunjuk Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan membaca istighfar tiga kali setelah salam adalah sangat pas untuk dibaca diwaktu tersebut. Karena bagaimanapun seseorang berusaha untuk menyempurnakan shalatnya, untuk khusyu’ dalam shalatnya, untuk melaksanakan shalat tersebut dengan sesempurna mungkin, pasti akan terjadi kelalaian, pasti ada kekurangan dalam ibadah shalat tersebut. Maka disunahkan seorang untuk beristighfar tiga kali dan diharapkan dari istigfar tersebut setelah shalat akan menjadi pelengkap dari kekurangan yang ada pada ibadah shalat tersebut.

Doa اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ (Ya Allah Engkau adalah Maha Sejahtera). As-Salam adalah nama dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dialah Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia yang memiliki kekuasaan yang Maha Suci dan Maha Sejahtera.” (QS. Al-Hasyr[59]: 23)

Dan arti dari salam adalah “yang disucikan” Maka As-Salam ini termasuk nama-nama yang artinya mensucikan Allah ‘Azza wa Jalla seperti nama As-Subbuh dan nama Al-Quddus, artinya semua yang Maha Suci. Maka nama-nama ini maksudnya adalah mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala aib dan kekurangan dan mensucikan Allah dari segala yang tidak pantas bagi Allah ‘Azza wa Jalla juga mensucikan Allah dari disamakan dengan makhluk-makhlukNya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Allah ‘Azza wa Jall dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)

Baca Juga:
Makna Istighfar - Fiqih Do'a dan Dzikir (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Juga firman Allah Ta’ala:

رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا ﴿٦٥﴾

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah hanya kepadaNya dan bersabarlah dalam beribadah kepadaNya. Hal apakah engkau mengetahui ada yang sama denganNya?” (QS. Maryam[19]: 65)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿١٨٠﴾ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ﴿١٨١﴾ وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٨٢﴾

Maha Suci Engkau wahai Tuhanku, Rabb yang Maha Perkasa dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan bagi para Rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. As-Shaffat[37]: 180-182)

Doa وَمِنْكَ السَّلاَمُ (Dan dariMu keselamatan). Yaitu semua keselamatan dari kebinasaan, maka datangnya dari Allah saja. Dan ini berarti bahwa hanya dari Allah saja keselamatan. Tidak ada keselamatan untuk hamba dari segala keburukan dan kebinasaan kecuali karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Ucapan تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلالِ والإكْرَامِ (Maha Tinggi Engkau wahai Yang Maha Perkasa, Maha Agung dan Maha Mulia). Maksudnya adalah Maha Tinggi Engkau Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Dan dua sifat ini adalah sifat pengagungan untuk Allah ‘Azza wa Jalla yang menunjukkan luhurnya dan agungnya sifat-sifat Allah Jalla wa ‘Ala, juga menunjukkan kesempurnaanNya dan banyaknya nikmat serta karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla. Karena kata Al-Jalal menunjukkan agungnya sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun Al-Ikram maksudnya menunjukkan banyaknya nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunjukkan kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka seorang ketika mengucapkan hal tersebut dia mengingat keagungan Tuhannya dan banyaknya karunia Allah Jalla wa ‘Ala.

Penulis kitab ini Raihimahullah mengatakan: Dan sahabat Mughirah bin Syu’bah meriwayatkan bahwasannya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila selesai shalat beliau membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kerajaan, milikNya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi dari apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan dari apa yang Engkau halangi, dan tidak akan bermanfaat kekayaan orang yang kaya di hadapanMu sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam لَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ -dengan memfatkhakhkan jim-, artinya tidak akan bermanfaat pemilik kekayaan, karena dariMu segala kekayaan. Yang bermanfaat bagi seseorang hanyalah beramal, malaksanakan ketaatan kepadaMu.

Baca Juga:
Larangan Meminta-minta kepada Manusia - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Sebagian ulama mengatakan الجد والبخت artinya yaitu bagian. Dan sebagian meriwayatkan dengan mengkasrahkan huruf jim dan mengartikannya semangat untuk melaksanakan sesuatu. Dan hal ini diingkari oleh Abu Ubaid.

Penjelasan Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ adalah kalimat tauhid. Yang karena dengannya lah tegak langit dan bumi, dan kalimat tauhid ini adalah kalimat yang paling mulia, kalimat yang paling tinggi, dan dzikir yang paling utama.

Dan telah shahih dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani)

Laa Ilaaha Illallah adalah cabang iman yang paling tinggi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ -أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ- شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Imam mempunyai lebih dari 70 cabang -atau lebih dari 60 cabang- dan cabang yang paling tinggi adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu adalah bagian dari keimanan.” (HR. Muslim)

Dan lafadz ini dikumpulkan dalam ucapan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dikumpulkan dalam lafadz-lafadz ini antara kalimat tauhid dan penegasan makna dan arti dari kalimat tauhid serta penyebutan sebagian dari bukti-bukti dari tauhid tersebut. Karena Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat tauhid yang dibangun di atas dua rukun; peniadaan dan penetapan. Peniadaan yaitu maksudnya peniadaan segala hak ibadah dari semua yang selain Allah ‘Azza wa Jalla dan penetapan hak disembah dengan segala bentuknya hanya kepada Allah saja.

Adapun وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ “Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya” Ini adalah penegaskan tentang 2 rukun tauhid tersebut. Karena ucapan “Yang Esa” adalah penegasan untuk penetapan. Adapun ucapkanlah لَا شَرِيكَ لَهُ adalah penegasan untuk peniadaan.

Adapun لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (Baginya segala kerajaan, segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Ini adalah bukti-bukti tauhid dan dalil-dalil wajibnya kita mengikhlaskan segala ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwasanya Allah adalah Dzat yang berhak disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Miliknyalah segala kerajaan dan segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Adapun اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ (Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau halangi.) Maksudnya adalah segala urusan dan segala perkara di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.

Baca Juga:
Mukaddimah Pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (Pelajaran-Pelajaran Penting untuk Segenap Umat)

Dialah yang memberi, Dialah yang menghalangi, Dialah yang menurunkan, Dialah yang mengangkat, Dialah yang menyempitkan, Dialah yang melebarkan dan meluaskan, Dialah yang memuliakan, menghinakan, menghidupkan, mematikan, membuat tertawa, membuat menangis, apa yang Allah berikan kepada seseorang maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi pemberian Allah ‘Azza wa Jalla dan apa yang dihalangi oleh Allah ‘Azza wa Jalla maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikan kepadanya. Allah berfirman:

مَّا يَفْتَحِ اللَّـهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢﴾

Apa yang Allah buka untuk manusia dari rahmatNya, maka tidak ada yang dapat menghalanginya, dan apa yang Allah tahan dari rahmatNya, maka tidak ada yang dapat melepaskannya dan meluaskan setelah itu, Dialah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir[35]: 2)

Maka segala urusan di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Setiap hari Allah mempunyai urusan dan kesibukan.” (QS. Ar-Rahman[55]: 29)

Allah menghidupkan, Allah mematikan, Allah memuliakan, Allah menghinakan, Allah menyempitkan, Allah meluaskan. Dan segala perkara di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan seluruh makhluk di bawah kekuasaan dan aturan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka ketika seorang hamba membaca kalimat ini dengan memahami maknanya, memahami maksudnya, maka hal tersebut akan menguatkan rasa tawakal dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keyakinan dia kepadaNya semakin kuat.

Ucapan ذَا الْجَدِّ (bagian dan nasib). Adapun arti atau makna dari لَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (Tidak bermanfaat pemilik kekayaan dariMu segala kekayaan). Artinya tidak bermanfaat harta seseorang karena dari Allah lah segala harta kekayaan. Dan yang akan bermanfaat bagi seorang hamba adalah ketaatan dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan ibadah-ibadah yang dia lakukan karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya.

Adapun harta, kedudukan, jabatan, semua ini tidak bermanfaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَـٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ ﴿٣٧﴾

Bukanlah harta-harta dan anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami kecuali orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang mereka kerjakan dan mereka di kamar-kamar yang tinggi di surga dalam keadaan aman dan sentosa.” (QS. Saba[34]: 37)

Maka harta seseorang, kedudukan jabatan dan selainnya dari perkara-perkara dunia tidaklah mendekatkan dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya yang mendekatkan seseorang kepada Allah adalah tauhid dan keikhlasan dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits disebutkan:

Baca Juga:
Fenomena Akhir Zaman: Munculnya Dajjal (Bagian ke-2) - Kitab Asyrathus Sa'ah (Ustadz Abu Haidar As-Sundawy)

مَنْ أَبَطْأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lambat karena amalannya maka nasabnya tidak akan membuat dia cepat.”

Pemirsa dan pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian penulis kitab ini Rahimahullah mengatakan, “Dan ‘Atha bin Zaid Al-Laitsi meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ ، وَقَالَ : تَمَامَ الْمِائَةِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat 33 kali, bertahmid kepada Allah 33 kali, bertakbir 33 kali, maka jumlahnya 99 dan ia menyempurnakan 100 dengan mengucapkan, “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)

Dan sama dengan makna hadits ini dari riwayat Abu Shalih dari riwayat Abu Hurairah.

Penjelasan Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Penulis kitab ini Rahimahullah menyebutkan hadits ini dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu yang mana ada dzikir-dzikir yang sangat agung dan kalimat-kalimat yang penuh berkah yang barangsiapa membaca doa-doa dan dzikir tersebut akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.

Maka dianjurkan bagi setiap muslim untuk menjaga dzikir-dzikir ini dan berusaha segera membacanya setiap selesai shalat. Karena hal tersebut akan menjadi penyebab diampuni dosa-dosanya dan dihapuskan segala kesalahan-kesalahan meskipun sebanyak buih di lautan. Dan dzikir ini tidak mengambil waktu kecuali sedikit. Dan walaupun waktunya sedikit akan tetapi pahala yang dihasilkan dari dzikir-dzikir ini sangat besar sekali. Dan meskipun demikian banyak dari manusia begitu selesai salam dia langsung berdiri dan keluar untuk melaksanakan kembali pekerjaan dunianya.

Dzikir سبحان الله adalah pensucian Allah ‘Azza wa Jalla dari segala aib dan kekurangan dan dari segala yang tidak sesuai dan tidak pantas bagi kemuliaan dan ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla. Juga pensucian bagi Allah dari disamakan dengan makhluk-makhlukNya. Allah berfirman:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿١٨٠﴾ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ﴿١٨١﴾ وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٨٢﴾

Maha suci Tuhanmu, tuhan yang Maha Mulia dari apa yang mereka katakan dan keselamatan dan kesejahteraan bagi para Rasul dan segala puji bagi Tuhan semesta alam.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 180-182)

Juga firman Allah:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَـٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ

Dan mereka mengatakan Allah yang Maha Rahman mengambil anak, Maha Suci Allah dari perkara tersebut.” (QS. Al-Anbiya[21]: 26)

Baca Juga:
Perintah Mengajak Keluarga Untuk Shalat

Adapun dzikir الله أكبر adalah kalimat pengagungan untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan keimanan bahwasanya Allah yang Maha Besar, yang Maha Tinggi dan tidak ada yang lebih besar dari Allah ‘Azza wa Jalla. Maka ketika seorang muslim mengulang-ulangi dzikir, “Allahuakbar, Allahuakbar” dengan mengagungkan Tuhannya, maka akan jatuh dari hatinya semua perkara-perkara yang diagungkan. Maka dzikir ini dapat mengobati hati dan menguatkan hubungannya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Dzikir الحمد لله ini adalah kalimat pujian yang disertai rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka dzikir ini mengandung pujian kepada Allah atas nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat yang luhur, juga pujian kepada Allah atas segala nikmat dan karuniaNya yang sangat banyak.

Maka sunnah yang dianjurkan oleh Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam dzikir-dzikir ini juga selainnya yang butuh untuk dihitung, maka dzikir-dzikir tersebut dihitung dengan jari-jari tangan sebagaimana petunjuk Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena dahulu dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ditemukan manik-manik dan sangat mudah untuk dibuat kalung tasbih dan digunakan untuk menghitung dzikir-dzikir tersebut. Akan tetapi hal tersebut tidak dilakukan oleh Nabi kita ‘Alaihis Shalatu was Salam juga beliau tidak menganjurkan dan tidak menyuruh orang untuk melakukannya. Maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena telah datang dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau mengatakan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ بِيَمِينِهِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghitung tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Dawud 1502, Tirmidzi 3410, dishahihkan Al-Albani)

Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

وَاعْقِدْنَ -أي التَّسبيح- بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ

“Hitunglah tasbih kalian dengan jari-jari, karena sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya dan akan bisa berbicara.” (HR. Abu Dawud 1501, Tirmidzi 3583, dihasankan Al-Albani)

Sunnahnya adalah bertasbih dengan tangan, sebagai bentuk mengikuti petunjuk Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Para pemirsa dan pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian penulis kitab ini Rahimahullah mengatakan, “Dan sahabat Abdullah bin Zubair meriwayatkan bahwasannya dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap selesai shalat ketika bersalam langsung membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، [لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ]، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَالْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. قَالَ :وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kekuasaan segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepadaNya, milikNya segala nikmat segala karunia dan segala pujian yang baik, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dengan mengikhlaskan segala ibadah hanya kepadaNya walaupun orang-orang kafir benci. Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertahlil dengan tiga tahlil ini setiap selesai shalat.” (HR. Muslim)

Baca Juga:
Cara Meningkatkan Iman Adalah Dengan Ilmu

Penjelasan Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Ini adalah tiga tahlil. Yang pertama:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tahlil yang kedua:

[لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ]، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَالْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ

Adapun tahlil yang ketiga:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka setiap tahlil diikuti dengan penegasan tauhid juga penetapan makna dari tauhid serta penegakan bukti-bukti tauhid.

Tahlil yang pertama diikuti dengan ucapan وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ (Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagiNya). Ini adalah penegasan dari makna tauhid. Kemudian ucapan لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (MilikNya segala kekuasaan, segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), ini adalah bukti-bukti wajibnya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah.

Adapun tahlil yang kedua diikuti dengan ucapan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ (Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan kita tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya). Maka kita tidak beribadah dan tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya, ini adalah tauhid. Dan ucapan لَهُ النِّعْمَةُ وَالْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ (MilikNya segala nikmat, segala karunia, segala pujian yang baik), ini adalah bukti-bukti dan dalil-dalil wajibnya kita mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah dan wajibnya kita mengikhlaskan agama hanya kepadaNya.

Simak pada menit ke-38:05

Downlod MP3 Ceramah Agama Tentang Doa Setelah Shalat Beserta Keutamaannya

Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Pencarian: Doa setelah shalat fardhu, mp3 doa setelah shalat, dzikir dan doa setelah shalat, dzikir dan doa setelah shalat fardhu, bacaan doa setelah shalat, doa sesudah shalat fardhu lengkap

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.