Telegram Rodja Official

Nasihat-Nasihat Para Sahabat

Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

By  |  pukul 4:25 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 20 Maret 2020 pukul 8:15 pm

Tautan: https://rodja.id/2la

Nikmat Sehat Dan Waktu Luang merupakan  bagian dari kajian Islam ilmiah Nasihat-Nasihat Para Sahabat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 17 Shafar 1441 H / 16 Oktober 2019 M.

Kajian Tentang Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

Kita melanjutkan tentang nasihat-nasihat dan wejangan-wejangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di sini beliau membawakan tentang kesempatan-kesempatan beramal. Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

“Ada dua nikmat yang tertipu padanya banyak manusia.”

Dimana dua nikmat ini sangat berharga sekali, tidak bisa diganti dengan harta yang banyak. Apa itu?

الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“kesehatan, waktu luang.” (HR. Bukhari)

Penjelasan hadits:

Kata penulis buku ini, yaitu hendaknya membuat kita memperhatikan dua nikmat dari nikmat Allah kepada manusia. Dimana jarang orang memperhatikan, mempergunakan dan menyadari tentang dua perkara ini. Sedikit orang yang berusaha mengambil manfaat dari dua nikmat tersebut.

1. Kesehatan

Manusia tidak lepas antara dia sehat atau sakit. Dan kita baru merasakan nikmatnya sehat itu saat kita sakit. Disaat itu baru kita merasa menyesal. Sakit itu adalah salah satu penghalang besar yang menyebabkan seseorang terhalang dari amal. Baik itu amal tersebut sifatnya agama maupun sifatnya duniawi. Dengan adanya sakit, apalagi sakit keras, kita tidak bisa beramal.

Baca Juga:
Kewajiban Taat Kepada Pemerintah (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Oleh karena itulah, saat kita diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kesehatan, ini merupakan nikmat yang besar sekali. Maka hendaknya orang yang berakal berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil faedah ketika dia sehat itu. Dia berusaha menggunakan kesehatan itu untuk hal yang bermanfaat, yang bisa menghasilkan pahala besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai perbekalan ia menuju kehidupan akhiratnya.

Maka hendaklah ia bersegera untuk menggunakan kesehatannya itu dengan segala kesungguhannya. Supaya dia betul-betul beruntung dimasa sehatnya tersebut.

Kesehatan ini memang -Subhanallah- kenikmatan yang luar biasa sekali. Namun sayang sekali disaat sehat itulah kita banyak tertipu. Disaat sehat kita lebih banyak menghabiskan waktu-waktu kita untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Untuk ngobrol, jalan-jalan ke sana ke mari yang terkadang tidak ada manfaatnya, atau mencari hiburan-hiburan yang ternyata bahkan hiburan itu bisa merusak keimanannya.

Maka siapa yang menyia-nyiakan ketika waktu sehatnya tersebut dengan melakukan perbuatan sia-sia, apalagi na’udzubillah jika perbuatan itu adalah perbuatan maksiat, maka sungguh orang sudah tertipu, dimana dia sudah menjual sesuatu yang sangat mahal dengan harga yang murah. Karena kesehatan itu mahal, tapi kemudian ia jual dengan sesuatu yang murah, dengan perbuatan yang sia-sia. Padahal ketika dia sakit baru dia sadar bahwa waktu sehat itu mahal sekali, tidak bisa dibeli dengan harta. Tapi kenapa ketika kita sehat kita malah sia-siakan begitu saja, tidak ada manfaatnya. Akhirnya kita jual kesehatan dengan harga yang sangat murah sekali.

Baca Juga:
Khutbah Idul Adha: Hikmah Qurban - Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

2. Waktu Luang

Ketika -misalnya- kita liburan atau ada kesempatan yang kita kosong di situ, ini adalah merupakan waktu yang sangat mahal. kalau kita ternyata habiskan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya, sangat sayang sekali.

Yang dimaksud dengan الفراغ di sini adalah waktu yang lewat dan tidak ada kesibukan di situ. Dimana waktu seperti ini sangat mahal, tidak bisa dihargai dengan harta. Maka kalau digunakan waktu-waktu yang luang tersebut untuk kebaikan, untuk beramal shalih, untuk ketaatan, untuk hal-hal yang sifatnya memang berpahala untuk hidup kita dan manfaat untuk diri kita dunia dan akhirat kita, maka ini orang beruntung. Kalau ternyata ia biarkan waktu itu berjalan tanpa ia gunakan dalam perkara yang berfaedah, sudah ia sudah membunuh waktunya sendiri. Apalagi kalau ternyata ia lewatkan waktu itu untuk hal-hal yang bathil. Sungguh ini orang yang sangat tertipu sekali.

Maka waktu itu adalah kehidupan kita. Waktu adalah sesuatu yang paling mahal dari apa yang kita miliki. Karena waktu itu sangat mahal, tidak bisa dibeli dengan harta, maka hendaknya digunakan dengan perkara yang lebih mahal dari harta, yaitu amalan yang sifatnya manfaat untuk dunia dan akhirat kita.

Sekali lagi, waktu tidak bisa dibeli oleh harta. Kalau ternyata kita gunakan untuk perkara yang lebih rendah dari harta, sayang. Karena waktu itu lebih mahal dari harta. Maka kalau begitu gunakan dalam perkara lebih mahal dari harta. Menuntut ilmu, beramal shalih, berbuat kebaikan, melakukan manfaat yang sifatnya maslahat untuk dunia maupun akhirat kita.

Baca Juga:
Bermuamalah dengan Jujur, Amanah dan Selalu Memberi Nasihat

Dimana seorang ulama yang bernama Ibnu Hubairah menulis sebuah syair yang indah tentang pentingnya waktu. Kata beliau: “Waktu sangat mahal sekali untuk kamu betul-betul jaga. Namun ternyata aku lihat, sangat mudah sekali untuk kita untuk menyia-nyiakan waktu tersebut.”

Iya, betul sekali saudaraku sekalian. Kita sangat mudah sekali untuk tidak memanfaatkan waktu. Karena memang kita punya syahwat, kita seringkali tergoda oleh syahwat duniawiyah. Dan syahwat itu sesuatu yang disukai oleh diri kita dan hawa nafsu kita. Tapi orang yang berakal dan berpikir, saat ia berpikir, “buat apa saya mengikuti syahwat, tidak ada manfaatnya, tidak ada pahalanya, bahkan yang ada adalah dosa, menyeret kepada maksiat dan yang lainnya, bukankah saya melakukan hal-hal yang bermanfaat?” Maka ini butuh kepada kekuatan, membutuhkan untuk berjihad melawan hawa nafsu.

Dimana kalau kita perhatikan para Salafush Shalih (para ulama terdahulu), mereka betul-betul menyadari tentang pentingnya waktu itu. Maka mereka pun menjelaskan kepada manusia tentang penting sekali masalah menggunakan waktu ini. Jangan disia-siakan.

Ini dia Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai anak Adam, engkau ini tiada lain adalah hari-harimu. Jika satu hari pergi, maka telah pergi sebagian dari dirimu.” MasyaAllah..

Al-Hasan Al-Bashri juga berkata bahwa jangan kamu lakukan taswif (menunda-nunda/mengatakan nanti). Kamu sekarang ada dihari ini, bukan dihari esok. Karena hari esok belum tentu datang. Kalau hari esok datang, Alhamdulillah masih ada. Dan ternyata hari ini kita bisa menggunakan sebaik mungkin, insyaAllah besok pun kita bisa melakukan dan menggunakan waktu sebaik mungkin. Tapi kalau hari esok sudah tidak ada lagi, ajal kita sudah selesai, maka kita pun tidak akan menyesal -insyaAllah- jika kita menggunakan waktu hari ini dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:
Perbedaan Antara Tahrib (penyelewengan) dan Takwil

Oleh karen itu, rugi sekali orang yang hanya sebatas duduk di mall-mall, duduk di pinggir jalan melihat sana-sini tidak ada manfaatnya, orang yang habis waktunya untuk obrolan-obrolan yang tidak ada manfaatnya, sangat merugi sekali, saudaraku. Dia habiskan waktu-waktu dia yang sangat mahal itu untuk hal-hal rendahan dan sesuatu perkara yang remeh.

Berkata juga Al-Hasan Al-Bashri: “Aku mendapati kaum-kaum mereka sangat pelit terhadap waktu dan umurnya, lebih pelit daripada uangnya.” Kalau pelit harta itu tercela, tapi kalau pelit waktu, ini bagus. Kita tidak ingin waktu kita hilang sia-sia begitu saja. Maka kalau kita pelit dalam dalam masalah waktu, tidak ingin ada satu waktu pun pergi percuma tanpa ada manfaat dan faedah, maka kita sudah diatas perkara kebaikan.

Berkata juga Umar bin Abdul ‘Aziz (seorang khalifah yang sangat adil): “Sesungguhnya yang tersisa dari umur tidak bisa dihargai karena saking mahalnya. Bahkan kalau kamu kumpulkan dunia seluruhnya, maka itu sama sekali tidak bisa dihargai dengan satu hari yang tersisa dari umur. Maka jangan kamu jual hari ini yang merupakan kesempatanmu yang paling baik dengan harga yang rendah. Maka jangan sampai yang dikuburkan lebih besar pengagungannya terhadap apa yang ada ditanganmu dari kamu sementara ia adalah milikmu.”

Maka saudaraku, sesuatu yang ada pada diri kita sangat mahal sekali berupa waktu. Maka dari itu, hargailah waktu-waktu kita di dalam kesempatan-kesempatan hidup kita ini. Satu detik lewat, satu menit lewat, tapi setiap detik-detiknya, setiap menit-menitnya, setiap jam-jamnya, ingat itu akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala nanti pada hari kiamat. Dihari kiamat kita akan ditanya oleh Allah:

Baca Juga:
Hukum Menggambar Dalam Islam

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ

“Senantiasa seorang hamba terus berdiri pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang 4 perkara; (salah satunya) tentang umur/waktunya untuk apa ia habiskan?”
Mari simak penjelasan yang penuh manfaat ini pada menit ke-17:11

Download mp3 Kajian Tentang Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 55 = 58

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.