Telegram Rodja Official

Nasihat-Nasihat Para Sahabat

Macam-Macam Sedekah dan Perkara-Perkara Yang Mulia

By  |  pukul 9:34 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 01 April 2020 pukul 9:34 am

Tautan: https://rodja.id/2lh

Macam-Macam Sedekah dan Perkara-Perkara Yang Mulia merupakan  bagian dari kajian Islam ilmiah Nasihat-Nasihat Para Sahabat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 4 Jumadal Akhirah 1441 H / 29 Januari 2020 M.

Kajian Tentang Macam-Macam Sedekah dan Perkara-Perkara Yang Mulia

Ketahuilah saudaraku, bahwa sedekah lebih umum atau lebih luas maknanya daripada berinfaq dengan harta. Karena sedekah itu mencakup semua kebaikan-kebaikan. Berbeda halnya dengan infaq, itu lebih identik dengan harta. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam beberapa hadits menjelaskan tentang macam-macam sedekah. Diantaranya yang akan disebutkan dalam hadits ini:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.

“Tersenyummu diwajah saudaramu untukmu adalah sedekah.”

وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ

“Kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar adalah sedekah.”

وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ

“Kamu menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat jalan itu sedekah.”

وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ

“Dan kamu menuntun orang yang penglihatannya rabun adalah sedekah untuk kamu.”

وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ

“Dan kamu menyingkirkan bebatuan atau duri atau tulang dari jalan sedekah untuk kamu.”

Baca Juga:
Kebahagiaan Orang Yang Berilmu

وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Dan kamu menuangkan air dari ember untuk ember saudaramu, itu adalah merupakan sedekah.”

Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi no. 1.956.

Baca juga: Hadits tentang keutamaan sedekah

Faidah hadits Macam-Macam Sedekah

Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada kita yaitu macam-macam sedekah. Pertama Nabi menyebutkan:

1. Tersenyum

“Tersenyumnya wajahmu dihadapan saudaramu.”

Karena saudaraku, kita berusaha agar dengan senyum kita, hati teman kita, saudara kita, itu ia menjadi senang melihat kita ketika kita bertemu dengan mereka. Sementara yang kalau kita tidak tersenyum, seringkali terkadang menimbulkan su’udzan. Kalau kita bertemu dengan teman kita -misalnya di jalan- kemudian kita tidak tersenyum, wajah kita terlihat bermuka masam, maka yang seperti ini terkadang membuat hati teman kita sedih, membuat hati teman kita bahkan terkadang su’udzan kepada kita.

Maka dengan kita tersenyum, itu tidak menjatuhkan harkat diri kita. Tapi  tersenyum itu menyebar rasa cinta dihati-hati manusia. Sebagaimana itu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bertemu dengan para sahabatnya dalam keadaan wajahnya berseri-seri.

2. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

“Kamu memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan adalah sedekah.”

Baca juga: Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ketika kita memberitahukan kepada seseorang tentang kebaikan, kita mengajak teman kita untuk shalat, kita mengingatkan seseorang atau misalnya ketika kita sedang berkumpul dengan teman-teman kita kemudian teman-teman kita mulai terjerumus kepada ghibah lalu kemudian kita ingatkan supaya kita tidak berghibah, itu sedekah.

Baca Juga:
Khiyar Syarat - Hukum Syarat Jual Beli - Kitab Zadul Mustaqni (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

Ketika kita bersama teman kita, lalu teman-teman kita -misalnya- melihat di jalan seorang wanita dan tidak menundukkan pandangannya lalu kita ingatkan, sedekah.

Maka Amar ma’ruf nahi munkar tentunya termasuk sedekah. Akan tetapi tentunya dengan cara yang baik, dengan cara yang ihsan, dengan cara yang lemah lembut. Adapun kemudian beramar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang arogan, dengan cara yang kasar, maka hakikatnya perbuatan tersebut terkadang malah membantu setan untuk membuat manusia lari dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Menunjukkan jalan

“Kamu menuntun atau menunjukkan jalan orang yang tersesat jalan (karena dia tidak tahu jalan akhirnya tersesat), maka pada waktu itu sedekah untuk kamu.”

Ini kebaikan. Apabila kita menunjukkan orang yang tersesat jalan itu sedekah, bagaimana kalau kita menunjukkan hidayah kepada manusia yang tersesat, yang tidak mengetahui ilmu, yang tidak memahami tentang jalan menuju surga dan jalan menuju api neraka? Kemudian kita beritahukan dengan ilmu, dengan dalil, dengan hujjah, maka ini sedekah yang sama besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita sendiri.

4. Menuntun orang yang rabun

“Kamu menuntun orang yang matanya rabun (susah melihat), lalu kemudian kita berusaha untuk membantu melihatnya, maka itu sedekah.”

Saudaraku, membantu orang lain di dalam kebaikan-kebaikan ini Subhanallah bernilai sedekah untuk diri kita sendiri sebagai pahala yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menganggap bahwa semua perbuatan baik kita kepada orang lain adalah merupakan sedekah. Perbuatan yang kita lakukan kepada teman kita, saudara kita, berupa kebaikan-kebaikan adalah sedekah.

Baca Juga:
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits 1023-1028 - TPP: Lima Amalan Penghuni Surga, Keutamaan Menafkahi Istri, hingga Anjuran untuk Bersegera dalam Berinfak (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

5. Menyingkirkan gangguan dari jalan

“Kamu mengyingkirkan batu atau duri atau tulang dari jalan itu sedekah.”

Terkadang kita menganggap remeh perkara-perkara ini. Akan tetapi ternyata perkara-perkara yang banyak diremehkan oleh banyak orang, saat kita lakukan dengan penuh keikhlasan dan berusaha untuk menjalankan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terkadang itu bisa menjadi menjadi besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika isra’ mi’raj, melihat seorang laki-laki yang mondar-mandir di dalam surga disebabkan ranting yang ia singkirkan dari jalan.

Inilah saudaraku, semua ini adalah merupakan macam-macam sedekah. Lalu apakah kita sudah berusaha bersedekah dengan senyum kita, dengan amar ma’ruf nahi munkar kita, dengan lisan-lisan kita, kita berusaha untuk bersedekah. Bahkan dizaman sekarang kita bisa bersedekah dengan jari-jemari kita. Kita menyampaikan hadits di media sosial (tentunya hadits yang shahih) disertai penjelasan dari para ulama, kita menyampaikan kata-kata mutiara yang itu bermanfaat untuk hati manusia, lalu kemudian kita share dan dibaca oleh banyak orang, itu sedekah untuk diri kita.

Baca juga: Manfaat sedekah

Perkara-Perkara Yang Mulia

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan beberapa wasiat kepada Abu Hurairah. Apa wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Abu Hurairah?

Baca Juga:
Khutbah Jumat Pelajaran Berqurban: Nabi Ismail Menyerah dan Yakin Bahwa Perintah Allah Itu Pasti Kebaikan

1. Jadilah orang yang wara’

كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

“Jadilah kamu orang yang wara’, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling beribadah.”

Apa itu wara’?

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, yaitu menjauhi segala sesuatu yang dikhawatirkan akan merusak akhirat kita. Bedanya dengan zuhud (kata beliau), zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat kita. Adapun wara’ yaitu kita menjauhi sesuatu yang dikhawatirkan akan merusak atau mengotori akhirat kita. Dan wara’ adalah merupakan kunci kebaikan.

Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat, dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa kunci agama itu adalah wara’. Karena dengan wara’, itu akan membuat kita berhati-hati dalam kehidupan kita. Dalam berucap, orang yang wara’ berusaha untuk jangan sampai mengucapkan sesuatu yang bisa menjerumuskan kepada keburukan. Didalam makan, orang wara’ berusaha menjauhi makanan-makanannya syubhat. Karena dikhawatirkan itu akan bisa merusak akhiratnya. Orang yang wara’ didalam pakaian dia berusaha untuk memakai pakaian-pakaian yang benar-benar dipastikan kehalalannya dan kesuciannya. Walaupun tidak was-was tentunya. Dan ia jauhi sesuatu yang sifatnya syubhat karena khawatir itu bisa merusak agamanya. Demikian didalam segala macam perkara. Ketika dia mau bersikap, dia mau berbuat sesuatu, dia melihat dengan keilmuwan. Apakah sikap dia ini akan menjerumuskan kepada neraka/merusak akhiratnya atau tidak.

Itulah wara’. Kalau kita wara’, maka -kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- kita akan menjadi orang yang paling beribadah kepada Allah. Sebab orang yang wara’, dia akan tinggalkan perbuatan yang sia-sia jika ternyata yang sia-sia itu malah menjerumuskan kepada kemaksiatan. Atau kemudian malah melalaikan dari kebaikan. Karena wara’ itu menjadikan dia khawatir perbuatan-perbuatan yang ia lakukan itu bisa merusak akhiratnya. Subhanallah..

Baca Juga:
Larangan Berdebat, Berkhianat, dan Durhaka - Prinsip Dasar Islam (Ustadz Fachrudin Nu'man, Lc.)

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa, “Jadilah kamu orang yang wara’, niscaya kamu menjadi orang paling beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

2. Jadilah orang yang Qana’ah

وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

“Jadilah kamu orang yang qana’ah, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur..”

Mari simak kisah yang penuh manfaat ini pada menit ke-13:30

Download mp3 Kajian Tentang Macam-Macam Sedekah dan Perkara-Perkara Yang Mulia

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

51 − = 46

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.