Telegram Rodja Official

Tafsir Al-Quran

Perintah Untuk Berinfak – Surat Al Baqarah ayat 195

By  |  pukul 3:11 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 17 April 2020 pukul 3:31 pm

Tautan: https://rodja.id/2lx

Perintah Untuk Berinfak – Surat Al Baqarah ayat 195 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 28 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 25 Desember 2020 M.

Download juga kajian sebelumnya: Peperangan Dalam Islam – Surat Al-Baqarah ayat 190-195

Kajian Tentang Perintah Untuk Berinfak – Surat Al Baqarah ayat 195

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٩٥﴾

Dan berinfaklah kalian dijalan Allah, dan jangan kalian melemparkan diri kalian kepada kebinasaan. Dan berbuat ihsanlah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)

Faidah Surat Al-Baqarah ayat 195

Kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah:

Perintah untuk berinfak dijalan Allah

Perintah untuk berinfak dijalan Allah, baik infak yang sifatnya wajib maupun yang sifatnya sunnah. Dan infak yang sifatnya wajib tentu harus lebih didahulukan dari pada yang sunnah. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits yang sangat banyak menganjurkan umatnya untuk banyak berinfak. Diantaranya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Arti Ghibah dan 6 Sebab Dibolehkan Ghibah

لُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ

“Bahwa seseorang itu dibawah naungan sedekahnya nanti pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Maka sedekahnya itu yang menaungi dia dari teriknya matahari di padang mahsyar. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ayat yang banyak, menganjurkan kita untuk banyak bersedekah. Diantarnya ayat ini. Allah mengatakan:

“Berinfaklah, dan jangan kalian melemparkan diri kalian kepada kebinasaan.”

Artinya, jika kalian pelit dimana kalian tidak mau menginfakkan harta kalian, maka sebetulnya kalian hendak membinasakan harta kalian itu sendiri. Karena kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa setiap pagi ada dua malaikat yang turun, yang satu berdoa:

اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

“Ya Allah, berikan ganti untuk orang yang berinfak.”

Dan malaikat yang satu lagi berkata:

اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ya Allah, berikan kepada orang yang pelit (yang tidak mau beinfak) itu kebinasaan pada hartanya.”

Berarti orang yang pelit, orang yang tidak berinfak dan tidak mau berinfak, hakikatnya dia sedang melemparkan dirinya kepada kebinasaan. Orang yang pelit jangan menganggap dengan pelitnya tersebut ia memelihara hartanya, tidak. Justru harta itu semakin kita pelit dan tidak diinfakkan semakin Allah akan hancurkan harta tersebut. Tapi semakin harta itu banyak diinfakkan dijalan Allah, maka semakin Allah memberkahi harta tersebut.

Isyarat agar kita ikhlas dalam beramal shalih

Baca Juga:
Ancaman Bagi Orang Yang Tertipu Dengan Dunia

Karena Allah berfirman di situ: “Berinfaklah dijalan Allah.” Kata-kata “dijalan Allah” memberikan isyarat hendaknya kita ikhlas dan sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kalau kita tidak ikhlas tidak disebut dijalan Allah. Dan kalau tidak sesuai dengan syariat, tidak pula disebut dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Maka disebut infak yang benar yang diterima oleh Allah kalau memang benar-benar dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Haramnya melemparkan diri kita kepada kebinasaan

Dan semua dosa, hakikatnya adalah kebinasaan, bukan hanya kikir. Orang yang lemparkan dirinya kepada kemaksiatan, misalnya dengan ghibah, dengan namimah, dengan makan riba dan yang semisalnya, berarti orang ini sudah melemparkan dirinya kepada jurang kebinasaan. Na’udzubillah..

Haramnya Rokok

Bahwa segala sesuatu yang menyebabkan datangnya kemudharatan, maka itu dilarang. Maka berdasarkan kaidah ini -kata beliau- rokok itu haram. Kenapa? Karena semua dokter sepakat bahwa  yang namanya rokok itu menimbulkan mudharat. Maka orang yang merokok pada hakikatnya dia sudah menceburkan dirinya kepada kebinasaan. Sudahlah ia mubazir, sudah begitu ia menyakiti dirinya sendiri, sudah begitu dia menyakiti orang lain dan sekitarnya. Maka saudaraku, rokok itu tidak ragu akan keharamannya bagi orang yang mau berpikir.

Perintah untuk berbuat ihsan

Ihsan itu artinya melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menafsirkan ihsan:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-A'la (Bagian ke-1) - Kitab Tafsir Al-Muyassar (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

“Ihsna yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah. Dan jika kamu tidak melihatNya, maka Allah yang melihat kamu.”

Lihat juga: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan

Maka kita berbuat ihsan dalam segala sesuatu. Sebagai disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ

“Allah mewajibkan perbuatan Ihsan itu pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)

Dalam shalat kita wajib ihasan. Yaitu kita berusaha memperhatikan rukunnya, memperhatikan syarat-syaratnya, memperhatikan kekhusyuannya. Dalam zakat kita berusaha untuk ihsan, dalam haji, dalam umroh, dan dalam segala sesuatu. Bahkan dalam cara berpakaian kita diperintahkan untuk ihsan, dalam bergaul, dalam berumah tangga, dalam cara makan, cara minum. Maka semua harus berbuat ihsan.

Sifat cinta bagi Allah

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ini:

إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”

Berarti cinta itu adalah merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara hakiki. Tidak boleh ditakwil kepada makna yang lain. Kalau dikatakan bukankah manusia punya sifat cinta? Maka kita katakan bahwa bukankah manusia melihat? Allah melihat tidak? Apakah hanya karena sama-sama melihat mengharuskan artinya melihatnya Allah sama dengan makhluk? Jawab tidak. Maka kita katakan bahwa Allah melihat sesuai dengan keagunganNya. Manusia pun melihat sesuai dengan keadaannya. Demikian pula manusia mencintai, Allah mencintai, maka cinta Allah tentu beda dengan cinta manusia. Sesuai dengan keadaannya masing-masing.

Baca Juga:
Sifat Kasar - Bab 221 - Hadits 475-477 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Simak pembahasan yang penuh manfaat ini pada menit ke-9:29

Download MP3 Kajian Tentang Perintah Untuk Berinfak – Surat Al Baqarah ayat 195

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

74 − 71 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.