Telegram Rodja Official

Hadits Arbain Nawawi

Hadits Arbain ke 15 – Berkata Baik, Memuliakan Tamu dan Adab Bertetangga

By  |  pukul 3:47 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 30 April 2020 pukul 4:02 pm

Tautan: https://rodja.id/2m6

Hadits Arbain ke 15 – Berkata Baik, Memuliakan Tamu dan Adab Bertetangga merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 5 Ramadhan 1441 H / 28 April 2020 M.

Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi

Status program kajian Hadits Arbain Nawawi: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain ke 14 – hadits Tentang Tidak Halalnya Darah Seorang Muslim

Mukaddimah Ceramah Agama Islam Tentang hadits Arbain ke 15 – Berkata Baik, Memuliakan Tamu dan Adab Bertetangga

Kita panjatkan syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas taufiqNya kepada kita, sehingga kita bisa sampai kebulan yang mulia ini. Bulan yang merupakan salah satu puncak musim ibadah dalam satu tahun. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menuntut kita untuk terus kencang beribadah sepanjang tahun. Karena kalau demikian kita tidak akan mampu. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan musim-musim ibadah yang kalau musim ini tiba, kita dituntut untuk mengencangkan ibadah kita kepada Allah. Dan saat musim ini berlalu, maka tidak masalah kita melonggarkan ibadah kita. Meskipun tentunya tetap melakukan paling tidak yang wajib-wajib. Tapi mungkin intensitas ibadah kita di luar musimnya tidak sekencang ibadah kita saat musim-musim ibadah. Dan begitulah teladan yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau sekalipun, grafik ibadah beliau tidak terus kencang sepanjang tahun. Tapi mengalami fluktuasi naik turun sebagaimana diisyaratkan oleh hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

يَجْتَهِدُ فِي رَمضانَ مَالا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ، وَفِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ منْه مَالا يَجْتَهدُ في غَيْرِهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan yang tidak beliau lakukan di bulan-bulan yang lain. Dan beliau bersungguh-sungguh di sepertiga terakhir bulan Ramadhan yang tidak beliau lakukan di sepertiga yang pertama maupun sepertiga yang kedua.” (Riwayat Muslim)

Hadits ini jelas menunjukkan bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ibadah beliau naik turun. Dan mengalami puncaknya pada musim-musim ibadah. Dan untuk Ramadhan ini beliau mengencangkan ibadah beliau dan mencapai puncaknya pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Maka Alhamdulillah atas taufiqNya kepada kita untuk bisa sampai ke bulan yang mulia ini.

Maka Alhamdulillah atas taufiqNya sehingga kita bisa sampai ke bulan yang mulia ini. Kemudian juga atas taufiqNya sehingga kita bisa mengisi bulan Ramadhan yang mulia ini dengan berbagai amal ibadah. Dan salah satu yang disyariatkan adalah menuntut ilmu, menambah bekal ilmu kita, ini juga termasuk ibadah yang disyariatkan untuk diperbanyak di bulan Ramadhan. Karena pada dasarnya semua amal shalih disyariatkan untuk diperbanyak di bulan Ramadhan. Dan kita mengetahui bahwasannya salah satu amalan utama dalam Islam bahkan amalan sunnah yang paling afdhal adalah menuntut ilmu. Maka Alhamdulillah kita bisa meneruskan kajian kita untuk mengupas hadits-hadits yang dikumpulkan Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala dalam karya beliau الأربعين في مباني الإسلام وقواعد الأحكام (Empat puluh dua hadits tentang pokok-pokok Islam dan hukum-hukum pokok dalam agama ini).

Baca Juga:
Menjual Buah-Buahan Sebelum Matang

Kajian Islam Tentang hadits Arbain ke 15 – Berkata Baik, Memuliakan Tamu dan Adab Bertetangga

Dan Alhamdulillah hari ini kita akan mengkaji bersama hadits nomor 15. Yaitu hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menghormati tamunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Jadi termasuk salah satu hadits yang secara sanad paling sahih. Disepakati periwayatannya oleh pemilik Shahihain Al-Bukhari dari Muslim Rahmatullahi ‘Alaihima.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu

Yaitu Abdurahman bin Sakhr Ad-Dausi (ini nama asli beliau). Sudah beberapa kali kita sampaikan tarjamah (الترجمة) dan sirah beliau melalui hadits-hadits yang sudah kita bahas. Beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Baru masuk Islam empat tahun sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun selama empat tahun itu beliau bersungguh-sungguh, beliau terus menempel Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai akhirnya menjadi sahabat dengan riwayat hadits paling banyak. Di mana hadits beliau mencapai 5.374 hadits. MasyaAllah.. Jumlah hadits yang sangat banyak. Dan beliau kumpulkan dalam 4 tahun perkawanan beliau dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini menunjukkan bahwasannya kita yang barangkali agak terlambat untuk mencintai belajar agama, jangan berkecil hati. Kalau kita bersungguh-sungguh, kita bisa menurut Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bisa mengejar ketertinggalan kita dibanding saudara-saudara kita yang telah mendahului kita dalam mencintai Islam dan mempelajari agama ini. Beliau wafat pada tahun 59 Hijriyah.

Dalam hadits ini beliau menyampaikan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata-kata yang atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menghormati tamunya.”

Iman kita yang ada di dalam hati harus memiliki buahnya dalam lidah kita, maupun dalam anggota tubuh kita yang lain. Karena iman itu tidak hanya dalam hati, tapi -menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah– iman itu adalah meyakini dengan hati, kemudian mengucapkan dengan kata-kata dan juga beramal dengan organ tubuh kita. Itu adalah iman.

Makanya dalam sebuah hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan ada 70 sekian cabang iman. Yang paling tinggi adalah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, itu adanya  di lisan kita. Pengucapan Laa Ilaaha Illallah. Maka sebagian cabang iman ada di lidah kita. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini kita lakukan dengan tangan dan kaki kita. Maka itu mencerminkan iman yang ada di anggota tubuh kita.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 145 - 146

“Dan malu itu adalah salah satu cabang dari iman. Malu itu adanya di hati kita. Maka masing-masing ketiga amalan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang agung ini mencerminkan tiga tempat iman menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Laa Ilaaha Illallah itu di mulut kita, kemudian menyingkirkan gangguan itu dengan anggota tubuh kita, dan rasa malu itu udah di hati kita. Maka iman yang benar, iman yang jujur, itu pasti akan tercermin dalam anggota tubuh yang lain. Termasuk diantara anggota tubuh yang seharusnya menampilkan dan mencerminkan iman kita adalah mulut kita.

1. Mengucapkan kata-kata yang baik atau diam

Pada potongan pertama hadits, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan di sini:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam”

Yang beliau soroti adalah mulut kita ini. Disebut di sini “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir”, dua saja yang disebutkan dari enam rukun iman kita. Yaitu:

  • iman kepada Allah,
  • kepada malaikat Allah,
  • kepada Rasul Allah,
  • kepada kitab-kitab Allah,
  • kepada Qadha dan Qadar,
  • iman kepada hari akhir.

Ada enam rukun iman, tapi yang disebutkan di sini ada dua. Kenapa? Ini penyebutan sebagian tapi yang dimaksud adalah semuanya. Artinya barangsiapa yang beriman, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam. adapun penyebutan Allah dan hari akhir secara khusus adalah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang paling utama yang harus kita imani. Iman ini adalah iman yang paling penting, ini pokoknya. Keimanan yang lain kepada malaikat Allah, kepada Rasul Allah, kitab Allah, kepada Qadha dan Qadar, kepada hari akhir, ini semuanya mengikuti. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala disebut.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir.” Kenapa hari akhir? Karena yang berhubungan langsung dengan amalan-amalan kita adalah hari akhir. Karena pada waktu itulah kita akan dihisab. Jika baik kita akan mendapatkan balasan yang baik, jika amalan kita buruk kita akan mendapatkan balasan yang buruk. Dan pada hari akhir itu terdapat kebangkitan, hisab, ini yang akan mengingatkan kita untuk terus beramal baik. Ayo kita berkata-kata yang baik, ayo kita hormati tetangga kita, ayo kita hormati tamu kita, karena di hari kiamat kelak kita akan mendapati kebangkitan dan hisab. Maka kita harus banyak beramal. Ini rahasia kenapa yang disebutkan adalah iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir.

Penyebutan secara khusus tapi yang dimaksud adalah semua iman. Kita harus mengimani itu semuanya. Dan iman kita ini harus kelihatan, harus tampak dalam mulut kita. Dan diantara tanda kesempurnaan iman seorang adalah menjaga lisan kita dengan berkata-kata yang baik saja atau kalau tidak bisa hendaknya kita diam.

Hal ini ditegaskan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnad, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Baca Juga:
Berbicara Kepada Manusia Sesuai Dengan Tingkat Pemahaman dan Kedudukan Manusia Bagian 2 - Kitab Al-Ishbah

“Tidaklah iman seseorang itu lurus sampai hatinya lurus. Dan tidaklah hatinya lurus sampai lisannya lurus.” (HR. Ahmad)

Ini siapa yang mengucapkan? Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka kita harus mengimani kandungan hadits ini karena hadits ini sampai kepada kita dengan sanad yang shahih. Hadits riwayat Ahmad dihukumi hasan oleh Al-Albani Rahimahullah. Maka kita meyakini bahwasanya iman kita tidak akan lurus sampai hati kita lurus dulu. Hati yang paling utama, ini organ tubuh yang paling penting, yang kalau dia baik maka seluruhnya akan baik. Yang jika dia rusak maka seluruh organ juga akan rusak.

Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidak akan lurus iman seorang hamba sampai hatinya lurus dulu.” Maka kalau kita ingin membersihkan diri, yang harus dibersihkan pertama kali adalah hati kita, ini yang paling penting. Kalau hati sudah baik, maka dia akan mempengaruhi yang lain. Tapi -kata beliau- hati kita ini tidak akan beres, tidak akan lurus, kecuali setelah mulut kita beres dulu. Dia sangat berhubungan erat dengan lisan/mulut ini. Beliau mengatakan: “kunci lurus hati adalah lurusnya lisan.”

Maka kalau kita ingin hati kita bersih, kita ingin hati kita lurus, ikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita luruskan dulu mulut kita. Bagaimana caranya? Caranya dengan mengamalkan hadits ini.

فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Hendaklah dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam” Pilihannya cuma dua. Mengucapkan kata-kata yang baik atau kalau kita tidak yakin bahwasanya kata-kata yang akan kita ucapkan adalah sebuah kebaikan, sudah kita diam. Pilihannya hanya itu, tidak ada pilihan yang ketiga. Kata-kata yang buruk atau kita ragu apakah ini baik atau buruk, sudah, tinggalkan, tidak ada pilihan itu. Pilihannya adalah mengucapkan kata-kata yang baik atau kalau kita tidak yakin itu baik, sudah, diam.

Makanya kata Imam Syafi’i Rahimahullah Ta’ala, sebagaimana dinukil oleh An-Nawawi Rahmatullahi ‘Alaihima, kata beliau: “Arti hadits ini adalah saat kita ingin mengucapkan suatu kata-kata, hendaklah kita berpikir apakah kata-kata ini adalah kata-kata yang baik? Kalau baik, katakanlah. Atau kalau kita mengetahui bahwasannya kata-kata itu buruk atau kita ragu itu baik atau buruk, maka pilihannya adalah kita diam.” Ini penjelasan beliau seperti itu.

Saat kita yakin bahwa kata-kata itu baik, maka kita mengucapkannya. Karena bagaimanapun mengucapkan kata-kata yang baik itu lebih baik. Kenapa? Karena mengucapkan kata-kata yang baik lebih baik daripada diam. Karena kata-kata yang baik itu bermanfaat untuk orang lain, bermanfaat untuk mendengarkan. Baik itu keluarga kita sendiri, keluarga kecil kita, istri kita, anak-anak kita, ataupun orang yang mendengar dalam lingkup yang lebih luas. Mereka mengambil manfaat.

والخير المتعدي خير من القاصر

“Kebaikan yang menular kepada orang lain lebih baik daripada kebaikan yang terbatas manfaatnya hanya untuk diri kita sendiri saja.”

Maka bagaimanapun, berkata-kata yang baik lebih baik daripada hanya sekedar diam. Seorang ulama mengatakan di depan Umar bin Abdul ‘Aziz:

الصامت على علم ، كالمتكام على علم

“Orang yang diam atas dasar ilmu, itu sama dengan orang yang berbicara atas dasar ilmu.” Ini dua-duanya sifat terpuji yang hendaknya kita berusaha mengumpulkannya. Jadi kalau diam, diam karena ilmu. Berbicara juga berbicara karena ilmu. Kata-kata ini disampaikan oleh seorang Ulama di hadapan Umar bin Abdul ‘Aziz. Maka Umar bin Abdul ‘Aziz mengatakan: “Aku berharap orang yang berkata-kata karena ilmu adalah orang yang terbaik dari keduanya.” Maksudnya beliau mengatakan, “Iya keduanya baik. Diam atas dasar ilmu, baik. Berbicara atas dasar ilmu juga baik. Tapi aku berharap yang berbicara atas dasar ilmu itu adalah yang terbaik dari keduanya.” Dia punya kedudukan lebih tinggi. Kemudian beliau menjelaskan karena kebaikan dia menular untuk orang lain. Sementara yang hanya diam saja atas nama ilmu, dia akan mendapatkan pahala, tapi diamnya dia ini adalah untuk dirinya sendiri saja.

Baca Juga:
Kajian Kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah - Hadits 1341-1346 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Dan nasihat ini banyak diulang-ulang oleh para ulama kita, mereka mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mewanti-wanti kita. Karena mengatur lisan ini sungguh tidak mudah, mengontrol mulut kita ini sungguh tidak mudah. Maka banyak orang yang bisa mengerjakan ibadah-ibadah yang besar, yang berat, bisa Qiyamul Lail sekian puluh rakaat, bisa puasa di hari-hari yang panjang, bisa bersedekah dengan harta yang banyak, tapi banyak juga diantara mereka yang tidak mampu untuk mengontrol mulutnya. Mulutnya masih berkata-kata yang buruk dengan berbohong, menggunjing, ini sungguh tidak mudah untuk kita hindarkan. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan ini sebagai tanda iman seseorang. Iman kita tidak lurus kecuali setelah hati kita lurus dan hati kita tidak lurus kecuali setelah mulut kita lurus dahulu. Maka ini penting untuk kita camkan bersama. Dan tentu kita semuanya akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut kita.

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿١٨﴾

“Tidak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut kita kecuali itu ditangkap oleh para malaikat yang mengawasi dan mencatat.” (QS. Qaf[50]: 17-18)

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan bahwasanya banyak manusia yang binasa karena mulut mereka. Ketika beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami dihukum dengan apa yang kami ucapkan?” Maka beliau mengatakan:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ في النَّارِ على وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ ألْسِنَتِهِمْ؟

“Bukankah yang membuat orang jatuh dalam neraka di atas wajah-wajah mereka itu adalah buah dari mulut mereka sendiri?”

Iya, buah dari ucapan yang buruk yang mereka ucapkan. Maka kunci agar kita bisa mengontrol ini semuanya adalah mengikuti sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di potongan pertama hadits Abu Hurairah: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” Hanya itu dua pilihannya.

Maka ini sungguh termasuk jawami’ul kalim. Kata-kata mutiara dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pendek dan sarat makna. Kalau kita bisa mengamalkannya, maka insyaAllah kita akan selamat.

2. Menghormati tetangga

Adapun potongan hadits yang kedua adalah:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangganya.”

Diantara kebaikan Islam dan keindahannya adalah kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga kita. Yaitu orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Pokoknya yang masuk hitungan tetangga menurut ‘urf, menurut adat di masyarakat kita. Barangkali yang satu RT dengan kita, atau kalau desanya kecil mungkin yang satu desa itu merupakan tetangga kita. Tidak ada batasan yang tegas dalam hal ini. Meskipun di sebagian riwayat yang tidak kuat sanadnya disebutkan 40 rumah adalah hitungan tetangga kita. Tapi ini yang lebih kuat adalah dikembalikan kepada ‘urf. Berbeda dari kota ke desa, berbeda dari satu kota ke kota yang lain, tapi yang menurut adat istiadat disebut sebagai tetangga kita maka kita punya kewajiban untuk menghormati dia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Baca Juga:
Kajian Kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah - Hadits 1432-1438 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan sembahlah Allah dan jangan engkau berbuat syirik kepadaNya dengan sesuatupun.”

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.”

وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ

Juga berbuat baik kepada para kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Juga berbuat baik kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa[4]: 36)

Tetangga yang dekat maksudnya adalah tetangga yang memiliki kekerabatan dengan kita. Tetangga yang jauh adalah yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Kita semuanya diperintahkan untuk menghormati dan berbuat baik kepada mereka. Makanya para ulama membagi tetangga itu dalam tiga kategori.

Kategori tentangga:

Pertama adalah tetangga yang kerabat dan muslim. Jadi dia tetangga, dia adalah kerabat kita, dia juga seorang muslim. Maka -kata mereka- tentang yang seperti mempunyai tiga punya hak. Punya hak tetangga, punya hak sebagai kerabat dan punya hak sebagai seorang muslim. Kita harus ditunaikan tiga hak mereka ini.

Kedua adalah tetangga yang muslim tapi bukan kerabat. Maka dia punya dua hak. Yaitu hak sebagai tetangga dan hak sebagai seorang muslim.

Ketiga adalah tetangga yang bukan kerabat juga bukan muslim. Bisa jadi sebagian kita diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tinggal bersama orang-orang yang non muslim. Maka Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada mereka. Jangan sampai mereka tersakiti oleh kita, jangan sampai kita menjadi penghalang dari hidayah yang menyapa mereka. Islam memerintahkan kita untuk berbuat baik pada tetangga meskipun dia adalah seorang non muslim. Hak dia hanya satu, yaitu hak tetangga. Tapi hak tetangga itu penting.

Cara berbuat baik kepada tetangga

Bagaimana caranya kita berbuat baik kepada tetangga seperti yang disebutkan dalam hadits ini?

Yang pertama adalah dengan memastikan bahwasannya tetangga kita aman dari gangguan kita. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.

“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman,” ditanyakan, “Wahai Rasulullah, siapa dia?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (HR. Muslim dan Ahmad)

Seorang mukmin itu, tetangganya harus aman dari lisannya, harus aman dari gangguan-gangguannya. Di sini beliau tegaskan: “Orang yang tidka beriman adalah orang yang tetangganya tidak selamat dan tidak aman dari gangguannya.” Maka na’udzubillahi min dzalik, jangan sampai mengganggu tetangga kita dengan suara-suara yang mengganggu, menyetel TV atau pengeras suara dengan sekeras-kerasnya, tidak peduli dengan tetangga. Tetangga kita punya anak kecil, mereka butuh istirahat, tapi sebagian kita cuek bahkan kalau ditegur marah-marah. Ini sungguh tidak mencerminkan pribadi seorang mukmin. Seorang mukmin harus memastikan bahwasannya tetangganya aman dari gangguan dia.

Kemudian juga dengan membantu mereka jika mereka membutuhkan. Dalam sebuah hadits riwayat Al-Hakim yang dishahihkan oleh Al-Albani Rahimahullah. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائْعٌ

“Bukanlah seorang mukmin kalau dia kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.” (HR. Al-Hakim)

Baca Juga:
Mengenal Ilmu Hadits - Bagian ke-1 (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Seorang mukmin yang baik itu peduli dengan tetangga. Jadi dia tidak hanya shalih secara pribadi saja, tapi dia juga punya keshalihan sosial. Dia berjalan mengunjungi tetangganya, melihat kondisi tetangganya, kalau ada yang kurang sementara dia mampu, dia bantu tenaganya. Jangan sampai ada di antara kita enak-enak makan tapi tetangga kita ada yang kelaparan. Ini sungguh tidak mencerminkan pribadi seorang muslim. Tidak mencerminkan sebuah perumahan yang Islami, tidak mencerminkan sebuah kompleks yang Islami, saling cuek, tidak ada kepedulian, tidak mau bertanya, “Ini dimana Fulan kok tidak kelihatan shalat jamaah? Si Fulan bagaimana kebutuhannya?” Jangan sampai ada orang-orang yang kelaparan sementara kita kekenyangan tidak ada masalah.

Maka di antara bentuk ihsan kepada tetangga adalah memberikan bantuan kepada meraka saat dibutuhkan. Dan bantuan itu tidak harus berupa harta, bisa berupa tenaga. Kalau memang kita tidak punya harta, kita punya tenanga bisa dengan tenaga kita, membantu mereka memperbaiki rumah, membantu mereka dalam hajat yang sedang mereka selenggarakan kalau ada yang punya hajat yang mubah. Bisa juga dengan ide atau dengan kata-kata yang baik. Semua orang itu suka untuk disiapa, diberikan kata-kata yang baik, kita memberikan kabar gembira kepada mereka saat ada kabar gembira yang perlu disampaikan. Itu semua termasuk bentuk membantu dan menghormati tetangga kita.

Juga diantara yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara lebih spesifik adalah mengirimkan masakan sesuai dengan kemampuan kita kepada tetangga kita. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, dari Abu Dzar, disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَها، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, kalau engkau memasak masakan yang ada kuahnya, maka perbanyaklah airnya sehingga engkau bisa memberikan sebagian kepada tetangga-tetanggamu.” (HR. Muslim)

MasyaAllah, sungguh akhlak yang mulia. Kalau kita bisa memberikan dagingnya, itu bagus. Tapi kalau seandainya kita tidak mampu karena barangkali kondisinya sedang tidak memungkinkan, kita juga bukan orang yang kaya-kaya amat, maka kita bisa memakai siasat ini. Kita perbanyak kuahnya untuk kemudian kita sampaikan kepada tetangga kita. Dan kita jangan menganggap itu sebagai penghinaan, masa ngirim cuma kuahnya saja. Kita harus husnudzan (berprasangka baik) bisa jadi itu yang dia mampu. Kita melihat kepada hakikatnya, ini masyaAllah peduli dengan kita. Dan kadang-kadang semangkok kuah itu yang kita butuhkan. Saat di rumah kita punya lauk, tapi rasanya ada yang kurang. Tidak ada makanan pembukanya, tiba-tiba ada yang mengirimkan satu mangkok isinya cuma kuah saja tapi ada kaldunya di situ yang membangkitkan selera. Maka kita harus husnudzan kepada saudara kita.

Simak penjelasan selanjutnya pada menit ke-33:49

Download mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain ke 15 – Berkata Baik, Memuliakan Tamu dan Adab Bertetangga

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama Hadits Arbain ke 15 – Berkata Baik, Memuliakan Tamu dan Adab Bertetangga ini ke jejaring sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

76 − 68 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.