Telegram Rodja Official

Mencetak Generasi Rabbani

Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

By  |  pukul 9:53 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 01 Mei 2020 pukul 10:56 am

Tautan: https://rodja.id/2m7

Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani yang sangat penting untuk diketahui oleh setiap muslim. Kajian ini disampaikan pada 6 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 03 Desember 2019 M.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

Kewajiban mendidik anak adalah kewajiban yang terletak diatas pundak kedua orang tua. Kewajiban ini adalah kewajiban yang sangat penting karena merupakan amanah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada keduanya ketika Allah menganugerahkan putra dan putri, anak-anak kepada mereka. Yang mana ini merupakan titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita jaga. Amanah yang mesti kita tunaikan. Nabi bersabda dalam sebuah hadits:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak lahir di atas fitrahnya (yaitu fitrah Islam, fitrah tauhid) kedua orang tuanya lah yang membuat anak ini Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Nabi menyebut orang tua karena ia adalah penyebab pertama. Kelalaian mereka yang menyebabkan anak ini menyimpang dari fitrahnya. Ketika anak ini lahir ke dunia, dia lahir dengan segel tauhid Laa Ilaha Illallah yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil perjanjian itu jauh sebelum mereka lahir ke dunia, bahkan sebelum orang tua mereka lahir ke dunia. Yaitu ketika Allah mengeluarkan anak-anak keturunan Adam dari tulang sulbi bapak mereka, Adam. Dan Allah mengambil persaksian:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا

Mereka semua (manusia/anak Adam) bersaksi, ‘Benar kami bersaksi’” (QS. Al-A’raf[7]: 172)

Baca Juga:
Anjuran Anak-Anak Berada di Dalam Rumah ketika Maghrib - Hadits 1518-1521 - Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah

Termasuk anak kita yang lahir itu. Dia termasuk orang yang telah bersaksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dia lahir dengan membawa segel tauhid Laa Ilaha Illallah. Dan kewajiban terpenting yang utama setiap orang tua terhadap anaknya adalah menjaga segel ini agar tidak rusak sampai kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu keawjiban terpenting atas setiap ayat dan ibu. Kalau mereka lalai, dia akan menyimpang, segel itu akan rusak, aqidahnya akan kotor, keyakinannya akan rusak, bisa jadi dia berubah menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi atau apapun. Maka orang tua adalah lingkungan yang paling dekat dengan anak. Nabi mengatakan:

فَأَبَوَاهُ

“Kedua orang tuanya”

Bukan sekolahnya, bukan teman-temannya, bukan kakek neneknya, bukan paman bibinya, tapi orang tuanya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sini mengatakan orang tuanya. Maka apa yang terjadi pada anak yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Yaitu ayah dan ibu. Maka dari itu ini adalah kewajiban yang tidak mungkin bisa dilakukan tanpa persiapan dan ilmu, tanpa kita mengetahui, tanpa kita mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan anak.

Orang tua tidak boleh lalai. Karena keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah adalah keluarga yang anggota-anggota individu-individu yang ada di dalam keluarga itu dapat melaksanakan perannya dengan baik dan benar. Seorang suami bisa menjadi suami yang baik, seorang istri bisa menjadi istri yang baik, mereka berdua melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing. Tapi itu tidak cukup untuk membentuk suatu keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah hingga keduanya bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya dan ibu yang baik bagi anak-anaknya.

Banyak para istri/wanita bisa menjadi seorang istri yang baik. Dia bisa melaksanakan kewajibannya kepada suaminya, dia bisa menunaikan hak-hak suaminya, tapi dia tidak bisa jadi ibu yang baik, dia gagal menjadi ibu yang baik, dia tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 143 - 144

Demikian pula sebaliknya, ada wanita-wanita yang bisa menjadi ibu yang baik, tapi tidak bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya. Maka seorang wanita dituntut memiliki peran ganda di sini, sebagai istri yang baik dan sebagai ibu yang baik. Beda tentunya jadi istri dan jadi ibu.

Kadang-kadang sebagian wanita tidak bisa membedakan posisinya sebagai istri dan posisinya sebagai ibu. Sebagai ibu tentunya dia menjadi sorotan teladan bagi anak-anaknya. Jadi istri mungkin dia diemongi sama suaminya, suami jadi teladan. Tapi sebagai ibu, dia yang mengomongi anak-anaknya, dia yang menjadi sosok teladan.

Demikian juga sebagian pria/laki-laki, dia bisa menjadi istri yang baik bagi istrinya. Dia memenuhi semua hak dan kewajibannya sebagai suami. Tidak ada satupun hak istri yang tidak dia tunaikan, dia benar-benar menjadi suami yang ideal. Tapi dia tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Tentunya beda kita sebagai suami dengan kita sebagai ayah. Tanggung jawabnya lebih besar, tantangannya lebih berat. Karena mengajari anak kuliah itu beda dengan mengajari anak SD. Lebih berat jadi guru SD daripada jadi dosen mengajarkan kuliah kepada mahasiswa. Karena mereka-mereka ini orang yang sudah sempurna otaknya, sudah bagus nalarnya, sudah bisa mengerti sedikit pengarahan yang kita berikan. Itu seperti mendidik istri. Tapi mendidik anak seperti mengajari anak SD, perlu sabar, perlu kelembutan, perlu kesantunan dan mengerti sudut pandang anak-anak, psikologi anak, sehingga kita bisa memberikan pelajaran-pelajaran kepada anak. Sangat jauh berbeda kita mendidik anak dan mendidik istri. Dan dua-duanya wajib kita didik. istri wajib kita didik, anak juga wajib kita didik.

Baca Juga:
Hak-Hak Dua Orang yang Berselisih - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)

Atau sebaliknya, sebagian pria bisa jadi ayah yang baik bagi anak-anaknya, tapi dia tidak bisa jadi suami yang baik bagi istrinya. Mungkin dia kejam terhadap istrinya, tidak ada rahmahnya, tidak ada toleransinya terhadap istrinya, sehingga membuat istri menderita. Tapi kepada anak, dia luar biasa betul-betul bisa menjadi ayah yang baik.

Maka keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah itu adalah ketika suami istri ini bisa memainkan perannya dengan benar dan baik di dalam rumah tangga. Barulah tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah tadi.

Anak-anak adalah warga/rakyat, presidennya itu suami. Menteri-menteri istri. Rakyat tinggal mencicipi. Kalau pemimpin dan pembantu-pembantu pemimpin ini baik, maka akan baiklah negeri itu. Demikian juga di dalam rumah tangga. Maka khusus berkaitan dengan pendidikan anak, ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama.

Suami mendidik istri, mungkin dia bisa memainkan perannya sendiri. Demikian juga istri berperan sebagi seorang istri terhadap suaminya. Mungkin ini simpel dan sederhana, tidak perlu orang lain yang ikut campur dalam mendidik istri kita. Cukup kita, suaminya. Tapi mendidik anak tidak bisa dilakukan secara tunggal. Di situ ada dua komponen, dua unsur, yaitu ayah dan ibu. Dan anak perlu sosok kedua-duanya. Perlu sosok ayah dan perlu sosok ibu yang saling memberikan keseimbangan dan kesetimbangan di dalam pendidikan anak.

Maka memang single parent itu bisa dilakukan cuma tidak ideal. Yang terbaik adalah tentunya dua komponen ini berfungsi dengan baik, ayah dan ibu. Pendidikan anak adalah kolaborasi yang baik antara ayah dan ibu, tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Maka dari itu keduanya harus bisa bekerjasama dan sama-sama bekerja, bahu-membahu dalam mendidik anak-anak mereka, saling isi mengisi, bukan saling tumpang tindih. Hingga kadang-kadang di dalam mendidik anak ini tidak ada job description yang jelas antara ayah dan ibu. Ayah kadang-kadang overlapping mengambil peran ibu, ibu juga demikian. Sehingga tidak ada kerjasama yang baik antara keduanya. Maka tentunya dalam hal ini suami-istri selaku ayah dan ibu harus sering duduk satu meja berdiskusi, berdialog, saling tukar pendapat, saling koleksi tentang pendidikan anak-anak mereka. Apa yang terbaik, apa yang tepat untuk diterapkan kepada anak-anak? Karena anak-anak datang dengan membawa anugerah yang luar biasa, potensi, bakat, talenta.

Baca Juga:
Menjaga Kebersihan Anak

Seharusnya orang tua adalah yang paling mengerti tentang anaknya. Bukan guru di sekolah atau teman-temannya di sekolah. Tapi kadang-kadang tidak dekatnya orang tua dan anak, sehingga orang tua tidak mengerti tentang anak-anak mereka. Tentunya anugrah yang besar ini adalah satu fadhilah bagi kedua orang tua apabila mereka bisa memanfaatkannya maka ini menjadi kebaikan bagi mereka.

Maka dari itu, tugas mendidik anak ini adalah tugas bersama, bukan tugas perorangan. Akan terasa berat bagi seorang ibu jika pendidikan anak semua di limpahkan ke pundaknya. Demikian pula sebaliknya, akan terasa berat oleh ayah jika semua tugas dan tanggung jawab pendidikan itu diserahkan kepadanya, dibebankan ke pundaknya. Maka agar ringan sama dijinjing berat sama dipikul, keduanya harus saling bisa bekerja sama, berkolaborasi, saling isi mengisi, tentunya ini akan menjadi lebih mudah. Karena kadang-kadang siasat itu perlu dilakukan oleh kedua belah pihak, ayah dan ibu. Pendidikan anak itu perlu siasat juga. Bagaimana menyiasati anak supaya dia tergiring kepada apa yang kita kehendaki. Menyelesaikan masalah anak kadang-kadang perlu kedua belah pihak ini. Saling mengarahkan kepada satu titik.

Maka ayah ibu seharusnya bisa menyisihkan waktu yang lebih banyak untuk membicarakan tentang pendidikan anak-anak mereka. Dan tentunya tugas ini adalah tugas yang penuh ilmu. Kalau kita ingin sukses apapun, maka semuanya harus dengan ilmu.

Baca Juga:
Jangan Berteman dengan Teman Yang Buruk Agamanya

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ.

“Yang ingin sukses dunianya, hendaknya dia berilmu. Yang ingin sukses akhiratnya, hendaklah dia berilmu. Yang ingin sukses dunia dan akhirat, juga harus berilmu.”

Maka pendidikan anak juga harus dengan ilmu. Kadang-kadang kita tidak mengetahui sisi-sisi pendidikan anak yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena kejahilan kita. Kadang-kadang kita menafikan suatu ternyata Nabi melakukannya/menerapkannya di dalam pendidikan anak. Tapi karena kadang-kadang karena kejahilan kita justru buru-buru menafikannya.

Kalau kita kaji hadits-hadits Nabi yang berkaitan tentang pendidikan anak, luar biasa. Boleh dikatakan Nabi itu orang yang paling mengerti tentang psikologi anak. Ketika memerikan pendidikan kepada anak, beliau bisa melihat sesuatu itu dari sudut pandang anak, bukan dari sudut pandang orang tua. Ini luar biasa. Nanti akan kita temukan, di dalam kajian kita ini bagaimana luar biasanya Nabi di dalam memahami psikologi anak. Jauh lebih hebat, lebih agung, lebih tinggi daripada ilmu-ilmu psikologi anak yang berkembang hari ini. Padahal itu 15 abad yang lalu, sebelum banyak ilmu-ilmu ditemu serperti hari ini.

Oleh karena itu -selaku orang tua- seharusnya kita lebih membutuhkan menuntut ilmu khususnya yang berkaitan dengan pendidikan anak. Ini tidak bisa dilakukan otodidak, meraba-raba, tanpa ilmu. Karena akan ngawur hasilnya nanti. Maka dari itu sepasang suami istri, sebagian ikhwan dan akhwat, sebelum menikah rajin menuntut ilmu, bahkan ketemunya juga melalui majelis ilmu. Ada “Mak Comblang” yang mempertemukan mereka sama-sama aktif di majelis ilmu, bertemunya di majelis ilmu. Tapi setelah menikah hilang dari majelis ilmu. Dengan berbagai macam alasan. Alasannya sekarang sudah sibuk, cari nafkah dan sebagainya. Lebih parah lagi ketika mereka sudah punya anak, makin hilang dari majelis ilmu.

Baca Juga:
Al-Qowa'idul Mutsla - Bagian ke-1 (Ustadz Firanda Andirja, M.A.)

Dulu waktu sebelum menikah, rajin menuntut ilmu. Bahkan kajian-kajian rutin dihadiri. Setelah menikah sudah berkurang, hanya tabligh akbar saja, setahun sekali/dua kali. Setelah punya anak, tabligh akbar pun tidak, semuanya tidak. Alasannya sekarang sudah sibuk untuk memenuhi nafkah keluarga. Ini salah tentunya. Ketika kita sudah menikah, kebutuhan kita kepada ilmu itu dua kali lipat. Karena tanggung jawab kita semakin besar. Semakin besar tanggung jawab, maka semakin banyak kebutuhan kita kepada ilmu. Dan kebutuhan ilmunya pun semakin tinggi.

Simak Penjelasan Lengkap dan Download MP3 Kajian Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian Cara Mendidik anak ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Pencarian: cara mendidik anak sejak bayi, cara mendidik anak yang baik dalam keluarga, cara mendidik anak agar mandiri, cara mendidik anak agar disiplin dan tanggung jawab, cara mendidik anak yang baik tanpa kekerasan, cara mendidik anak usia 3 tahun, cara mendidik anak yang baik menurut islam, tata cara mendidik anak.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

÷ 2 = 1

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.