Telegram Rodja Official

Mencetak Generasi Rabbani

Pendidik Yang Lunak dan Fleksibel

By  |  pukul 5:16 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 20 Mei 2020 pukul 12:19 pm

Tautan: https://rodja.id/2mx

Pendidik Yang Lunak dan Fleksibel merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada 5 Ramadhan 1441 H / 28 April 2020 M.

Kajian sebelumnya: Pendidik Yang Penyayang

Kajian Islam Ilmiah Tentang Pendidik Yang Lunak dan Fleksibel

Kita masih membahas 10 karakter pendidik sukses, saat ini sudah sampai pada poin yang ke-8, yaitu Lunak dan Fleksibel. Maksudnya adalah memudahkan dan tidak mempersulit.

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

“Mudahkan jangan dipersulit, berikan kabar gembira sebelum memberikan peringatan.”

Ini landasan dan dasarnya. Dan ini merupakan sifat dan karakter yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Yaitu bersikap lunak dan flekibel. Termasuk di dalamnya adalah sikap tidak berlebih-lebihan. Karena sikap berlebih-lebihan adalah sikap yang tidak baik, tercela dalam segala urusan, dalam segala situasi dan kondisi. Demikian juga dalam bab pendidikan, sikap terlalu menggampangkan dan sikap terlalu berlebihan adalah hal yang tidak baik. Terlalu menggampangkan juga tidak baik, namun terlalu berlebih-lebihan juga tidak baik. Yang baik adalah pertengahan di antara keduanya.

Inila yang kita maksud dengan kata-kata “fleksibel”. Memberikan kemudahan tapi tidak terlalu menggampangkan dan tidak membuat sulit sehingga membuat anak didik itu lari. Pendidik harus bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan.

Baca Juga:
Anak dan Sifat Amanah - Bagian ke-1 - Fiqih Pendidikan Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

خير الامور اوسطها

“Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.”

Karena dalam masalah pokok agama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai muslim yang memiliki sifat pertengahan. Dan Nabi mengingatkan kepada kita agar tidak berlebih-lebihan di dalam bab agama.

إياكم والتنطع في الدين

“Hati-hati dan hindarilah sikap berlebih-lebihan di dalam perkara agama.”

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu memilih perkara yang paling mudah selama itu bukan perkara yang haram. Seperti yang dijelaskan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa apabila Nabi dihadapkan dua perkara, maka Nabi memilih perkara yang paling mudah selama itu bukan perkara yang haram.

Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Umar Al-Badri Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan suatu kisah: “Aku terbiasa melambatkan hadir di dalam shalat subuh berjamaah dikarenakan si Fulan (yaitu imam yang suka memanjangkan shalatnya) ketika mengimami kami. Akhirnya Rasulullah marah tatkala tahu kebiasaanku dan aku belum pernah melihat beliau marah ketika memberi nasihat melebihi marahnya beliau saat itu. Dan beliau berseru kepada kami para sahabat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ ، فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ ، فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ ، وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

“Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang membuat orang-orang lari meninggalkan kebaikan, berhenti dari kebaikan atau tidak menyukai kebaikan. Maka siapa saja di antara kamu yang menjadi imam shalat, hendaklah ia meringankannya. Karena di antara makmum ada orang tua, ada orang lemah dan ada orang yang punya keperluan.”

Ada yang bisa terlihat dan ada yang tidak terlihat. Orang tua dan orang lemah bisa kita lihat, tapi orang punya keperluan kita tidak tahu. Apa yang ada di sakunya, apa yang ada dalam pikirannya, seperti yang pernah menimpa Mu’adz bin Jabal ketika mengimami shalat isya’, beliau membaca surat Al-Baqarah hingga ada salah satu makmum yang mufaroqoh (memisahkan diri). Maka itu menjadi pembicaraan di kalangan manusia. Maka Nabi memanggil Mu’adz dan memberikan peringatan yang keras kepada beliau. Nabi berkata:

Baca Juga:
Nasihat Ulama seputar Pembinaan Anak Usia Dini - Bagian ke-1 (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟ ثَلَاثًا. اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَنَحْوَهَا

“Apakah engkau menimbulkan fitnah di tengah-tengah manusia wahai Mu’adz? (Mu’adz memberikan satu hal yang berat bagi mereka). (tiga kali) Bacalah, “wasy syamsi wa dhuhaha, sabbihisma rabbikal a’la” dan surat-surat semisalnya.(HR. Bukhari dan Muslim)

Yaitu baca surat-surat yang pendek yang tidak menyulitkan orang-orang yang ikut shalat di belakang. Jika Rasulullah melarang bersikap berlebihan seperti itu dalam masalah pokok agama, lalu bagaimana pula di dalam masalah pendidikan yang harus kita beri satu kelonggaran, kenyamanan, comfortable bagi anak didik kita. Maka dari itu hendaklah seorang pendidik bisa bersikap proporsional antara memberikan keleluasaan yang berlebihan atau juga bersikap terlalu ketat sehingga menyulitkan bagi anak didik. Ini penting untuk menciptakan suasana nyaman di dalam pendidikan itu sendiri.

Tentunya anak didik itu akan merasa mudah untuk mengikuti pelajaran-pelajaran yang kita sampaikan. Terutama apabila anak didik kita sudah jenuh, kita harus tahu titik jenuh manusia dan hendaknya kita bisa memberikan waktu untuk istirahat atau waktu untuk melepaskan kepenatan. Karena manusia ada batasnya. Sebagian guru kita lihat ada yang keasikan mengajar hingga lupa anak didiknya sudah keletihan. Misalnya kita buka kelas sampai 4 jam, tentu bukan hanya anak didik yang capek, tapi yang bicara sebenarnya harusnya juga capek. Tapi sebagian orang ada yang kadang-kadang terlalu semangat sehingga lupa.

Baca Juga:
Keistimewaan-Keistimewaan Shalat

Maka Nabi juga membuat jadwal didalam memberikan pelajaran. Karena untuk menghilangkan rasa bosan pada pendengar atau pada orang-orang yang mengikuti pelajaran. Maka dari itu hendaknya diberikan pelajaran itu sesuai dengan porsinya, waktunya juga diperhatikan. Jangan terlalu berlebihan. Misalnya menasihati anak, tidak usah panjang-panjang, tidak usah sampai setengah jam kita ngomel, setengah jam kita bicara, itu tidak masuk semua. Ambillah Jawami’ul Kalim seperti yang sering dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi memilih Jawami’ul Kalim untuk menyampaikan nasihat. Kadang-kadang nasihat itu tidak panjang sehingga mudah diingat oleh orang yang mendengarnya. Dan banyak kondisi nasihat yang singkat padat dan tepat itu lebih diingat anak kita daripada omongan panjang lebar hingga kadang nasihat itu menjadi mentah. Padahal nasihat itu penting, misalnya. Tapi karena disampaikan terlalu berlebihan, sehingga kadang-kadang yang mendengar pun susah untuk menyimpulkan. Bahkan terkadang ngelantur kesana-kemari.

Maka ketika seorang ayah dan ibu ataupun guru memberikan nasihat, maka dia pilih kata-kata yang singkat padat dan tepat seperti yang sering dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia minta nasihat yang tidak panjang-panjang sehingga mudah diingat. Maka Nabi berkata kepadanya:

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah.”

Lihat juga: Hadits Arbain ke 16 – Hadits Larangan Marah

Baca Juga:
Muslim yang Terbaik adalah yang Terbaik Akhlaknya (Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)

Download dan simak penjelasan lengkapnya pada menit ke-9:50

Download mp3 Kajian Islam Tentang Pendidik Yang Lunak dan Fleksibel

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian Pendidik Yang Lunak dan Fleksibel ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Lihat juga: Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 69 = 79

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.