Telegram Rodja Official

Mencetak Generasi Rabbani

Anak Dan Penanaman Dasar-Dasar Keimanan

By  |  pukul 3:54 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 20 Mei 2020 pukul 3:54 pm

Tautan: https://rodja.id/2n0

Anak Dan Penanaman Dasar-Dasar Keimanan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada 19 Ramadhan 1441 H / 12 Mei 2020 M.

Kajian sebelumnya: Rumah Adalah Sekolah Pertama

Kajian Islam Ilmiah Tentang Anak Dan Penanaman Dasar-Dasar Keimanan

Seperti yang kita jelaskan sebelumnya bahwa pendidikan rumah merupakan dasar bagi pendidikan-pendidikan yang ada di luar. Bahwa pendidikan pertama yang harus dicicipinya adalah pendidikan di rumah. Dan kalau kita mengacu kepada para Salaf kita, ulama-ulama kita, mereka itu muncul dan berkembang dari rumah. Mereka berangkat dari rumah. Mereka mendapatkan pendidikan ataupun pengarahan ataupun bimbingan dari rumah. Dan itu menunjang kesuksesan mereka ketika menuntut ilmu keluar rumah bahkan kalaupun harus merantau ataupun ke negeri-negeri yang jauh mereka siap menghadapi itu semua karena mereka mendapatkan bekal yang cukup dari pendidikan yang diberikan oleh orang tua mereka di rumah. Maka jangan kita abaikan pendidikan di rumah itu.

Anak dan penanaman dasar-dasar keimanan

Berkaitan dengan rukun iman, itu perlu penanaman, pendoktrinan kepada anak-anak kita semenjak dini. Ini sangat penting karena ini adalah perkara yang mendasari aqidah ataupun keimanan seseorang.

Baca Juga:
Keutamaan Para Sahabat - Hadits 1547-1551 - Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah

Kita tahu bahwa ada enam rukun iman yang mesti diyakini. Dan itu tentunya tidak tumbuh begitu saja walaupun secara fitrah anak ini memiliki fitrah untuk beriman kepada penciptanya. Namun fitrah itu bisa saja rusak ataupun menyimpang apabila tidak dijaga dan dirawat. Oleh karena itu penanaman dasar-dasar keimanan ini harus diberikan kepada anak-anak kita semenjak dini di rumah.

Setiap bayi tentunya lahir diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas fitrah keimanan seperti yang kita sebutkan. Penciptaan ini sesuai dengan hikmah Ilahi. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan anak ini tentunya untuk satu tujuan yaitu agar anak ini mengenal Rabbnya dan beribadah kepada Rabbnya. Karena untuk itulah manusia siapapun dia diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala melahirkannya ke muka bumi ini, dia dilahirkan diatas fitrahnya, yaitu tauhid. Sebagaimana ini merupakan awal dari penciptaan manusia, yaitu Allah mengambil persaksian dari mereka sebagai hujjah dan argumentasi bagi umat manusia kelak pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surat Al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا…

Dan ingatlah ketika Kami mengeluarkan dari tulang sulbi Adam semua anak cucunya dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh-ruh mereka: ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Maka mereka menjawab: ‘Iya kami bersaksi bahwa Engkau adalah Rabb kami.’…” (QS. Al-A’raf[7]: 172)

Baca Juga:
Membangun Kedekatan Anak Dengan Allah

Jadi kita telah bersaksi pada saat itu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb kita. Dan semua itu tentunya Allah lakukan:

أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ

Agar pada hari kiamat nanti engkau tidak beralasan: ‘Sesungguhnya kami tidak tahu tentang hal itu.’” (QS. Al-A’raf[7]: 172)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil persaksian tauhid itu dari kita dan kita dilahirkan di atas persaksian tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits Qudsi bahwa Allah berkata:

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu itu hanif (lurus atau condong kepada tauhid dan menjauh dari syirik) Dan sesungguhnya mreka didatangi oleh setan-setan dan membuat mereka menyimpang dari agama mereka. Setan-setan itu mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka, lalu setan-setan itu menyuruh mereka untuk mensekutukan Aku dengan sesuatu yang lain yang Aku tidak turunkan kepada mereka keterangan sedikitpun.” (HR. Muslim)

Jadi setan merusak manusia dengan mengeluarkan mereka dari agama mereka, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal dan melakukan perbuatan-perbuatan syirik.

Allah menciptakan manusia itu hanif (diatas fitrah tauhidnya). Tapi setanlah yang merusak fitrah itu. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

Baca Juga:
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits 1001-1003 - TPP: Larangan Menjadikan Masjid sebagai Tempat Lalu-Lalang hingga Keutamaan Orang-Orang yang Ikut Perang Badar (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

“Sesungguhnya setiap bayi itu lahir diatas fitrah dan orang tuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.” (HR. Bukhari)

Di sini Nabi menisbatkan penyimpangan pada anak itu kepada orang tua. Yaitu ini adalah kesalahan awal dari orang tua, bukan yang lain. Karena orang tua yang bertanggung jawab penuh di sini atas anak-anak mereka. Maka Nabi mengatakan orang tuanya yang menjadi penyebab pertama walaupun anak ini mungkin menyimpang fitrahnya kepada Yahudi, Nasrani atau Majusi karena sebab-sebab yang lain. Tapi penyebab atau pemicu pertamanya adalah kelalaian orang tua. Orang tua tidak bisa lepas tanggung jawab di dalam bab ini.

Maka Nabi mengingatkan kepada kita pentingnya setiap orang tua menjaga segel tauhid pada anak-anak mereka bawah ini adalah perkara yang paling penting untuk dijaga pada anak-anak kita. Jangan sampai segel tauhid itu rusakو jangan sampai fitrah mereka rusak.

Dan fitrah yang dimaksud di dalam hadits tersebut adalah fitrah Islam, yaitu tauhid. Bahwa anak ini mengenal penciptanya dan meyakini adanya pencipta. Artinya apabila si bayi dibiarkan berkembang alami tanpa pengaruh apa-apa, niscaya dia akan memilih jalan iman, dia akan memilih tauhid, dia akan memilih meyakini bahwa penciptanya adalah Rabb yang Maha Esa, bukan Rabb yang banyak. Karena memang dia tercipta dengan karakter atau tabiat yang siap untuk menerima syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 4 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Download dan simak penjelasan lengkapnya pada menit ke-9:52

Lihat juga: Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

Download mp3 Kajian Islam Tentang Anak Dan Penanaman Dasar-Dasar Keimanan

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian Anak Dan Penanaman Dasar-Dasar Keimanan ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

56 ÷ 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.