Telegram Rodja Official

Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu

Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah

By  |  pukul 4:49 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 05 Juni 2020 pukul 12:51 pm

Tautan: https://rodja.id/2ng

Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 12 Syawal 1441 H / 04 Juni 2020 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah

Saat ini kita masih membahas segi-segi keutamaan dan kemuliaan ilmu yang dibawakan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dan dijelaskan secara panjang lebar di segi yang ke-37 tentang sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan orang yang berilmu, di antaranya kita kemarin sampai di pembahasan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di hadits tersebut:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya orang yang berilmu adalah pewaris para Nabi.”

Kemarin kita jelaskan bahwa ini menunjukkan orang yang berilmu memuliakan dan mencintai mereka karena ilmu dan sunnah yang mereka pelajari, ini merupakan bagian dari agama sebagaimana pernyataan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu di pertemuan yang lalu:

مَحَبَّةُ العَالِـمِ دِيْنٌ يُدَانُ بِهِ

“Mencintai orang yang berilmu ini merupakan agama untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Keterangan Imam Ibnul Qayyim selanjutnya, masih penjelasan tentang sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Selanjutnya beliau berkata:

Baca Juga:
Biaya Pengembalian Barang

وفيه تنبيه للعلماء على سلوك هدى الأنبياءوطريقتهم في التبليغ من الصبر والاحتمال ومقابلة إساءة الناس اليهم بالاحسان والرفق بهم واستجلابهم الى الله باحسن الطرق وبذل ما يمكن من النصيحة لهم

Kemudian dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini juga terdapat peringatan bagi orang-orang yang berilmu agar mereka selalu mengikuti pentunjuk para Nabi ketika menyampaikan agama yang agung ini.

Bagaimana para Nabi menyampaikan agama ini? Mereka mendapatkan pertentangan, mereka mendapatkan ejekan, bahkan dibunuh sebagian dari mereka ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Makanya ketika dikatakan orang-orang yang berilmu itu pewarisnya para Nabi, berarti juga mereka harusnya mewarisi akhlaknya para Nabi dalam kesabaran dan ketabahan mereka ketika menyebarkan agama ini.

Jadi peringatan bagi para ulama untuk menempuh dan mengikuti jalan para Nabi ketika menyampaikan agama ini. Yaitu mereka bersabar dan tabah dalam menanggung beban atau resiko yang akan didapatkan dari orang-orang yang tentu banyak tidak menyukai nasihat, apalagi orang yang akan ditegur disalahkan, juga sifat mereka membalas keburukan orang lain dengan cara yang baik, bukan keburukan dibalas dengan keburukan. Tolaklah dengan cara yang baik, ketika mereka diajak bicara oleh orang-orang jahil dengan kata-kata yang kasar, mereka malah mengucapkan kalimat-kalimat yang mengandung makna keselamatan, ini sifat para Nabi dan orang-orang yang beriman.

Jadi perlakuan buruk manusia yang ditujukan kepada manusia dibalas dengan perlakuan baik, berlemah lembut dalam menyampaikan dakwah. Dakwah sunnah itu dikenal dengan kelemahlembutan meskipun mereka menyampaikan yang haq, menegur kesalahan, mengingkari perbuatan syirik, tapi disampaikan dengan bahasa yang lemah lembut dan baik agar orang mudah menerima. Ini sudah sering kita contohkan, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menghadapi sampai pun orang-orang yang jelas-jelas punya kedengkian kepada beliau. Seperti perbuatan orang-orang Yahudi yang -disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam muslim- datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengucapkan salam yang diplesetkan:

السام عليك

Baca Juga:
Turunnya Nabi Isa 'Alaihis Salam

“Kebinasaan bagimu.”

Mereka mengucapkan seperti itu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjawab dengan kata-kata yang kasar, mereka malah menjawab:

وعليكم

“Dan atas kalian”

Yakni akan kembali kepada kalian sendiri doa keburukan tersebut. Disitulah ketika ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha yang marah mendengarkan ucapan mereka ini langsung membalas dengan:

السَّامُ عَلَيْكُمْ ، وَلَعَنَكُمُ اللَّهُ

“Dan atas kalian kebinasaan dan laknat dari Allah.”

Justru ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur ‘Aisyah dengan mengatakan:

مَهْلًا يَا عَائِشَةُ

“Pelan-pelan wahai ‘Aisyah.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelemah lembutan tidaklah diletakkan pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk.”

Jadi bersabar dan tabah dalam menanggung beban dakwah, karena ini adalah kemuliaan yang tentu membutuhkan kesabaran dalam upaya meraih kemuliaan tersebut. Membalas keburukan manusia dengan baik, berlemah lembut, mengajak manusia ke jalan Allah dengan jalan yang sebaik-baiknya. Perlu di ingat di sini, sebaik-baiknya jalan adalah yang pernah ditempuh oleh para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimus Shalatu was Salam.

Jadi jangan kita berpikir bahwa kita ingin mengajak manusia ke jalan Allah dengan cara yang baik, kita perlu menciptakan jalan sendiri yang kita anggap baik. Ini salah, sebagaimana ibadah tidak bisa kita karang sendiri.

Baca Juga:
Adakah Sifat Wajib Bagi Allah?

Dakwah itu ibadah, maka jalan untuk tujuan yang agung ini Allah telah syariatkan. Allah yang mensyariatkan tujuan yang indah dalam ibadah, dalam berdakwah, dalam mengajak manusia ke jalan Allah, tidak akan mungkin Allah melupakan jalan untuk mencapai semua itu.

Jadi mengajak manusia ke jalan Allah dengan cara yang terbaik, ini tidak boleh lepas dari syariat Islam, harus kita mengikuti jalan yang pernah ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berdakwah, ditempuh oleh para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in dan mereka yang berdakwah dengan cara yang terbaik untuk mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi kita hanya boleh melakukan hal-hal yang sesuai dengan syariat. Oleh karena itu tidak boleh seorang misalnya berpikir bahwa kita ingin mengajak manusia maka kita ikuti dulu keinginan mereka sampai dalam perkara-perkara yang terlarang, sampai dalam acara-acara bid’ah kita lakukan dulu, kita biarkan dulu, nanti kita nasihati, tidak boleh seperti ini. Kita boleh mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang tidak melanggar agama, ini sudah kita jelaskan beberapa kali. Sudah kita bahas perbedaan antara mudahanah sama mudarah. Mendekati dengan cara yang melanggar agama, dengan mendekati manusia dengan cara yang tidak melanggar agama bahkan dianjurkan di dalam agama, ini yang diperbolehkan tentu saja. Dan berusaha selalu menyampaikan nasihat kebaikan kepada mereka semaksimal mungkin.

Lalu Ibnul Qayyim melanjutkan:

Baca Juga:
5 Nasihat Nabi Yahya Untuk Bani Israil

فإنه بذلك يحصل له نصيبهم من هذا الميراث العظيم قدره الجليل خطره

“Maka dengan mempraktekkan sikap ini, barulah orang yang berilmu akan mendapatkan bagian dari warisan Nabi yang sangat agung kedudukannya ini dan sangat tinggi kemuliaannya ini.”

Jadi kalau dia cuma mengaku sebagai orang yang berilmu, pewarisnya para Nabi, katanya dia mewarisi ilmunya para Nabi, tapi kenapa akhlaknya para Nabi tidak diwarisinya atau tidak dipraktekkannya? Jelas ini tidak benar. Oleh karena itu dakwah yang dibangun diatas kata-kata yang kasar dan keras, kata-kata yang pantas apalagi ketika mengajak orang-orang awam ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini bukankah dakwah yang mewarisi dakwah para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimus Shalatu was Salam. Sebaliknya, dakwah yang mengikuti semua keinginan masyarakat sampai dalam perkara-perkara diterima semua pihak, tidak ada nasihat atau menegur sampai dalam perkara-perkara yang menyangkut tauhid dan syirik atau sunnah dan bid’ah, ini juga bukan dakwah yang mewarisi dakwah para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimus Shalatu was Salam.

Sebaik-baik perkara yang ditengah-tengah; tetap sampaikan kebenaran, sampaikan kebaikan, tegakkan ‘amar ma’ruf nahi munkar, tapi pilihlah dengan kata-kata dan cara yang baik yang tidak melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selanjutnya kata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala:

وفيه ايضا تنبيه لاهل العلم علىتربية الامة كما يربى الوالد ولده فيبربونهم بالتدريج والترقي من صغار العلم إلى كباره

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Ahzab Bag 1

Simak penjelasan lengkapnya pada menit ke-11:10

Download MP3 Kajian Tentang Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah

Download mp3 kajian yang lain di mp3.radiorodja.com

Mari turut membagikan link download kajian Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× 8 = 72

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.