Telegram Rodja Official

Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad

Beriman Kepada Hari Akhir

By  |  pukul 6:42 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 28 Juli 2020 pukul 10:31 am

Tautan: https://rodja.id/2pq

Beriman Kepada Hari Akhir merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar As-Sundawy. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 03 Dzulhijjah 1441 H / 24 Juli 2020 M.

Download kajian sebelumnya: Keadaan Ketika Sangkakala Ditiup

Kajian Tentang Beriman Kepada Hari Akhir

Sekarang kita memasuki pembahasan tentang iman kepada hari akhir. Hari kiamat disebut hari akhir karena itu masa-masa terakhir dari kehidupan dunia. Adanya hari kiamat atau hari akhir bisa difahami oleh akal, didalili oleh dalil fitrah dan tentu saja dalil naqli atau dari nash (wahyu). Dan inipun telah dijelaskan oleh seluruh kitab-kitab samawi, diserukan oleh para Nabi dan para Rasul. Allah ‘Azza wa Jalla pun telah mengabarkan tentang hari kiamat ini dalam Al-Qur’anul Karim, Allah telah tegakkan dalil tentang hal itu dari segala aspek. Dan Allah juga membantah orang-orang yang mengingkari adanya hari kiamat di banyak surat dalam Al-Qur’an.

Kalau mengakui keberadaan Allah ‘Azza wa jalla, itu semua orang pasti mengakuinya. Bahkan pada hakikatnya orang-orang yang Atheis pun mengakui. Adapun orang yang mengingkari keberadaan Allah ‘Azza wa Jalla, itu karena ketakaburan atau kesombongan, hatinya yakin tapi secara lisan dan perbuatan seolah-olah tidak mengakuinya. Contohlah Fir’aun, dia mengingkari keberadaan Allah, tapi hatinya meyakini. Dari mana kita tahu hati Firaun? Tentu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:

Baca Juga:
Bahaya Tidak Berhukum dengan Hukum Allah

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ …

Mereka itu mengingkari dakwah Nabi Musa, padahal hati-hati mereka meyakininya…” (QS. An-Naml[27]: 14)

Kenapa hati yakin tapi ucapan dan perbuatannya ingkar? Yaitu karena:

…ظُلْمًا وَعُلُوًّا…

Kedzaliman dan kesombongna mereka.” (QS. An-Naml[27]: 14)

Tapi hatinya mengakui keberadaan Allah. Jika ada yang mengingkari, itu adalah kepura-puraan atau hanya sedikit.

Adapun yang mengingkari adanya hari kiamat, jauh lebih banyak. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah penutup para Nabi. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Nabi terakhir, tidak ada lagi Nabi setelah itu. Kalau ada yang mengaku Nabi setelah beliau, pasti palsu, wajib diingkari. Beliau diutus oleh Allah dalam keadaan jarak antara beliau dengan hari kiamat seperti ini (Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengacungkan dua jarinya, yaitu jari tengah dan jari telunjuk).

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ

“Aku diutus ketika jarak antara aku dengan hari kiamat itu seperti ini.” (HR. Bukhari)

Dan beliau pun telah menjelaskan secara rinci tentang kiamat dengan penjelasan yang tidak terdapat dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.

Al-Qur’an sendiri menerangkan tentang adanya hari kiamat dengan berbagai macam cara atau metode. Kadang-kadang dengan cara memberitahukan zaman dahulu ada orang yang sengaja oleh Allah dimatikan lalu dihidupkan kembali saat itu atau dihidupkan kembali setelah beberapa lama dimatikan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam beberapa ayat, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 55 dan 56, ketika kaum Nabi Musa menyatakan ingin melihat Allah. Sedangkan di dunia Allah tidak mungkin bisa dilihat, sekalipun oleh seorang Nabi yang termulia, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi di surga, semua ahli surga bisa melihat Allah.

Baca Juga:
Ihsan kepada Kerabat dan Pasangan Hidup - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Bani Israil atau kaum Nabi Musa menyatakan: “Coba perlihatkan Allah kepada kami secara jelas.” Apa yang terjadi?

…فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ ﴿٥٥﴾

Lalu kalian disambar oleh petir, padahal saat itu kalian menyadari hal itu, lalu mati.” (QS. Al-Baqarah[2]: 55)

Pada ayat selanjutnya Allah berfirman:

ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّن بَعْدِ مَوْتِكُمْ…

Kemudian Kami bangkitkan kembali kalian setelah kalian mati...” (QS. Al-Baqarah[2]: 56)

Ini adalah kejadian pertama. Adapun kejadian kedua adalah yang diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 243:

الَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّـهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ

Orang-orang yang keluar dari negeri-negeri mereka jumlahnya ribuan karena takut mati; lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kamu”, setelah beberapa lama Allah menghidupkan mereka kembali untuk memberi pelajaran.” (QS. Al-Baqarah[2]: 243)

Itu kasus kedua yang Allah ceritakan dimana Allah mematikan orang kemudian menghidupkan kembali. Termasuk kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam dalam Al-Baqarah 260 Allah menyatakan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati’.

Allah menjawab:

أَوَلَمْ تُؤْمِن

Kamu belum percaya?

Nabi Ibrahim menjawab:

بَلَىٰ وَلَـٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Baca Juga:
Tafsir Surat At-Takwir - Bagian ke-2 - Kitab Tafsir Al-Muyassar (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Aku telah meyakinkannya, tetapi untuk lebih meyakinkan lagi hatiku.”

Akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla menyuruh Ibrahim untuk menangkap empat ekor burung lalu dijinakkan, sehingga dari manapun burung itu berada ketika dipanggil mereka datang. Setelah itu Allah menyuruh agar burung yang sudah jinak itu dipotong-potong, dimutilasi, lalu disebarkan ke beberapa gunung. Dagingnya, tulangnya, bulu-bulunya, semua bagian-bagian yang sudah hancur disebarkan secara terpisah. Lalu panggil lagi, dan ketika dipanggil keempat burung tadi datang lagi dalam keadaan utuh tanpa kurang sesuatu apapun, tanpa ada yang terbalik bulunya.

Banyak lagi kasus-kasus lainnya yang menjelaskan Allah ‘Azza wa Jalla mematikan makhluk di dunia lalu dihidupkan lagi. Termasuk bagaimana Nabi Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam diberi mukjizat oleh Allah bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati dengan izin Allah, sudah dikubur ribuan tahun kemudian dibangkitkan kembali atas izin Allah ‘Azza wa Jalla. Termasuk bagaimana kisah Ashabul Kahfi yang oleh Allah ‘Azza wa Jalla dimatikan lebih dari 300 tahun kemudian setelah 300 tahun ditidurkan Allah bangkitkan kembali tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Semua kasus itu menjelaskan bahwa mudah bagi Allah menghidupkan orang atau makhluk yang sudah mati dan ini salah satu diantara penjelasan yang meyakinkan tentang adanya hari kebangkitan kalak. Dan hari kebangkitan termasuk bagian dari kejadian dalam hari kiamat.

Baca Juga:
Dalil-Dalil dan Penjelasan Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Beriman Kepada Hari Akhir” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

28 ÷ 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.