Telegram Rodja Official

Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

By  |  pukul 7:49 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 18 Agustus 2020 pukul 7:40 am

Tautan: https://rodja.id/2qm

Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 25 Dzul Hijjah 1441 H / 15 Agustus 2020 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Di antara hak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para MalaikatNya telah bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hambaNya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab[33]: 56)

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para MalaikatNya, sedang shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Imam Ibnu Qayyim menyebutkan hal ini dalam kitabnya جلاء الإفهام في فضل الصلاة والسلام على محمد خير الأنام.

Baca Juga:
Ahlul Bidah Sering Menjuluki Ahlus Sunnah dengan Julukan yang Jelek - Kitab Aqidah As-Salaf Ashabul Hadits (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan RasulNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Allah memuji beliau di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat beserta salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah.

Adapun makna kalimat: “Ucapkanlah salam untuknya,” adalah berilah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan jika bershalawat kepada Nabi Muhammad hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau.

Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan: “Shallallaahu ‘Alaihi (semoga shalawat dilimpahkan untuknya)” atau hanya mengucapkan: “‘Alaihis Salaam (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan).” Jadi digabung, yaitu:

والصلاة والسلام على رسول الله

atau

اللهم صل وسلم على نبينا محمد

atau

صلى الله عليه وسلم.

Hal ini karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Jadi mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah muakkadah.

Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat) untuk shalawat. Beliau Rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya.

Baca Juga:
Do'a Agar Permintaan Cepat Terkabul

Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab muadzdzin (ketika selesai adzan), ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, ketika menyebut nama beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Sunannya dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu)

Jadi disuruh untuk banyak bershalawat, terutama dimalam jumat dan dihari jumat. Dan orang yang bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan 10 shalawat.

Di dalam buku Doa dan Wirid saya sebutkan tentang keutamaan membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lihat halaman 367, cetakan ke-34.

Dijelaskan juga oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir tentang makna shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah pujian dan sanjungan kepada beliau di sisi para MalaikatNya.

Baca Juga:
Sikap Kaum Muslimin Terhadap Penguasa - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Orang yang bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan ganjaran 10 shalawat dari Allah.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah akan memberikannya balasan shalawat kepadanya sepuluh kali.”

Orang yang disebutkan nama Nabi tapi dia tidak bershalawat kepada beliau, maka orang ini Nabi katakan sebagai orang yang bakhil. Maka ketika disebutkan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, antum sebutkan اللهم صلي وسلم عليه. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْبخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ، فَلَم يُصَلِّ علَيَّ

“Orang yang bakhil (pelit) itu adalah orang yang disebutkan namaku di sisinya tapi dia tidak shalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan An-Nasa’i)

Bahkan Nabi pernah menyebutkan: “CELAKA”, siapa yang celaka? Yaitu orang yang disebutkan namaku tapi dia tidak bershalawat kepadaku.

Makanya antum memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Justru kalau kita ngaji seperti ini, menuntut ilmu ini, kita akan banyak bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang yang belajar hadits Nabi adalah orang yang paling banyak shalawatnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setiap kita shalawat dan salam, itu akan disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ ، يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ

Baca Juga:
Menetapkan 4 Khilafah (Bagian ke-1: Abu Bakar Ash-Shiddiq dan 'Umar bin Khaththab) serta Membongkar Hakikat Agama Syiah - Kitab I'tiqad Ahlus Sunnah lil Imam Abi Bakr Al-Isma'ili (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

“Sungguh Allah mempunyai para Malaikat yang senantiasa berkeliling di muka bumi yang akan menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” (Hadits shahih riwayat Imam An-Nasa’i, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Al-Hakim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسلِّمُ علَيَّ إلاَّ ردَّ اللَّه علَيَّ رُوحي حَتَّى أرُدَّ عَليهِ السَّلامَ

“Tidaklah seorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku supaya aku bisa membalas salam tersebut.” (Hadits Hasan riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Ini adalah kekuasaan Allah yang diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjawab salam. Adapun tentang kaifiatnya kita tidak tahu. Karena alamnya juga berbeda.

Tempat mengucapkan shalawat

Adapun tempat dan waktu mengucapkan shalawat bukan pembatasan. Tempat dan waktunya banyak, kurang lebih ada 40 tempat dan waktu. Saya sebutkan beberapa saja.

Pertama, dalam shalat. Kita diperintahkan untuk membaca shalawat pada tasyahud awal dan tasyahud akhir. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menegur seseorang yang tidak bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam hadits Fadhalah bin ‘Ubaid Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad, riwayat shahih.

Dijelaskan oleh Imam Syafi’i Rahimahullah dalam kitabnya Al-Umm di juz yang pertama. Kata Imam Syafi’i bahwa lafadz tasyahud awal dan tasyahud akhir adalah sama, tidak ada perbedaan. Adapun yang dimaksud dengan tasyahud ini adalah tasyahud serta shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena tidak sempuna bila salah satunya ditinggalkan.

Baca Juga:
Beribadah Kepada Allah Sesuai Dengan Syariat

Pernah ada seorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang bagaimana kaifiyat bershalawat, dan hal ini diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedua, dalam shalat jenazah. Disunnahkan membaca shalawat dalam shalat jenazah sesudah takbir yang kedua. Hal ini berdasarkan hadits yang masyhur dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif Radhiyallahu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm, Ibnul Jarud dalam kitabnya Al-Muntaqa, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, dan Baihaqi dalam Sunannya, dan juga yang lainnya.

Jadi shalat jenazah itu ada empat takbir; Takbir pertama membaca Al-Fatihah, takbir kedua membaca shalawat, takbir ketiga membaca doa, yang keempat doa, kemudian salam.

Ketiga, dalam khutbah. Seperti khutbah jumat, khutbah idul fitri, khutbah idul adha, khutbah istisqa dan yang lainnya.

Keempat, setelah menjawab adzan. Kemudian juga ketika kita menjawab adzan ini kita membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hal ini dijelaskan dalam buku Doa dan Wirid di halaman 204, ada lima hal yang disunnahkan bagi kita ketika adzan dikumandangkan. Yaitu:

  1. Menjawab adzan seperti yang diucapkan oleh Muadzin kecuali حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ dan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ dijawab dengan لاحول ولا قوة إلا بالله.
  2. Sesudah Muadzin mengumandangkan adzan maka kita mengucapkan: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا،وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا.
  3. Membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  4. Membaca doa sesudah adzan.
  5. Disunnahkan berdoa antara adzan dan iqamah karena doa antara adzan dan iqamah maqbul.
Baca Juga:
Membela Kalimat Tauhid dengan Istigatsah Hanya Kepada Allah

Kelima, ketika berdoa. Kita kita berdoa ini ada tiga cara: bisa kita shalawat sebelum berdoa (diawal), shalawat ditengah, atau bisa juga diakhir doa.

Dimana lagi tempat untuk mengucapkan shalawat dan apa manfaat shalawat yang sangat besar? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Jangan lupa untuk membagikan link download kajian tentang “Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” ini melalui Facebook, Twitter atau yang lainnya. Jazakumullahu khoiron.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 3 = 6

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.