Telegram Rodja Official

Aktualisasi Akhlak Muslim

Wara’ Dalam Hal Rezeki

By  |  pukul 2:52 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 04 September 2020 pukul 9:00 am

Tautan: https://rodja.id/2r6

Wara’ Dalam Hal Rezeki adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Aktualisasi Akhlak Muslim. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 12 Muharram 1442 H / 31 Agustus 2020 M.

Kajian sebelumnya: Wara’ Dalam Hal Ucapan

Ceramah Agama Islam Tentang Wara’ Dalam Hal Rezeki

Salah satu bentuk wara’ adalah wara’ dalam hal perut dan mata pencaharian. Dan biasanya ini adalah asal dari wara’ itu, yaitu wara’ di dalam hal rezeki, apa-apa masuk ke dalam tubuh kita. Nabi mengatakan dalam hadits:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari rezeki yang haram, neraka lebih pantas untuknya.” (HR. Ahmad)

Maka dari itu perlu kita memiliki sifat wara’ di dalam hal perut dan mata pencaharian. Yaitu dengan menjaga kehalalan segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita, kedalam rumah kita, baik berupa makanan, minuman, maupun harta. Orang yang bersikap wara’ terhadap perutnya, maka dia akan berhati-hati dan tidak akan mengkonsumsi sesuatu yang jelas-jelas haram maupun yang masih syubhat, baik itu makanan yang memang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya ataupun perkara-perkara yang asalnya halal akan tetapi diperoleh dengan cara yang haram. Maka dia tidak halal kita makan karena bukan hak kita.

Baca Juga:
Pesan Rasulullah tentang Keadilan dan Perintah untuk Menjauhi Kezaliman - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Dalam hal ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ الإِنْسَانِ بَطْنُهُ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَأْكُلَ إِلَّا طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ

“Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali busuk adalah perutnya. Oleh karena itu siapa yang mampu untuk tidak mengonsumsi makanan selain makanan yang baik-baik saja, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Bukhari)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkan athThayyibat.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ…

Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik...” (QS. Al-Mu’minun[23]: 51)

Demikian pula orang-orang yang beriman, Allah perintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ …

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah[2]: 172)

Jadi disamping halal juga baik bagi kita. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan di sini bahaya perut. Apalagi yang masuk itu adalah perkara-perkara yang haram. Kita tahu bahwa perkara-perkara yang haram itu pasti membawa mudzarat bagi tubuh kita. Dan bisa jadi makanan yang haram itu menjadi sumber penyakit, baik itu penyakit jasmani maupun penyakit rohani. Kalau makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa Ta’ala, misalnya daging babi yang Allah haramkan, bangkai, darah dan sejenisnya, itu pasti membawa mudharat bagi tubuh kita. Tidak baik dikonsumsi oleh manusia, maka jika Allah mengharamkannya pasti membawa mudharat, banyak mengandung penyakit-penyakit. Seperti mungkin salah satu sebab wabah pandemi virus yang beredar di tengah-tengah manusia itu karena memakan makanan yang diharamkan. Kemudian virus-virus itu pindah ke tubuh manusia.

Baca Juga:
Hakikat Pemuliaan Terhadap Seorang Manusia

Maka dari itu di dalam Islam, kita diatur segala hal yang berkaitan dengan makan. Karena makan itu bukanlah perkara yang simple. Manusia perlu makan untuk hidup. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur dengan ketat urusan makan. Mulai dari cara makan, bagaimana mencari makan, apa yang boleh dimakan, bagaimana cara makan, bahkan mengolah makanan, dalam Islam itu diatur. Begitu detailnya Islam mengatur setiap sendi kehidupan manusia. Karena memang Islam diturunkan untuk kemaslahatan manusia.

Maka orang yang wara’ di dalam hal perutnya, dia akan menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia menjauhi khamr, karena itu dapat merusak otaknya. Dia menjauhi bangkai dan babi dan darah, karena itu dapat merusak tubuhnya.

Adapun makanan-makanan yang sebenarnya halal tapi haram karena dicari atau didapat dengan cara yang haram, ini dapat merusak rohani seseorang. Banyak penyakit-penyakit rohani itu disebabkan rezeki yang haram. Seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam surat Al-Maidah ayat 42, yaitu tentang sifat-sifat Yahudi, Allah mengecam mereka karena mereka suka memakan harta yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Orang-orang Yahudi itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta yang haram.” (QS. Al-Maidah[5]: 42)

Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya mengatakan bahwa salah satu bentuk memakan yang haram yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu adalah menerima suap. Rezeki yang haram itu berpengaruh kepada perilaku mereka, banyak penyakit-penyakit rohani pada diri mereka. Seperti kenyinyiran mereka, keras kepala mereka, kesombongan mereka, hasad yang ada di tengah-tengah mereka, itu adalah akibat dari rezeki yang haram tadi. Munculah penyakit-penyakit rohani.

Baca Juga:
Mengajarkan Anak Untuk Menutup Aurat

Maka makanan yang haram, baik itu dzatnya ataupun karena cara mencarinya yang haram, itu akan menimbulkan banyak penyakit-penyakit pada diri manusia. Mulai dari penyakit-penyakit jasmani sampai penyakit-penyakit rohani. Maka kalau kita ingin sehat jasmani dan rohani, pastikan makanan yang kita makan itu adalah yang halal, makanan yang baik bagi kita. Dan apabila kita ingin terhindar dari penyakit-penyakit rohani, maka pastikan makanan yang kita makan itu berasal dari rezeki yang halal, bukan dari yang haram. Karena rezeki yang haram seperti yang terjadi pada orang-orang Yahudi itu berdampak pada perilaku mereka.

Seperti orang yang suka makan riba, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan mereka seperti orang yang kerasukan setan, tidak pernah merasa puas, bertambah penyakit tamaknya semakin menjadi-jadi. Itu akibat dari perilaku mereka yang suka memakan riba. Maka harta haram ini akan berimbas pada akhlak dan perilaku. Sebagian orang kita lihat banyak padanya penyakit-penyakit rohani, setelah ditelusuri ternyata penyebabnya adalah karena rezeki yang haram tadi. Mungkin pekerjaannya atau cara mencari harta itu yang haram, penuh dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka itu berakibat pada kesehatan rohaninya. Rohaninya pun menjadi sakit.

Maka perlu bagi kita untuk wara’ dalam hal perut tadi. Nabi tadi mengatakan bahwa perkara yang paling pertama busuk dari tubuh manusia adalah perutnya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan barangsiapa yang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik-baik saja, yaitu memastikan apa yang dimakannya adalah rezeki yang halalan thayyiban, hendaklah dia melakukannya, dia bersungguh-sungguh untuk mengupayakan agar yang masuk ke dalam tubuhnya itu adalah makanan yang halal.

Baca Juga:
Fitnah Wanita dan Bahaya Ikhtilat

Menghalangi terkabulnya doa

Dan salah satu dampak buruk dari rezeki yang haram adalah dia akan menghalangi terkabulnya doa. Ini adalah musibah besar dalam hidup manusia, yaitu ketika doanya terhijab, doanya terhalang, apa yang bisa dia lakukan jika doanya ternyata terhijab? Sementara manusia perlu dan sangat membutuhkan doa dan sangat perlu doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun apa daya bila ternyata doanya terhijab? Dan salah satu sebab, bahkan ini sebab terbesar doa terhijab adalah rezeki yang haram. Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya, Nabi bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا ، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa-apa yang Allah perintahkan kepada para Nabi dan Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

Wahai Para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah kamu.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 51)

dan Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 172)

Baca Juga:
Cara Bergaul Dengan Istri, Kerabat, Teman dan Masyarakat - Al Wasaail Mufiidah Lil Hayaatis Sa'iidah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Download mp3 yang lain tentang Aktualisasi Akhlak Muslim di sini.

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Wara’ Dalam Hal Rezeki” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× 9 = 45

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.