Telegram Rodja Official

Kitab Shahih Bukhari

Adab Dalam Bertanya

By  |  pukul 4:20 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 15 September 2020 pukul 4:47 pm

Tautan: https://rodja.id/2r9

Adab Dalam Bertanya ini merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. dalam pembahasan Kitabul ‘Ilmi dari kitab Shahih Bukhari. Kajian ini disampaikan pada Selasa,13 Al-Muharram 1442 H / 01 September 2020 M.

Status Program Kajian Kitab Shahih Bukhari

Status program kajian Kitab Shahih Bukhari: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa pekan ke-1 dan ke-3, pukul 10:00 - 11:30 WIB.

Download mp3 kajian sebelumnya: Tamak Mencari Ilmu Hadits

Ceramah Agama Islam Tentang Adab Dalam Bertanya

Kembali kita bersama kitab shahih Al-Bukhari, yang pada pagi hari ini memasuki باب من سأل وهو قائم عالما جالسا (Bab barangsiapa yang bertanya dalam keadaan berdiri, sementara orang alim yang dia tanya dalam keadaan duduk). Ini adalah diantara adab dalam bertanya yang akan dibahas oleh Imam Al-Bukhari melalui hadits kejadian dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana seseorang bertanya kepada Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan duduk, sementara yang bertanya dalam keadaan berdiri.

Baca Juga:
Jangan Duakan Dia

Ini dia bahasanya, dan ini adalah bagian daripada adab-adab dalam bertanya kepada orang alim. Apakah ini tercela? Apakah ini dibolehkan atau ini terlarang? Mari kita dengarkan haditsnya.

Berkata Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari Rahimahullah, hadits berasal dari sahabat Nabi yang mulia, Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu. Berkata Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله ما القتال في سبيل الله فإن أحدنا يقاتل غضبا ويقاتل حمية

“Datang seorang lelaki kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Wahai Rasulullah, apa itu jihad fi sabilillah? Karena salah seorang diantara kami boleh saja berperang karena marah dan boleh jadi diantara kami berperang karena membela kesukuan/kelompok.'”

Sebagaimana yang dahulu terjadi, orang-orang Quraisy berperang karena kesukuan, mempertahankan kesukuan, mempertahankan kelompok.

فرفع إليه رأسه

“Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kepala beliau kepada yang bertanya”

Ini menunjukkan bahwa Nabi dalam keadaan duduk. Sehingga Nabi butuh mengangkat kepala beliau kepada yang bertanya. Dan yang bertanya dalam keadaan berdiri. Sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membutuhkan untuk mengangkat kepala beliau menatap orang yang bertanya.

وما رفع إليه رأسه إلا أنه كان قائما

“Dan tidaklah Nabi mengangkat kepadanya kepala beliau melainkan yang bertanya dalam keadaan berdiri.”

Baca Juga:
Kompensasi Pada Khiyar 'Aib - Hukum Syarat Jual Beli - Kitab Zadul Mustaqni (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله عز وجل

“Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi kalimat yang tinggi, maka dialah yang berperang dijalan Allah ‘Azza wa Jalla.” Dan kalimat Allah yang dimaksud adalah Laa Ilaaha Illallah, kalimat tauhid.

Ini haditsnya yang dibawakan oleh Imam Al-Bukhari di dalam adab bertanya dari seorang yang bertanya kepada Nabi kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan di dalamnya terkandung adab. Dan sebagaimana yang kita dengarkan dari terjemahan hadits yang kita bacakan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak marah kepada seseorang yang bertanya kepada beliau dalam keadaan berdiri sementara beliau dalam keadaan duduk. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menasihatinya untuk merubah posisi ketika dia berdiri, tidak menegurnya dan memerintahkan untuk duduk terlebih dahulu atau bagaimana, ini menunjukkan bahwa hal seperti ini tidaklah tercela. Kalau dia adalah sesuatu yang terlarang, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menegur sahabat tersebut, duduk dulu baru bertanya. Seandainya cara seperti ini dan perilaku seorang penuntut ilmu seperti ini terlarang, niscaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan memberikan arahan dan tegurannya. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berdiam diri ketika di depannya ada kebatilan. Ini sifat Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Keutamaan Umat Islam Dibanding Umat Yang Lain - Khutbah Jum'at

Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh sahabat yang datang bertanya tersebut bukanlah perkara yang batil. Yaitu Nabi dalam keadaan duduk dan beliau datang bertanya tidak duduk terlebih dahulu, namun sambil berdiri saja bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diamnya Nabi, tidak menasehati orang yang bertanya sambil berdiri menunjukkan bahwa ini bukanlah bagian daripada kesalahan dalam bertanya. Dan ini bukanlah bentuk daripada kurang menghargai seorang alim yang sedang duduk lalu kita bertanya dalam keadaan berdiri.

Dan ini sering kita temukan bersama para ahli ilmu, dimana saking banyaknya yang bertanya di sekeliling beliau. Dan saking banyaknya yang menyimak, mereka tidak bisa lagi duduk, akan tetapi mereka berdiri. Ada yang sambil jongkok, ada yang sambil berdiri, mereka ingin mendengarkan apa yang ditanyakan dan apa jawaban dari alim dan terkadang yang berdiri pun mengajukan pertanyaan. Dan alim tersebut dengan ridhanya menjawab, dengan tanpa terasa terganggu, tanpa merasa bahwa ini adab yang kurang baik, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para penuntut ilmu yang bertanya dalam keadaan berdiri sementara alim tersebut dalam keadaan duduk.

Larangan berdiri kepada orang yang dimuliakan

Disisi lain, para ahli ilmu membahas larangan berdiri kepada orang yang dimuliakan. Dan ini juga tidak termasuk di dalam larangan tersebut. Terkadang orang-orang yang mulia dalam strata dunia, dia justru ingin orang lain berdiri menghormati dirinya. Bahkan berdiri itu dianggap pengagungan.

Baca Juga:
Menawarkan Islam kepada Orang Tua Non-Muslim, Berbakti kepada Orang Tua yang Meninggal Dunia, dan Berbakti dengan Menyambung Silaturahmi Orang Tua - Hadits 34-41 - Kitab Adabul Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Oleh karena itu lihat, sering sekali apabila seorang yang memiliki kedudukan datang, kita disuruh untuk berdiri memberikan penghormatan dan pemuliaan kepada orang berkedudukan yang datang. Dan ini adalah berdiri yang tercela. Berdiri yang seperti ini di dalam agama kita tercela, dilarang oleh Nabi kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena ini akan menimbulkan kesombongan. Makankala seseorang datang harus disambut dengan berdirinya orang-orang yang datang terlebih dahulu.

Apakah berdirinya orang yang bertanya tersebut termasuk berdiri yang tercela dalam agama kita?

Berdiri untuk mengagungkan dan memuliakan seorang alim yang duduk. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam syarah hadits ini mengatakan bahwa ini bukanlah bagian dari berdiri yang terlarang dengan syarat tidak sombongnya orang yang dimuliakan dengan cara berdiri. Dan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling jauh daripada sifat sombong. Beliau adalah orang yang paling tawadhu di permukaan bumi.

Ini dia adab yang dibahas dalam bab kali ini dan ini yang diinginkan oleh Imam Al-Bukhari, yaitu adab bertanya kepada guru, adab memuliakan guru. Dan sudah kita bahas hal yang berhubungan dengan maksud dan tujuan didatangkannya bab ini oleh Imam Al-Bukhari dan didatangkannya hadits ini untuk menerangkan kepada kita bahwa hal yang seperti ini bukanlah celaan kepada orang alim dan hal seperti ini bukanlah celaan kepada yang berdiri, dan ini bukanlah termasuk adab yang tidak baik manakala seorang guru dalam keadaan duduk lalu kita bertanya dalam keadaan berdiri sehingga guru itu butuh untuk mengangkat kepalanya yang mungkin menurut sebagian orang ini adalah akhlak yang kurang baik, akhlak yang tercela, sopan santun yang kurang, akan tetapi di dalam hadits ini tegas kejadian bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh seorang sahabat dan sahabat yang bertanya dalam keadaan berdiri sementara Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan duduk.

Baca Juga:
Serba-serbi Hadits Indah Pilihan - Bagian ke-8 - Hadits tentang Penjelasan Nadzar, Hadits Anjuran untuk Membunuh Cicak, dan Seterusnya - Bab 370 - Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. Dr. 'Abdur Razzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr)

Setelah selesai pembahasan adab dalam bertanya, kita masuk kepada ilmu yang akan kita dapatkan dari pertanyaan. Ternyata sahabat tersebut bertanya kepada Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apa yang disebut jihad fi sabilillah? Atau kapan seseorang dinamakan berjihad fi sabilillah?”

Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Ceramah Agama Islam

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Adab Dalam Bertanya” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

35 ÷ 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.