Telegram Rodja Official

Riyadhus Shalihin

Meraih Keberkahan Makanan

By  |  pukul 9:10 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 10 September 2020 pukul 8:47 am

Tautan: https://rodja.id/2rn

Meraih Keberkahan Makanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 20 Al-Muharram 1442 H / 8 September 2020 M.

Kajian sebelumnya: Menghadiri Undangan Saat Sedang Berpuasa

Ceramah Agama Islam Tentang Meraih Keberkahan Makanan

Hadits yang akan kita bahas pada hari ini yaitu hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذا وَقَعَتْ لُقمَةُ أَحدِكُمْ، فَليَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أذىً وليَأْكُلْهَا، وَلاَ يدَعْها للشَّيطَانِ، وَلا يمسَحْ يَدهُ بِالمِنْدِيلِ حتَّى يَلعقَ أَصَابِعَهُ، فإِنه لاَ يَدرِي في أَيِّ طعامِهِ البركةُ

“Apabila ada sepotong makanan kalian yang jatuh, maka ambillah potongan makanan yang jatuh itu kemudian bersihkan dan makanlah. Dan janganlah orang itu membiarkan makanan tersebut untuk setan. Dan jangan dia mengeringkan tangannya dengan sapu tangan (tisu atau serbet) hingga dia menjilati jari jemarinya. Karena sesungguhnya dia tidak mengetahui pada bagian manakah dari makan dia itu yang disana terdapat berkah.” (HR. Muslim)

Jadi hadits ini menjelaskan kepada kita tentang tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengajarkan untuk pandai mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga betul-betul kita manfaatkan rezeki yang diberikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita. Jangan kita remehkan, jangan kita bersikap tabdzir (boros), terkadang ada orang yang makanannya jatuh baru sebentar atau jatuh di tempat yang tidak ada kotorannya sama sekali, itu langsung dibuang. Padahal Islam melarang kita tabdzir.

Baca Juga:
Pentingnya Ta'awun dalam Dakwah

Oleh karena itu kalau kita mempunyai makanan yang cukup, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kalau misalnya seseorang tidak mau memakan makanan itu, sedekahkan kepada orang lain. Karena masih banyak orang-orang yang kurang makanannya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan dalam hadits ini supaya tidak menjadi orang yang mubadzir. Karena:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Bahwa orang-orang yang tabdzir itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra[17]: 27)

Ini adalah adab yang pertama yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini. Yaitu makanan yang terjatuh diambil, dibersihkan, dimakan. Kalau tidak ada kotoran, maka bisa langsung dimakan, tidak ada masalah.

Mengapa kita mengambil makanan yang terjatuh itu kemudian kita bersihkan lalu kita makan? Kata beliau:

،وَلاَ يدَعْها للشَّيطَانِ

“Dan jangan dia biarkan makanan itu untuk setan.”

Ini menunjukkan bahwa setan ketika ada makanan jatuh dan dibiarkan maka akan dimakan oleh setan. Setan tidak bisa mengambil makanan atau ikut serta dalam makanan kita kalau kita membaca Bismillah.

وَلا يمسَحْ يَدهُ بِالمِنْدِيلِ حتَّى يَلعقَ أَصَابِعَهُ

“Dan jangan dia membersihkan tangannya dengan sapu tangan atau dengan tisu, hingga dia menjilati jari jemarinya yang digunakan untuk makan itu (tangan kanannya).”

Apa alasannya? Yaitu karena dia tidak mengetahui pada bagian makanan manakah terdapat keberkahan. Jadi kita menghabiskan makanan itu untuk mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanan yang berkah dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila masuk dalam tubuh seseorang akan menjadi kekuatan baginya untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Hadits Tentang Niat dan Hijrah

Sebaliknya, makanan yang tidak ada berkahnya atau makanan dari hasil yang haram, ini akan menjadikan seorang yang makan itu ada kekuatan tetapi untuk maksiat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makanya Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dan ulama-ulama yang lainnya menyebutkan tentang pengaruh makanan yang halal terhadap tubuh manusia berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Jika seseorang makan dari makanan yang halal kemudian dia menyebut nama Allah ketika memakannya, maka makanan-makanan itu akan menjadi kekuatan baginya dan dia terdorong untuk melaksanakan amal-amal kebaikan, amal-amal shalih. Sebaliknya, seorang yang makan dari makanan yang haram kemudian ada kekuatan dalam dirinya, namun makan yang haram ini mendorong dia untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makanya Allah perintahkan kepada para Nabi dan kaum mukminin untuk makan yang baik dan halal, jangan sampai memakan makanan yang haram. Orang-orang yang makan riba, itu juga berpengaruh dalam dirinya, pengaruh pada tubuhnya dan perbuatan-perbuatannya. Semakin banyak seseorang memakan riba, dia semakin kuat untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik.

Bagaimana penjelasan selanjutnya dan apa adab-adab ketika makan? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Meraih Keberkahan Makanan

Download mp3 yang lain tentang Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin di sini.

Baca Juga:
Konsep Hukum Jual Beli Dalam Islam - Ushul Fiqih

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Meraih Keberkahan Makanan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.