Telegram Rodja Official

Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu

Cara Meningkatkan Iman Adalah Dengan Ilmu

By  |  pukul 10:09 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 17 September 2020 pukul 7:40 am

Tautan: https://rodja.id/2rs

Cara Meningkatkan Iman Adalah Dengan Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 22 Al-Muharram 1442 H / 10 September 2020 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Cara Meningkatkan Iman Adalah Dengan Ilmu

Saat ini kita ada di pembahasan segi ke-54 tentang keutamaan ilmu, yaitu الإِيمان لا يكون إِلّا بالعلم (iman tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu). Pembahasan halaman 89 pada kitab العلم : فضله وشرفه).

Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa dalil-dalil dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai pada derajat mutawatir (sangat banyak) hadits yang menyebutkan bahwa seutama-utama amal adalah iman kepada Allah. Maka iman kepada Allah merupakan puncak dari urusan agama Islam ini. Adapun tingkatan amalan-amalan shalih setelahnya sesuai dengan kondisi keimanan yang ada di hati manusia.

Jadi ini sudah disepakati karena dalil-dalilnya jelas dan sangat banyak. Bahwasanya amal yang paling utama adalah iman kepada Allah.

Selanjutnya beliau menjelaskan tentang iman memiliki dua rukun atau dua tiang penopang utama. Yang pertama, mengetahui dan mengenal petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berilmu tentang petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang kedua adalah membenarkan petunjuk itu dalam ucapan dan perbuatan.

Baca Juga:
Ekonomi Islam - Bandung 1438 / 2017 (Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat)

Berarti ilmu adalah termasuk rukun yang sangat penting untuk membenarkan iman. Sedangkan iman itu sendiri adalah puncak dari agama Islam ini.

Maka tashdiq (membenarkan) petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam ucapan dan perbuatan tanpa ilmu dan pengetahuan adalah mustahil untuk bisa terwujud. Karena yang namanya tashdiq itu adalah cabang atau bagian dari kita mengenal sesuatu yang kemudian kita benarkan. Bagaimana kita bisa membenarkan sesuatu kalau kita tidak punya pengetahuan tentangnya? Tidak mungkin kita meyakini sesuatu padahal kita tidak punya pengetahuan tentangnya. Ini jelas tidak tidak mungkin terwujud.

Kalau begitu, ringkasnya kedudukan ilmu pada keimanan itu seperti kedudukan ruh pada tubuh manusia. Inti kehidupan bagi tubuh manusia adalah keberadaan ruh. Maka seperti itulah, inti kehidupan bagi iman adalah keberadaan ilmu. Yakni dalam masalah ini adalah ilmu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sudah kita bahas bahwa Allah sendiri yang menamakan di dalam Al-Qur’an petunjuk yang diturunkanNya kepada NabiNya yang mulia adalah ruh.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak tahu apa itu iman, apa itu Al-Qur’an, tapi Kami jadikan itu sebagai cahaya untuk Kami berikan petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

Baca Juga:
Mewaspadai Ucapan Orang Tua

Jadi kedudukan ilmu itu adalah ruh. Makanya iman pasti akan mati tanpa ilmu, tanpa orang mempelajari petunjuk Al-Qur’an dengan memahami kandungannya, tanpa mempelajari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pemahamannya yang benar, tanpa membaca perjelasan dari pada sahabat dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, iman akan mati. Karena seperti jasad yang tidak punya ruh.

Pohon iman tidak akan bisa tegak kecuali diatas batang ilmu dan pengetahuan. Maka ilmu jika demikian berarti merupakan tuntutan yang paling tinggi sekaligus anugrah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia.

Inilah kedudukan ilmu ketika dikaitkan dengan iman, yang mana iman itu merupakan puncak dari urusan agama kita, sedangkan imam sendiri tidak akan bisa ada wujudnya tanpa ilmu, yakni petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Makanya pantas jika semakin orang belajar ilmu agama yang benar dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan menjadikan ilmunya semakin kuat, akan menjadikan keimanannya semakin sempurna, semakin tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segi Keutamaan Ilmu ke-55 – Semua sifat kemuliaan kembalinya kepada ilmu

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata bahwa sesungguhnya sifat-sifat kesempurnaan (sifat-sifat yang mulia) semuanya kembali kepada ilmu. Yakni kita mengetahui kesempurnaan tersebut. Kemudian kemampuan untuk bisa melakukannya dan keinginan untuk bisa meraihnya.

Baca Juga:
Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah

Kenapa dikatakan semua kembali kepada ilmu? Kata Ibnul Qayyim bahwa keinginan adalah cabang dari ilmu. Seseorang ketika menginginkan sesuatu, pasti dia tahu dulu tentang sesuatu itu. Apakah ada orang yang tidak tahu tentang kelebihan atau keistimewaan sesuatu lalu tiba-tiba dia mau untuk meraihnya? Tentu tidak mungkin.

Tapi setelah seseorang mengetahui perincian daya tariknya dan keindahannya, baru dia menginginkannya. Karena yang namanya keinginan itu mengandung konsekuensi adanya merasakan hal yang kita inginkan. Artinya kita mengetahui dulu keadaannya baru kita inginkan hal tersebut.

Maka yang namanya kehendak atau keinginan terhadap sesuatu, itu jelas dia sangat butuh kepada ilmu pada dzatnya dan hakikatnya. Jadi jelas, tempat kembalinya semua sifat kesempurnaan dan keinginan untuk memiliki kemuliaan tersebut merupakan cabang dari ilmu.

Sedangkan kemampuan melakukan sesuatu, tidak akan ada pengaruhnya kecuali dengan perantaraan adanya keinginan. Apa buktinya kemampuan melakukan sesuatu tidak akan ada pengaruhnya kecuali dengan perantaraan adanya kehendak? Orang melakukan sesuatu tanpa niat, apakah sama nilainya dengan orang melakukan sesuatu dengan niat? Jelas tidak sama. Makanya di dalam Islam orang yang melakukan sesuatu tanpa sadar, tidak dihukumi. Beda dengan orang yang melakukannya dengan sengaja. Kita sudah tahu masalah orang yang berpuasa makan dan minum tanpa sadar, apakah batal puasanya? Jawabannya tidak. Beda hukumnya orang yang misalnya –na’udzubillah min dzalik– membunuh dengan sengaja dan tidak sengaja.

Baca Juga:
Dalil Bahwa Al-Qur'an Kalamullah Dan Bukan Makhluk Bagian 4 - Kitab Al-Ibanah

Dikatakan di sini bahwa kemampuan melakukan sesuatu tidak akan bisa memberikan pengaruh kecuali dengan adanya perantaraan kehendak. Sedangkan ilmu -dalam keterkaitannya dengan objek yang diketahui dalam ilmu tersebut- tidak butuh kepada kehendak dan kemampuan. Adapun kemampuan dan kehendak, masing-masing butuh kepada ilmu. Berarti ini menunjukkan keutamaan dan mulianya kedudukan ilmu.

Sehingga semua sifat-sifat kesempurnaan ternyata kembalinya kepada ilmu. Karena kehendak atau niat untuk berbuat dan kemampuan untuk berbuat semua tergantung dari ilmu.

Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian Tentang Cara Meningkatkan Iman Adalah Dengan Ilmu

Download mp3 kajian yang lain di mp3.radiorodja.com

Mari turut membagikan link download kajian “Cara Meningkatkan Iman Adalah Dengan Ilmu” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 × = 36

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.