Telegram Rodja Official

Ayat-Ayat Ahkam

Bahaya Riya’

By  |  pukul 5:33 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 28 Oktober 2020 pukul 1:26 pm

Tautan: https://rodja.id/2t0

Bahaya Riya’ adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 06 Shafar 1442 H / 24 September 2020 M.

Kajian sebelumnya: Larangan Membatalkan Pahala Sedekah

Ceramah Agama Islam Tentang Bahaya Riya’

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk tiga tujuan; pertama untuk dibaca dan membacanya Allah siapkan pahala yang besar, kemudian yang kedua untuk ditadabburi dan yang ketiga untuk diamalkan.

Dalam kesempatan yang mulia ini kita akan memperhatikan, mentadaburi dan mempelajari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat yang ke-264, dan kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk mempelajarinya.

Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang faidah-faidah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimini Rahimahullahu Ta’ala yang berkaitan dengan ayat ke-264, khususnya berkaitan dengan masalah bahayanya riya’.

Di dalam ayat Al-Baqarah ayat 264, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّـهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿٢٦٤﴾

Baca Juga:
Berbicara Kepada Manusia Sesuai Dengan Tingkat Pemahaman dan Kedudukan Manusia Bagian 2 - Kitab Al-Ishbah

“Janganlah kalian hapuskan pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan dengan menyakiti perasaan dari si penerima. Sebagaimana orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaannya adalah seperti batu licin yang di atasnya ada debu kemudian dihujani dengan hujan yang lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi, mereka tidak memperoleh sesuatu apapun dari apa yang mereka usahakan,  dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan hidayah kepada kaum yang kafir.”

Kita pada kesempatan yang mulia ini memasuki faidah yang ke-7. Tetapi seperti yang sudah saya sampaikan, tidak semua faidah yang ada di sini saya sampaikan dan saya bacakan. Seperti faidah yang berhubungan dengan ilmu balaghah, faidah yang berhubungan dengan bahasa Arab dan seterusnya.

7. Haramnya melakukan riya’ dengan amal shalih

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

Seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer, ingin dipuji oleh manusia).”

Jadi, riya’ hukumnya haram. Begitu juga ingin didengar. Seseorang beramal tetapi tidak ikhlas, ingin orang lain mendengar amalnya sehingga dia mendapatkan pujian dari manusia. Ini masuk ke dalam larangan yang disebutkan.

Orang yang melakukan riya’ dalam amalannya maka tertolak. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Baca Juga:
Biografi Imam Ibnu Hibban

Mereka tidak diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan ketaatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)

Kemudian Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihat juga: Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat

8. Kurangnya iman

Orang yang melakukan riya’, infaknya ingin dilihat oleh manusia, maka dalam keimanannya terhadap Allah dan hari akhir ada kekurangan. Dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Karena orang yang melakukan riya’, kalau seandainya dia beriman kepada Allah dan hari akhir, seandainya dia beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya iman, niscaya amalannya itu ikhlas hanya untuk Allah semata. Dan sekiranya dia beriman kepada hari akhir dengan sebenar-benarnya beriman, niscaya dia tidak menjadikan amal akhirat itu untuk dunia. Karena orang yang melakukan riya’, bisa jadi dia mendapatkan pujian dari manusia dan dia mendapatkan kedudukan dari manusia, dan itu dia dapatkan di dunia saja. Padahal kalau orang itu tahu bahwa dia melakukan perbuatan riya’, dia tidak beramal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentunya nilainya di hadapan manusia juga akan jatuh.

Baca Juga:
Khutbah Jumat Singkat Tentang Dunia Bukanlah Tempat Pembalasan

Ada penyair berkata:

ثَوْبُ الرِّياء يَشِفُّ عَّما تَحْتَهُ *** فَإذا التَحَفْتَ بهِ فإنّك عَارِي

“Pakaian riya’ itu bisa menampakkan apa yang ada di baliknya, kalau kau memakai pakaian riya’ maka sebenarnya engkau telanjang”

Kemudian kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah bahwa apabila engkau berbuat riya’ kepada manusia, tetap engkau akan bisa menipu mereka. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menampakkan hal tersebut. Tidaklah seseorang merahasiakan sesuatu melainkan pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tampakan baik dari wajahnya atau dari lisannya.

Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Download mp3 kajian yang lain di mp3.radiorodja.com

Mari turut membagikan link download kajian “Bahaya Riya'” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Baca Juga:
Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

50 ÷ = 10

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.