Rodja Peduli

Aktualisasi Akhlak Muslim

Istiqamah Di Jalan Yang Lurus

By  |  pukul 3:50 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 09 Oktober 2020 pukul 8:28 am

Tautan: https://rodja.id/2t5

Istiqamah Di Jalan Yang Lurus adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Aktualisasi Akhlak Muslim. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 17 Shafar 1442 H / 5 Oktober 2020 M.

Kajian sebelumnya: Istiqamah Dalam Beramal

Ceramah Agama Islam Tentang Istiqamah Di Jalan Yang Lurus

Jika diumpamakan, Islam itu adalah jalan yang lurus. Dan siapa saja yang meniti jalan itu dari awal hingga akhir, pasti dia akan sampai ke tujuan. Dan tujuan akhir dari jalan Islam yang lurus itu adalah surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa suatu ketika Nabi bersama para sahabat, Nabi menarik garis lurus di atas tanah lalu Nabi berkata:

هذا سبيلُ اللهِ

“Ini adalah jalan Allah.”

Kemudian Nabi menarik garis ke arah kiri dan kanan di sepanjang garis lurus tadi kemudian berkata:

هَذِهِ سُبُلٌ

“Adapun ini adalah jalan-jalan lain.”

عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Di setiap persimpangan jalan-jalan itu ada setan yang selalu mengajak manusia untuk berbelok ke arahnya.”

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ

Baca Juga:
Pentingnya Aqidah dan Tauhid (Syaikh Walid bin Muhammad Nabih Saif An-Nashr)

Dan sungguh ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah jalan itu, jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain yang akan membelokkan kamu dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah perintah Allah kepada kamu semua, semoga kamu menjadi orang yang bertakwa.” (QS. Al-An’am[6]: 153)

Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Dimana Nabi di sini menjabarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Surat Al-An’am ayat 153 dengan sebuah peragaan yang Nabi buat di atas tanah. Seperti sekarang, kadangkala guru membuat satu perumpamaan dengan papan tulis. Lalu Nabi membuat sebuah ilustrasi tentang shirathal mustaqim.

Shirathal mustaqim ini banyak tafsiran yang dikemukakan oleh para ahli tafsir. Ada yang mengartikan bahwa shirathal mustaqim itu adalah Islam, ada yang mengartikan iman, ada yang yang mengartikan amal-amal shalih dan banyak lagi tafsiran-tafsiran lain dari shiraathal mustaqim. Yang mana semua tafsir-tafsir tersebut tidak saling bertentangan satu sama lain, tapi justru saling melengkapi satu sama lain. Ini yang dinamakan tafsir tanawwu’ (berbeda-beda tapi sebenarnya mengacu kepada satu makna yang sama). Apapun itu kita pakai dari tafsir-tafsir tersebut.

Salah satu tafsirnya disebutkan bahwa shirathal mustaqim adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat. Maka sebagian ulama mengartikan bahwa shirathal mustaqim adalah Abu Bakar dan ‘Umar, ini penyebutan secara simbolis. Yaitu jalan yang dilalui oleh Abu Bakar dan ‘Umar. Seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Baca Juga:
Tata Cara Shalat Tahajud dan Witir

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي : أَبُو بَكْرٍ

“Ikutilah dua sahabat sepeninggalku: Abu Bakar dan ‘Umar.” (HR. Ahmad)

Ini juga sama, ini penyebutan secara simbolis yang artinya mengikuti sahabat-sahabatnya Nabi yang mulia dan yang terdepan dari mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar. Seperti juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ

“Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur-Rasyidin.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Al-Khulafaur-Rasyidin secara istilah maksudnya adalah khalifah yang empat; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Namun yang dimaksud di situ banyak ulama mengertikan Al-Khulafaur Rasyidin adalah sahabat-sahabat  yang mulia dan yang terdepan di antara mereka adalah empat khalifah yang disepakati oleh kaum muslimin sebelum adanya perpecahan. Yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali.

Shirathal mustaqim ini juga ditegaskan oleh ulama yang lainnya bahwa maksudnya adalah As-Sunnah wal Jama’ah. Yaitu meniti, menelusuri, mengikuti jejak salafush shalih (Para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik).

Bagimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Istiqamah Di Jalan Yang Lurus

Download mp3 yang lain tentang Aktualisasi Akhlak Muslim di sini.

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Istiqamah Di Jalan Yang Lurus” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Hak-Hak Shalat - Bagian ke-2 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.