Telegram Rodja Official

Riyadhus Shalihin

Meninggikan Pakaian Di Atas Mata Kaki

By  |  pukul 9:52 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 15 Oktober 2020 pukul 12:42 pm

Tautan: https://rodja.id/2tm

Meninggikan Pakaian Di Atas Mata Kaki adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 25 Shafar 1442 H / 13 Oktober 2020 M.

Kajian sebelumnya: Dianjurkannya Memakai Baju Gamis

Ceramah Agama Islam Tentang Meninggikan Pakaian Di Atas Mata Kaki

Pembahasan kita pada kesempatan yang lalu adalah hadits Abu Jurai bin Sulaim Radhiyallahu ‘Anhu yang menjelaskan tentang pertemuan beliau dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wasiat-wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disampaikan kepada beliau setelah beliau membaiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka diantara wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada beliau adalah yaitu:

1. Jangan memaki-maki

لاَ تسُبَّنَّ أَحداً

“Jangan sekali-kali kamu memaki-maki seseorang.”

Dan kemudian beliau betul-betul melaksanakan wasiat Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam. Dan itulah perangai para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in, mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala. Begitu mendapatkan wasiat dari Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam, maka mereka melaksanakan wasiat itu. Oleh karena itu dibuktikan oleh perkataan Abu Jurai Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan bahwa:

Baca Juga:
Al-Muhtadi Billah

فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ بَعِيرًا وَلاَ شَاةً

“Semenjak aku mendapatkan wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, maka aku tidak pernah sama sekali memaki-maki seorang muslim yang merdeka ataupun budak. Bahkan tidak pernah aku mengata-ngatai kepada unta dan tidak pula kepada seekor kambing.”

Ini telah saya jelaskan tentang kebiasaan sebagian dari orang-orang badui yang mereka memelihara unta dan kambing, kadang-kadang ketika menghalau unta atau kambing itu ke suatu tempat, lalu terkadang binatang itu lari ke tempat yang lain atau mungkin tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh penggembalanya, maka terkadang keluar kata-kata yang mengata-ngatai binatang tersebut.

2. Jangan meremehkan kebaikan walaupun kecil

Kemudian juga wasiat yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pesan beliau kepada Abu Jurai Radhiyallahu ‘Anhu agar beliau tidak menggampangkan atau tidak meremehkan suatu perbuatan baik yang kecil dan sedikit. Meskipun hanya dengan kamu menampakan wajahmu yang berseri kepada saudaramu, ini sudah satu kebaikan. Dan kebaikan yang mudah, ringan dan gampang. Yaitu seseorang tersenyum kepada saudaranya. Karena itu bagian dari perbuatan ma’ruf.

Dan saya katakan bahwa demikian pula dalam hal yang berkaitan dengan keburukan, jangan pula kita menggampangkan perbuatan-perbuatan buruk walaupun kecil dan sedikit dalam pandangan kita. Karena juga berdampak apabila sering dilakukan, jika terus dilakukan dia akan bertumpuk menjadi suatu dosa yang besar.

Baca Juga:
Perintah Dari Nabi Untuk Menyebarkan Ilmu

3. Meninggikan pakaian

Agar beliau meninggikan pakaiannya, entah itu jubah, atau sarung, atau celana, yaitu di atas mata kaki. Bahkan kata beliau di sini:

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Angkatlah pakaianmu sampai ke setengah betis. Kalaupun kamu enggan melakukannya, maka paling tidak sampai ke kedua mata kaki.”

Kemudian beliau melarang dari memanjang pakaian sampai mengenai tanah.

وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ

“Hati-hati kamu dari memanjangkan pakaianmu sehingga menutupi kedua mata kaki bahkan sampai ke tanah.”

Ini adalah bagian dari kesombongan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang sombong. Orang yang sombong itu adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi dia menolaknya, padahal dia tahu itu kebenaran. Karena gengsi, karena menjaga harga dirinya, sehingga keberanan yang datang kepadanya diremehkan dan ditolak.

Kemudian yang kedua adalah merendahkan orang lain, menganggap enteng orang lain, melihat dirinya sebagai orang yang terbaik dan paling hebat. Sifat ini tidak hanya dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi manusia pun benci kepada orang-orang yang sombong dan angkuh. Maka dari itu sifat ini adalah sifat yang berbahaya.

Rendahkanlah hati kita, maka Allah akan mengangkat derajat kita. Jika seseorang merasa dirinya lebih baik, merasa diri lebih hebat, merasa diri lebih dari yang lainnya, maka ini adalah musibah yang menimpa seseorang, sifat yang menjadikan Allah dan manusia benci kepada orang yang demikian keadaannya.

Baca Juga:
Mulia dengan Manhaj Salaf (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas - Masjid Jami' Al-Mu'min Bandar Lampung)

4. Jangan membuka aib orang lain

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan wasiat yang agung yang beliau sampaikan kepada umat ini. Yaitu bagi mereka yang memiliki jiwa besar, bagi mereka yang yakin kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan balasannya, bagi mereka yang tidak mengikuti hawa nafsu, mereka mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjadikan beliau sebagai qudwah hasanah. Yaitu wasiat yang mendidik kita untuk bersabar ketika menghadapi manusia yang membuka aib kita, yang membuka cacat kita untuk merendahkan kita. Kata Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam:

وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ

“Dan apabila ada orang yang memaki-makimu dan dia membuka aibmu, dia membuka cacatmu, dia mempermalukan kamu dengan sesuatu aib yang dia ketahui ada dalam dirimu, maka jangan kamu mempermalukan dia, jangan kamu membuka aibnya dengan suatu aib yang engkau ketahui ada pada dirinya.”

Subhanallah.. Alangkah indahnya akhlak yang diajarkan oleh Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang mana Allah telah mengatakan tentang beliau:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾

Dan sungguh engkau benar-benar berada pada akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam[68]: 4)

Beliau mengajarkan umatnya, tatkala seorang mencela dan membuka aibnya, dia tetap tidak membuka aib orang lain, dia tetap menutup aib orang lain, padahal dia tahu ada aibnya. Ini suatu hal yang luar. Kita tidak akan mendapatkan ajaran ini pada agama apapun selain agama Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al Zalzalah dan Al 'Adiyat

Kemudian beliau mengatakan bahwa tatkala orang itu membuka aibmu, dia yang menanggung dosanya. Dan tatkala engkau menutup aibnya, engkau mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada manusia yang tidak mempunyai aib, tidak ada manusia yang tidak ada cacatnya. Hal ini yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kata beliau:

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ

“Setiap Bani Adam ini pasti ada kesalahannya, ada dosanya, ada cacatnya.”

Maka tidak ada yang maksum kecuali orang yang dilindungi Allah, yang dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Meninggikan Pakaian Di Atas Mata Kaki

Download mp3 yang lain tentang Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin di sini.

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Meninggikan Pakaian Di Atas Mata Kaki” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Baca Juga:
Hak-Hak Muslim atas Muslim yang Lainnya - Bagian ke-3 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 × = 7

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.