Telegram Rodja Official

Zadul Mustaqni

Penyelesaian Sengketa Dalam Wadiah

By  |  pukul 9:15 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 26 Oktober 2020 pukul 9:01 am

Tautan: https://rodja.id/2u6

Penyelesaian Sengketa Dalam Wadiah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 5 Rabiul Awal 1442 H / 22 Oktober 2020 M.

Download kajian sebelumnya: Bab Wadiah

Kajian Islam Ilmiah Tentang Penyelesaian Sengketa Dalam Wadiah

Pada pertemuan sebelumnya kita telah menjelaskan sebelumnya bahwa wadiah adalah menyerahkan harta atau uang atau benda atau sesuatu pada pihak kedua agar disimpannya untuk kemaslahatan pemilik barang, bukan kemaslahatan penerima titipan, ini berbeda. Kalau untuk kemaslahatan penerima titipan dengan barang tidak habis, maka namanya ‘ariyah. Kalau untuk kemaslahatan penerima titipan dan barangnya habis dan yang diberikannya adalah gantinya, ini berarti akadnya adalah qardh (pinjam-meminjam).

Berkata penulis kitab:

ويقبل قول المودع في ردها إلى ربها أو غيره بإذنه وفي تلفها وعدم التفريط

Ini permasalahan sengket, dan ini kelebihan dari buku Zadul Mustaqni. Setelah menjelaskan permasalah tentang akad, mualif juga menjelaskan bila terjadi hal-hal sengketa, maka siapa yang dimenangkan oleh qadhi. Maka tidak heran kalau buku Zadul Mustaqni ini menjadi buku panduan di dalam Fakultas Syariah, dimana orang-orang yang keluar dari sana bisa menjadi hakim. Maka ini sangat penting bagi mereka dalam memutuskan bila terjadi perkara.

Baca Juga:
Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit

“Dan diterima perkataan orang yang menerima titipan,” misalnya Ahmad menitipkan barangnya kepada Abdullah. Lalu kata Abdullah: “Motor kamu sudah saya kembalikan ya,” lalu kata Ahmad: “Belum.” Maka dalam kasus ini yang harus dimenangkan oleh hakim adalah si penerima titipan. Karena dalam hal ini dia berbuat baik, sedangkan orang yang berbuat baik kata Allah:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

Orang yang berbuat baik itu tidak boleh lagi dia menanggung resiko.” (QS. At-Taubah[9]: 91)

Kemarin kita katakan bahwa wadiah tidak menerima upah, berarti dia semata-mata berbuat baik. Dalam kasus dia berbuat baik, dia tidak boleh menanggung resiko sesuatu, maka perkataan dia yang diterima.

Atau ketika Abdullah yang menerima titipan tadi mengatakan: “Motor kamu sudah saya serahkan kepada Mahmud.” Sedangkan Ahmad tidak menyuruh hal itu. Lalu Abdullah berkata: “Itu Si Mahmud kan adik kamu, waktu saya menghubungi kamu bahwa Mahmud ingin mengambil motor, kamu jawab iya.” Sedangkan Ahmad mengatakan tidak memberi izin. Maka dalam hal ini yang dimenangkan oleh hakim adalah Abdullah.

Begitu juga jika orang yang dititipkan mengatakan: “Motor kamu rusak atau dicuri atau hilang.” Maka qadhi menerima perkataan Abdullah.

Bagaimana penjelasan rincinya? Mari download mp3 kajian tafsir yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Penyelesaian Sengketa Dalam Wadiah

Baca Juga:
Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 4 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Download mp3 kajian yang lain di mp3.radiorodja.com

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Penyelesaian Sengketa Dalam Wadiah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

74 + = 79

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.