Telegram Rodja Official

Aktualisasi Akhlak Muslim

Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan

By  |  pukul 5:51 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 11 November 2020 pukul 6:31 pm

Tautan: https://rodja.id/2v2

Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Aktualisasi Akhlak Muslim. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 23 Rabi’ul Awal 1441 H / 9 November 2020 M.

Kajian sebelumnya: Hal-Hal Yang Bisa Merusak Keistiqamahan

Ceramah Agama Islam Tentang Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan

Kita sampai pada perkara-perkara yang bisa merusak keistiqamahan, yang bisa membuat seseorang berbelok dari jalan yang lurus. Yang ketiga adalah faktor nafsu, ini adalah perkara yang tidak bisa dihindari oleh anak Adam. Karena Allah membekali mereka dengan hawa nafsu. Hanya saja berkaitan dengan hawa nafsu ini ada orang-orang yang bisa menahan nafsunya dan ada yang selalu digiring oleh hawa nafsunya. Dan nafsu ini sifatnya selalu mendorong manusia untuk melakukan keburukan-keburukan.

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf[12]: 53)

Itu sifat dari hawa nafsu. Sesuatu yang memang diperlukan oleh anak Adam. Mereka bisa memperoleh keturunan dengan hawa nafsu dan tentunya kita lahir ke dunia juga dengan nafsu. Akan tetapi dari sisi yang lain hawa nafsu ini dapat menyeret, menggiring dan menjerumuskan manusia kepada kebinasaan, keburukan, kejahatan, kejelekan dan lain-lain sebagainya. Kecuali hamba-hamba yang mendapat taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang jiwanya diteguhkan dan dibantu untuk mengalahkan hawa nafsunya tersebut. Dan dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah seorang hamba bisa selamat dari keburukan hawa nafsunya.

Baca Juga:
Jika Istri Menolak Ajakan Suami

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ

“Kalaulah bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada manusia, niscaya tidak ada seorangpun di antara kamu bersih dari perbuatan keji dan munkar selama-lamanya.” (QS. An-Nur[24]: 21)

Maka salah satu hal yang bisa membelokkan seseorang dari jalan yang lurus, merusak keistiqamahannya adalah hawa nafsu yang selalu diperturutkan.

Membuang hawa nafsu adalah perkara yang tidak mungkin. Karena kita pasti memiliki hawa nafsu itu. Namun yang dituntut dari kita adalah bagaimana kita bisa mengendalikannya, tidak selalu mengikutinya. Karena sifat hawa nafsu tadi yang selalu menggiring kita kepada keburukan-keburukan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah mengatakan dalam Kitab Ighatsatul Lahfan bahwa hawa nafsu selalu mengajak kepada kebinasaan, membantu musuh bebuyutan kita (iblis dan bala tentaranya) dan berambisi kepada semua perbuatan-perbuatan buruk. Kecenderungannya adalah mengikuti keburukan, melakukan pelanggaran (meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan) serta menyelisihi kebenaran. Dan adalah sebuah kenikmatan yang tiada tara apabila seorang hamba bisa berhasil terbebas dari belitan hawa nafsunya. Oleh karena itu hawa nafsu merupakan hijab terbesar yang menghalangi manusia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga orang yang paling tahu perihal hawa nafsu pasti sangat merendahkan dan menghinakan bahkan mengutuk hawa nafsu tersebut.

Di sini beliau menjelaskan sifat dari hawa nafsu itu dan apa yang diminta dari manusia, yaitu mengendalikan hawa nafsunya. Bisa mengontrol, mengendalikan, menundukkan hawa nafsunya, bukan membuang hawa nafsu.

Baca Juga:
Pernikahan Yang Paling Baik

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlindung diri kepada keburukannya. Nabi tidak pernah memohon kepada Allah untuk melenyapkan hawa nafsu dari diri beliau, tapi berlindung kepada Allah dari keburukannya. Seperti yang sering diulang-ulang Nabi ketika akan memulai suatu perkataan ataupun khutbah, yaitu:

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

“Dan kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri-diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita.”

Dosa-dosa yang kita lakukan itu adalah karena kita mengikuti hawa nafsu kita. Pelanggaran yang kita kerjakan itu karena kita mengikuti hawa nafsu kita. Ini faktor internal yang ada dari dalam diri kita sendiri. Maka ini tergolong jihad memerangi hawa nafsu. Bahkan ini dikategorikan sebagai jihad yang terbesar daripada melawan musuh di medan perang. Karena melawan musuh di medan perang ada waktu jeda, tidak selamanya, setiap saat, selalu dan senantiasa kita menghadapi musuh yang nyata di medan perang ataupun dimanapun itu. Tapi memerangi hawa nafsu ini setiap saat, setiap detik. Setiap saat dari hidup kita, kita terus berperang melawan hawa nafsu kita, dimanapun kita berada, tidak ada tempat yang aman dari kejaran hawa nafsu. Bukan hanya di pasar kita harus mengendalikan hawa nafsu atau di tempat-tempat yang berpotensi melakukan kejahatan dan keburukan. Bahkan di tempat ibadah sekalipun, di majelis ilmu sekalipun kita harus memerangi hawa nafsu kita. Dimana saja, kapan saja. Ini adalah pertempuran 24 jam antara hamba dengan dirinya sendiri, yaitu dengan hawa nafsunya.

Baca Juga:
Bab Shalat Bagian dari Iman dan Bab Baiknya Islam Seseorang - Hadits 40-42 - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Seorang hamba mungkin menyadari dan memaklumi kelemahan dirinya. Namun hal ini kadang-kadang berlaku terus-menerus berlaku dalam hidup kita. Orang yang punya iman seharusnya cukup pelajaran dalam kehidupannya, yaitu pengalaman. Maka Nabi mengatakan:

لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Orang mukmin pantang disengat dalah dari satu lubang berkali-kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya dia jatuh dalam lomba yang sama berkali-kali. Artinya dia tidak mau mengambil pelajaran. Dengan sengaja dia ulang-ulangi kesalahan yang sama.

Kita semua bersalah dan berdosa. Kadang-kadang kita sadar dengan dosa yang kita lakukan dan kita cepat kembali dari dosa itu. Kadang-kadang dosa itu terus berulang. Maka seorang mukmin, hamba yang bijaksana adalah dia bisa mengambil ibrah dari pelajaran hidupnya, dari pengalaman hidupnya. Sehingga dia bisa meninggalkan keburukan demi keburukan yang dianjurkan oleh hawa nafsunya atau didorong oleh hawa nafsunya. Dengan demikian dia menjadi hamba yang menang ketika berhadapan dengan hawa nafsunya sendiri.

Bagimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan

Download mp3 yang lain tentang Aktualisasi Akhlak Muslim di sini.

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Keutamaan-Keutamaan Hamalatul Qur'an (Para Pengemban Al-Quran)

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

÷ 1 = 4

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.