Rodja Peduli

Tematik

Metode Ahlus Sunnah dalam Beraqidah

By  |  pukul 10:01 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 27 November 2020 pukul 9:50 am

Tautan: https://rodja.id/2vo

Metode Ahlus Sunnah dalam Beraqidah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc. pada Sabtu, 28 Rabiul Awal 1442 H / 14 November 2020 M.

Kajian Metode Ahlus Sunnah dalam Beraqidah

Pada kesempatan yang berbahagia ini, mungkin sekedar untuk mengulang kembali tentang manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beraqidah. Ini untuk lebih menegaskan dan menekankan serta mematapkan langkah kita dalam beraqidah di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

InsyaAllah kita juga akan bandingkan dengan manhaj ahli bid’ah dalam beraqidah. Ini sekedar kita menukil dari sebuah buku yang berjudul النبذ على شرح السنة للبربهاري oleh Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-’Ubailan Hafidzahullahu Ta’ala.

Pada halaman 42 kitab ini disebutkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beraqidah. Bagaimana metode Ahlus Sunnah dalam beraqidah.

Ini harus kita pahami bagi yang mengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah, As-Salafiyyun, Al-Firqatun Najiyah, Ath-Thaifatul Manshurah. Harus paham manhaj seperti ini agar tidak mudah terombang-ambingkan oleh arus. Terkadang kalau tidak paman manhaj seperti ini, bisa kesana-kemari, bisa plin-plan, bisa mencla-mencle. Hal ini karena tidak kuat manhaj atau metodenya dalam beraqidah, hanya ikut-ikutan saja.

Maka perlu untuk kita tegaskan lagi di sini, apa manhaj Ahlus Sunnah dalam beraqidah?

Baca Juga:
Penerapan Kaidah La Dharara wala Dhirar

1. Berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah

Yang pertama -kata beliau- Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah aqidah hanya berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak mengarang aqidah dari akal-akal atau dari pendapat Fulan dan Allan, namun aqidah Ahlus Sunnah hanya bersumberkan dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan itulah yang kita lihat di dalam kitab-kitab para ulama tentang aqidah sejak dahulu sampai detik ini. Mereka hanya menyimpulkan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Misalnya dalam kitab الاقتصاد في الاعتقاد, aqidah Imam Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi (w. 600 H). Kalau kita baca buku beliau, maka hanya berlandaskan qalallah wa qalarasul, yang ada hanyalah ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga ucapan para As-Salafush Shalih.

Mereka para ulama Ahlus Sunnah tidak mengarang-ngarang aqidah sendiri. Mereka hanya mengambil aqidah dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih.

Maka kita sebagai pengikut ulama salaf, harus juga demikian. Jangna mengutarakan sebuah aqidah atau sebuah pernyataan yang berkaitan dengan urusan agama kecuali dengan dalil. Tidak asbun (asal bunyi) begitu saja, tidak asal komentar begitu saja.

Ini ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ah, terutama dalam masalah aqidah. Kalau kita menyatakan aqidah ini dan itu, dalilnya ini. Tentunya dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para Salafush Shalih.

Baca Juga:
Definisi Tauhid Asma' wa Shifat Menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Ini pegangan hidup kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh denganya tidak akan tersesat selama-lamanya; Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Hakim dan Baihaqi)

Demikian pula ada perselisihan, kelompok ini mengatakan demikian dan demikian dari masalah-masalah aqidah khususnya, maka Allah mengatakan:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ

Jika kalian berselisih tentang suatu permasalahan, kembalikanlah kepada Allah (kepada Al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Ini Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Manhaj mereka dalam beraqidah hanya berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apalagi yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib; tentang sifat-sifat Allah, tentang surga dan neraka, ini masalah-masalah yang tidak mungkin kita ketahui kecuali dengan wahyu ilahi (Al-Qur’an dan sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).

Makanya Al-Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dalam kitab beliau yang sangat luar biasa tentang aqidah, yaitu Syarah Aqidah Thahawiyah, beliau mengatakan:

فَكَيْفَ يُرَامُ الْوُصُولُ إِلَى عِلْمِ الْأُصُولِ بِغَيْرِ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ؟

“Bagaimana mungkin seseorang itu bisa sampai kepada ilmu aqidah yang benar yang lurus yang shahih tanpa bimbingan dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?”

Baca Juga:
Bab Tanda-Tanda Orang Munafiq

Mustahil, apalagi yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib, yang tidak mungkin akal bisa sampai kepadanya.

Maka Ahlus Sunnah hanya berdasarkan Qalallah wa Qala Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ini yang dipraktekkan oleh para ulama-ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab aqidah mereka.

Kalau pun mereka misalnya menulis matan aqidah yang merupakan ringkasan, itu sebetulnya mereka hanya sekedar menyimpulkan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti yang sudah banyak kita kaji di TV Rodja dari aqidah Sufyan Ats-Tsauri, aqidahnya Imam Sahl bin ‘Abdullah At-Tustari, aqidahnya Imam Bukhari, mereka meringkas saja, ketika tidak menyebutkan dalil-dalilnya bukan berarti tidak ada dalilnya. Itu hanya sekedar ringkasan saja, kesimpulan yang mereka ambil dari firman Allah dan sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan itulah sebab mengapa aqidah Ahlus Sunnah sejak zaman dahulu sampai detik ini sampai hari kiamat tetap satu. Sebagaimana kata Imam Ash-Shan’ani Rahimahullahu Ta’ala: “Di antara yang menunjukkan bahwasanya Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits, As-Salafiyyun, dakwah salafi, Ath-Thaifatul Manshurah, Al-Firqatun Najiyah, mereka diatas kebenaran, di antara buktinya adalah kalau anda membaca kitab-kitab aqidah mereka, meskipun berbeda zamannya, berbeda negeri mereka, namun engkau mendapati aqidah mereka satu metode, satu jalan.”

Contoh, misalnya tentang masalah di mana Allah, maka sepakat ulama salaf mengatakan Allah di atas ‘Arsy. Demikian pula aqidah Ahlus Sunnah tentang masalah haramnya mengkudeta pemimpin muslim. Ijma’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi juga dalam Syarah Shahih Muslim.

Baca Juga:
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya

Kenapa demikian? Yaitu karena sumbernya hanya satu, wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّـهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴿٨٢﴾

Tidakkah mereka mau mentadabburi Al-Qur’an? Seandainya Al-Qur’an bukan dari sisi Allah, mereka akan mendapati pertentangan yang banyak.” (QS. An-Nisa[4]: 82)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Metode Ahlus Sunnah dalam Beraqidah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Metode Ahlus Sunnah dalam Beraqidah” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× 8 = 48

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.