Telegram Rodja Official

Aktualisasi Akhlak Muslim

Kemilau Dunia Mengganggu Perjalanan Hamba Menuju Allah

By  |  pukul 4:11 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 25 November 2020 pukul 9:21 am

Tautan: https://rodja.id/2vf

Kemilau Dunia Mengganggu Perjalanan Hamba Menuju Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Aktualisasi Akhlak Muslim. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 30 Rabi’ul Awal 1441 H / 16 November 2020 M.

Kajian sebelumnya: Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan

Ceramah Agama Islam Tentang Kemilau Dunia Mengganggu Perjalanan Hamba Menuju Allah

Kemilau dunia ini akan mengganggu perjalanan hamba menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi menyibukkan diri dengan kesibukan dunia, ini akan mengurangi istiqamah dalam meniti jalan yang lurus. Ketika seorang hamba menghabiskan waktunya untuk mengurus dan mengejar dunia, ia akan larut dalam godaan, tipuan dan kepalsuan. Seperti mengejar bayangan yang tidak akan bisa kita tangkap, seperti itulah kita mengejar dunia. Setiap kita sampai kepada satu target, di depan kita ada target yang lain. Setiap kita merasa sudah sampai ke satu tujuan, tiba-tiba di depan kita ada tujuan yang lain.

Rencana demi rencana bertubi-tubi datang. Hingga kita sibuk untuk mengejar dunia ini, tidak ada ujungnya. Begitulah sifatnya dunia. Semakin besar ambisi seorang hamba kepada dunia ini, maka semakin terikat hatinya dengan dunia. Dan seiring dengan itu semangatnya dalam melakukan amalan-amalan akhirat juga akan melemah dan berkuranglah keistiqamahannya.

Baca Juga:
Hak Ulama - Bagian ke-1 - Tabshiratul Anam (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Kadang-kadang dalam melakukan ketaatan itu kita merasa sangat berat, sangat susah, dada kita sesak seperti mendaki ke langit. Dan kadang-kadang kita kelapangan, kelonggaran, kemudahan untuk melaksanakan ketaatan itu. Ibnul Qayyim di dalam bukunya Al-Fawaid menjelaskan bahwa berat tidaknya perasaan seorang hamba dalam melaksanakan ketaatan dan dalam mengejar akhirat, itu bergantung pada besar-kecilnya ambisi dan kepuasannya terhadap dunia. Kalau dia mempertahankan ketamakan kepada dunia, maka keistiqamahan pun akan susah untuk diwujudkannya, dia akan susah untuk istiqamah di dalam perjalanannya mengejar akhirat, perjalanannya mengejar surga.

Semakin kecil ambisinya terhadap dunia dan semakin kecil rasa tamaknya kepada dunia, maka akan semakin mudah langkahnya untuk mengejar akhirat.

Seperti yang sudah kita jelaskan, kadang kala kita harus memilih antara dunia dan akhirat. Tidak bisa kita rengkuh dua-duanya. Ada hal yang harus kita korbankan. Kadang-kadang untuk meraih akhirat kita harus mengorbankan dunia. Dan sebaliknya, untuk mengejar dunia kadang-kadang kita harus mengorbankan akhirat. Banyak perkara-perkara yang kita langgar, kita tabrak atau banyak longgar di sana-sini karena kita mengejar dunia, dunia menjadi cita-cita dan tujuan kita.

Seperti kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ

“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai beraikan kekuatannya.”

وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

Baca Juga:
Al-Mu'tadhid Billah

“Dan Allah akan jadikan kefakiran terpampang di depan matanya (dia dibayang-bayangi ketakutan jatuh miskin, jatuh fakir).”

وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ

“Dan tidak akan datang kepadanya dunia kecuali apa yang sudah ditentukan atas dirinya.”

Artinya tidak bertambah dan tidak berkurang bagaimanapun besarnya ambisi yang dia miliki untuk mengejar dunia itu.

Sebaliknya:

وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ

“Barangsiapa yang akhirat menjadi niatnya.”

جَمَعَ اللَّهُ لَهُ شَمْلَهُ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkan kekuatannya.” Yaitu dia menjadi orang yang kuat.

وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ

“Dan Allah jadikan kekayaan di dalam hatinya.”

وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ

“Dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk dan hina.”

Artinya dia akan dapatkan dunia yang telah menjadi bagiannya tanpa dia harus tunduk kepada dunia itu. Bahkan dunia yang tunduk kepadanya. Demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang dua hamba yang berbeda orientasi dalam hidupnya. Yang satu berorientasi kepada dunia dan yang satu lagi berorientasi kepada akhirat. Pilihan ada di tangan kita, kita menjadi hamba yang punya orientasi dunia atau hamba yang memiliki orientasi akhirat?

Namun kenyataannya mayoritas manusia itu adalah pecinta dunia. Allah mengatakan itu di dalam kitabNya:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا ﴿٢٠﴾

Dan kamu mencintai harta benda dunia itu dengan cinta yang amat sangat.” (QS. Al-Fajr[89]: 20)

Baca Juga:
Khutbah Jumat Singkat Tentang Sedekah Dimasa Sulit

Kita mudah terpedaya dan terpengaruh dengan apa yang nampak terlihat di depan mata kita. Sementara akhirat yang nun jauh di sana, begitu kesannya di dalam diri kita, yang tidak nampak, yaitu perkara ghaib, sesuatu yang tidak hadir di dalam hati kita. Karena dia tidak nampak oleh pandangan mata kita. Sementara dunia ada di depan mata kita.

Oleh karena itu tentunya manusia ingin sesuatu yang hadir di depannya. Seperti kata manusia, satu burung di tangan lebih bagus daripada seribu burung di udara. Karena seribu burung di udara dianggap masih ghaib, sementara satu di tangan itu sudah jelas dalam genggaman. Begitulah cobaan dunia ini. Ketika kita dihadapkan pilihan antara dunia dan akhirat, seperti itu perumpamaannya.

Akhirat itu seperti burung yang banyak tapi berterbangan di udara, tidak ada di tangan kita, seperti itu kesannya. Sementara dunia itu seperti burung yang ada di dalam genggaman kita. Maka wajar manusia apalagi dia punya orientasi dunia, dia akan memilih apa yang ada di tangannya. Sementara pahala akhirat itu masih ghaib di hadapannya, dia tidak melihat balasan pahala yang Allah janjikan baginya nanti di akhirat.

Sementara akhirat itu boleh jadi dekat dengan dirinya. Lebih dekat daripada tali sandalnya. Dengan datangnya kematian, maka dia pun berpindah dari alam dunia ke alam akhirat yang muqaddimahnya adalah alam barzakh. Dia pun meninggalkan dunia, dia terpisah dan berpisah dari dunia dan dia tidak akan kembali ke dunia. Sementara apa yang ada di tangannya dari dunia itu lepas darinya selama-lamanya. Dia tidak akan mendapatkan itu lagi. Yang ada di depannya adalah akhirat. Apa yang selama dia hidup di dunia itu dia pandang seperti burung-burung yang berterbangan di udara yang tidak ada di dalam genggamannya.

Baca Juga:
Adab-Adab Membaca Al-Qur'an

Maka dari itu iman kepada perkara ghaib ini merupakan dasar iman yang paling dalam. Yaitu kita beriman kepada perkara-perkara itu yang ghaib. Dengan itu kita bisa meminimalisir godaan dunia yang begitu besar, begitu kencang menerpa hati kita.

Siapa yang tidak tergoda dengan denia yang nampak di depan mata dan ada dalam genggaman? Sepertinya bisa kita kejar walaupun kenyataannya orang-orang yang mengejarnya dunia itu mereka letih mengejarnya dan mereka tidak mendapatkannya.

Bagimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Hawa Nafsu Yang Diperturutkan Akan Merusak Keistiqamahan

Download mp3 yang lain tentang Aktualisasi Akhlak Muslim di sini.

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Kemilau Dunia Mengganggu Perjalanan Hamba Menuju Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Lihat juga rekaman lainnya: 

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Baca Juga:
Kewajiban Kita Sebagai Hamba Allah

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.