Rodja Peduli

Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab

By  |  pukul 10:48 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 05 Desember 2020 pukul 5:18 am

Tautan: https://rodja.id/2w1

Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 12 Rabiul Akhir 1442 H / 28 November 2020 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab

Adanya hisab adalah benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ para ulama. Hisab secara bahasa adalah perhitungan. Sedangkan secara syar’i adalah Allah memperlihatkan kepada hamba-hambaNya tentang amal-amal mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Lum’atil I’tiqaad dan juga dalam Syarah Aqidah Wasithiyah.

Sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

Sesungguhnya kepada Kami mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” [Al-Ghaasyiyah: 25-26]

Artinya semua yang dilakukan oleh manusia ini, itu tidak ada yang hilang, semua tercatat. Dan semua akan ditunjukkan oleh Allah ketika hari kiamat. Ditampakkan semua perbuatan mereka yang baik maupun yang buruk.

Apa yang kita lakukan, itu semua tidak ada yang hilang, semua tercatat dan semua akan dibukakan. Makanya Nabi di dalam shalatnya, beliau sering berdo’a:

Baca Juga:
Membela Kalimat Tauhid dengan Istigatsah Hanya Kepada Allah

اَللّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْرًا.

“Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.”

Doa ini bisa dibaca dalam sujud juga bisa dibaca dalam tasyahud akhir.

Kemudian ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bertanya tentang apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah? Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Allah memperlihatkan kitab hambaNya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad, Al-Hakim.)

Dan orang yang dipersulit hisabnya karena banyak dosanya, maka dia akan diadzab.

مَنْ نُوقِشَ الحِسَابَ عُذِّبَ

“Barangsiapa yang diperiksa/dihitung dengan teliti dari perbuatan-perbuatan dosanya, dia pasti akan diadzab.” (HR. Bukhari)

Sebab itu yang dikatakan نُوقِشَ الحِسَابَ dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, beliau mengatakan bahwa artinya hitungan dosa-dosanya dihitung dengan detail dan rinci seumur hidupnya. Kemudian dituntut semua dosanya yang besar maupun yang kecil. Dan tidak ada dimaafkan lagi.

Nanti ada juga yang dimaafkan oleh Allah. Makanya selanjutnya disebutkan sifat hisab bagi seorang Mukmin, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekat dengan hamba-hambaNya yang Mukmin dan memperlihatkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika ia merasa bahwa ia akan binasa, Allah berkata kepadanya: “Aku tutup bagimu dosamu di dunia dan Aku mengampuni dosa-dosamu pada hari ini, maka diberikan kepadanya kitab kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafiq, mereka dipanggil di hadapan seluruh makhluk, mereka adalah orang-orang yang berdusta atas Nama Allah.”

Baca Juga:
Bersumpah Atas Nama Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan para saksi akan berkata: ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.’ Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zhalim.” [Huud: 18]” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu.)

Adapun yang pertama kali akan dihisab adalah berkaitan dengan tauhid, shalat, darah manusia.

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Yang pertama kali akan diputuskan di hari Kiamat itu tentang masalah darah.” (HR. Bukhari)

Yaitu orang membunuh orang dan yang lainnya. Ini hubungan manusia dengan manusia. Adapun hubungan manusia dengan Allah pertama kali adalah shalat.

أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ

“Yang pertama dihisab di hari Kiamat adalah shalat.” (HR. Thabrani)

Kalau shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, tapi kalau shalatnya jelek maka seluruh amalnya jelek. Nanti tentang yang lain lagi dari amal-amal yang dilakukan dalam hidup ini. Semua akan dihisab oleh Allah. Maka kita wajib hati-hati, semua dosa itu tidak ada yang terluput. Dilihat oleh orang atau tidak dilihat, Allah Maha Melihat.

Orang-orang kafir, mereka itu tidak dihisab sebagaimana dihisabnya orang yang dihitung kebaikan dan kejelekannya, karena sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) tidak ada kebaikannya. Akan tetapi amal-amal mereka dihitung, lalu dibiarkan begitu saja dan mereka diadzab dengan sebab amalannya itu. (Dalam Aqidah Wasithiyah)

Baca Juga:
Mukaddimah Kitab Ad Daa' Wad Dawaa'

Pada hari Kiamat, seluruh amalan orang kafir yang baik akan dijadikan seperti debu-debu yang beterbangan atau seperti fatamorgana dan tidak ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapkan seluruh amal-amal mereka, Kami jadikan amal-amal itu seperti debu-debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: [25]: 23)

Di dunia, perbuatan baik orang kafir dibalas. Tapi di akhirat amalan mereka dijadikan seperti debu-debu yang beterbangan. Makanya orang kafir tidak dihisab karena memang tidak ada amal kebaikannya. Langsung mereka dimasukkan ke neraka. Orang kafir dan dia mati dalam keadaan kafir, tempatnya di neraka. Itu nash Al-Qur’an yang menyebutkan demikian. Dan juga hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hisab ini dilakukan kepada seluruh manusia dan ada di antara kaum Mukminin yang masuk Surga tanpa hisab. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَهُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَكْتَوُوْنَ، وَلاَيَسْتَرْقُوْنَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ.

“Akan masuk Surga Tujuh puluh ribu orang tanpa hisab (dalam riwayat yang lain disebutkan tanpa adzab). Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan kay, mereka tidak meminta diruqyah, mereka tidak tathayyur (menganggap sial dengan sesuatu) dan hanya bertawakkal kepada Rabb mereka.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma)

Baca Juga:
Tidaklah Allah Menurunkan Penyakit Kecuali Dia Juga Menurunkan Penawarnya

Bagaimana penjelasan tentang urutan tanda-tanda kiamat? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download Mp3 Kajian Tentang Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab

 

Jangan lupa untuk membagikan link download kajian tentang “Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab” ini melalui Facebook, Twitter atau yang lainnya. Jazakumullahu khoiron.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.