Rodja Peduli

Mencetak Generasi Rabbani

Memberi Sambutan Hangat dan Bermain dengan Anak

By  |  pukul 1:56 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 23 Desember 2020 pukul 4:14 pm

Tautan: https://rodja.id/2wm

Memberi Sambutan Hangat dan Bermain dengan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 07 Jumadil Awal 1442 H / 22 Desember 2020 M.

Kajian sebelumnya: Menjaga Perasaan Anak

Kajian Islam Ilmiah Tentang Memberi Sambutan Hangat dan Bermain dengan Anak

4. Memberi sambutan hangat kepada anak

Kita masih dalam bab menjaga perasaan anak. Sampai kita pada poin yang ke-4, yaitu memberi sambutan hangat kepada anak. Yaitu ketika kita bertemu dengan mereka dengan memberikan senyuman, sambutan, keceriaan dan kadangkala perlu juga diselingi dengan canda. Demikian pula saat hendak melepas kepergian mereka, memberikan perhatian kepada anak-anak tersebut.

Sikap ini harusnya senantiasa kita lakukan secara konsisten, memberikan kehangatan kepada mereka ketika melepas kepergian anak, ketika akan berangkat ke sekolah mungkin atau keluar rumah. Ini akan memberinya ketentraman batin di samping meninggalkan kesan yang mendalam bagi jiwa anak tersebut.

Adapun sambutan baik ketika pertama kali bertemu, ini akan melapangkan dadanya dan hatinya, serta menggembirakan jiwanya. Ini merupakan awal yang baik untuk membuka dialog dan pembicaraan dengan anak.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 94 - 97

Memang kesan pertama itu sangat menentukan. Ketika kesan pertama kita bertemu dengannya adalah kehangatan, maka dialog ataupun komunikasi pun akan lancar, ada keakraban, kedekatan dan kenyamanan di dalam jiwanya. Hatinya pun akan terbuka dan tidak malu mengungkap perasaan dirinya, memberitahukan segala problematika yang dihadapinya. Dan mungkin dia akan berbicara tentang cita-cita dan apa-apa yang diinginkannya. Itu akan menjadikan awal yang baik ketika kita berkomunikasi dengan anak.

Misalnya pagi hari saat pertama bertemu dengan anak, kita memberikan sambutan, kehangatan, keceriaan, senyuman dan perhatian kepada anak tersebut.

Abdullah bin Ja’far menceritakan kejadian dan peristiwa yang dialaminya ketika kecil. Ia bercerita bahwa setiap kali kembali dari satu perjalanan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bergegas menemui anak-anak dari kalangan ahlul bait, yaitu cucu-cucu beliau Hasan dan Husein dan anak-anak para sahabat yang lainnya: “Suatu ketika saat beliau baru pulang dari safar, aku segera menemui beliau. Lalu Nabi meletakkanku di depan beliau. Datang salah seorang putra Fatimah, yaitu Al-Hasan atau Al-Husein hingga aku diletakkan di belakang beliau kemudian kami bertiga memasuki kota Madinah di atas hewan tunggangan beliau.”

Ini menunjukkan perhatian Nabi kepada anak-anak. Menyertakan mereka di dalam tunggangan, membonceng mereka, ini merupakan salah satu bentuk perhatian Nabi kepada anak-anak, memberikan sambutan, memberikan perhatian dan memberikan keceriaan kepada mereka. Dan ini akan membekas pada jiwa anak.

Baca Juga:
Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya

5. Bermain dan bercanda bersama anak

Orang yang paling tepat kita bercanda kepadanya adalah anak-anak sebenarnya. Mereka jauh dari ketersinggungan dan mereka masih polos. Kadang-kadang kalau kita bercanda dengan orang dewasa, belum tentu orang yang kita ajak bercanda itu mau dicandai. Berbeda dengan anak-anak.

Jadi bermain dan bercanda bersama anak ini merupakan salah satu bentuk usaha untuk menciptakan suasana yang hangat di dalam hati mereka. Cara yang sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan dengan anak adalah dengan mengajaknya bermain dan bercanda.

Bermain dan bercanda dengan anak merupakan salah satu wujud kasih sayang juga yang bisa melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin di antara orang tua dan anak. Akan tercipta kemistri antara orang tua dan anak.

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga suka bercanda, kadang-kadang beliau tertawa ria dengan anak-anak, kadang-kadang berlari, menggendong dan bergaya kekanak-kanakan atau meniru-niru tingkah anak untuk menciptakan keakraban dan kedekatan dengan anak itu.

Demikian yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berinteraksi dengan anak-anak. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak tersebut. Nabi tidak pernah bersikap kasar, keras, arogan, mengabaikan hak anak-anak dan memperlakukan mereka tidak seperti anak-anak. Inilah yang selayaknya ditiru dari diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah seorang Nabi, seorang pemimpin di kota Madinah, tapi tidak merasa jatuh martabatnya, jatuh harga diri ketika melayani anak-anak.

Baca Juga:
Adab Dalam Bertanya

Jabir menceritakan kepada kita: “Kami pernah berada bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika diundang menghadiri suatu jamuan makan. Ternyata Al-Husain sedang bermain dengan anak-anak yang lain. Maka Rasulullah berlari dengan cepat mendekati Al-Husain lalu berdiri di antara anak-anak. Tampak beliau merendahkan tangan dan punggungnya dan berlari kesana kemari. Dan Al-Husein dan teman-temannya tertawa gembira melihat beliau hingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat Al-Husein dalam keadaan satu tangan menempel pada dagu dan satu tangan lagi berada di telinga dan kepala beliau. Lalu Nabi merangkul dan mencium Al-Husain seraya berkata: ‘Al-Husain berkata dariku dan aku berasal darinya. Sesungguhnya Allah mencintai siapa saja yang mencintai dirinya. Al-Hasan dan Al-Husain adalah cucuku.'”

Lihatlah di sini bagaimana Nabi juga bisa berbaur dengan anak-anak dan berimain bersama mereka pada momen-momen tertentu.

Jadi bercanda dengan anak-anak ini merupakan salah satu sunnah Nabi yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contohkan kepada kita dan ini juga menunjukkan kerendahan hati Nabi bahwa anak-anak itu haruslah kita sikapi berbeda. Dunia anak-anak adalah bermain. Maka ketika bersama anak-anak jangan serius terus, tidak ada canda dan bermainnya. Dunia mereka adalah dunia bermain. Kadang-kadang kita bisa memberikan pelajaran sambil bermain. Seperti Nabi yang memberikan pelajaran kepada Abdullah bin Abbas di atas tunggangan. Ketika berbonceng di belakang Nabi, Nabi menyampaikan pelajaran kepada Ibnu Abbas di momen-momen seperti itu.

Baca Juga:
Meneladani Wara' Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

6. Memberi bingkisan dan hadiah

Salah satu cara kita menjaga perasaan anak adalah memberi bingkisan dan hadiah. Anak-anak suka hadiah. Kadang-kadang hadiah itu bukan harus yang mahal, hadiah-hadiah kecil yang kelihatannya remeh atau sepele tapi itu berkesan di hatinya. Coba banyak kita memberi bingkisan dan hadiah kepada anak-anak. Mereka suka dengan hadiah, mereka suka diapresiasi dengan pemberian. Apalagi ketika mereka melakukan satu ketaatan, maka kita kasih hadiah.

Para sahabiat dahulu memberikan hadiah berupa mainan dari bulu kepada anak-anak mereka supaya mau berpuasa sampai sore. Sehingga mereka senang dengan mainan itu dan mau berpuasa sampai sore hari. Itulah dunia anak-anak, yaitu bermain dan mendapat hadiah.

Jadi tidak bisa kita samakan orang dewasa dengan anak-anak. Jangan sampai anak-anak kita itu tidak bahagia ketika kecil dan ketika sudah dewasa menderita. Berilah dunia mereka. Kalau kita punya uang, sisihkan sebagian itu uang kita untuk membeli hadiah untuk anak-anak. Ini juga untuk menumbuhkan perhatian dan kepekaan sosial kepada anak. Ketika dia lihat orang tuanya suka memberi hadiah, nanti ketika dia tumbuh dewasa dia juga menjadi orang yang suka memberi. Hal ini karena dia melihat itu dari orang tuanya. Dan ini adalah pendekatan positif kepada anak-anak untuk mengambil hati mereka dengan hadiah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Tafsir Al-Qur’an Surat Luqman Bagian 4

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”

Orang yang kita berikan hadiah, secara tidak langsung kita menanamkan rasa cinta di dalam hatinya kepada kita. Itu fitrah manusia, siapapun. Termasuk anak-anak, dia suka mendapat hadiah. Dan ketika kita memberi hadiah, itu adalah momen dimana kita bisa menyampaikan pesan-pesan. Ketika orang itu dikasih hadiah lalu dinasehati, dia tidak melawan, dia akan mendengar kata-kata kita. Hal ini karena dia dalam posisi hatinya senang. Ketika orang itu senang hatinya, dinasehati yang berat pun dianggap ringan. Karena hatinya sudah senang. Tapi kalau hatinya benci ataupun tidak ada rasa lalu kita nasehati, itu sangat berat. Bahkan nasihat yang ringan pun menjadi berat.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini..

Download mp3 Kajian Tentang Memberi Sambutan Hangat dan Bermain dengan Anak

Lihat juga: Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Memberi Sambutan Hangat dan Bermain dengan Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 109 - 110

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.