Rodja Peduli

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Keuntungan Besar dengan Sabar

By  |  pukul 9:17 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 10 Februari 2021 pukul 9:16 am

Tautan: https://rodja.id/2y4

Khutbah Jumat: Keuntungan Besar dengan Sabar ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 15 Jumadill Akhir 1442 H / 29 Januari 2021 M.

Khutbah Pertama – Keuntungan Besar dengan Sabar

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya kesabaran itu panas dan pahit. Namun maksiat lebih pahit lagi akibatnya, saudaraku. Barangsiapa yang tidak sabar dengan maksiat, maka ia akan merasakan kepahitan dan kegetiran di dunia dan akhiratnya. Karena sesungguhnya kesabaran yang kita lakukan saat kita meninggalkan maksiat adalah kesabaran yang sementara. Setelah itu Allah gantikan dengan manisnya keimanan, Allah berikan kepada kita yang lebih baik daripada pahit dan getirnya kesabaran tersebut, berupa keimanan, berupa kesejukan di hati, demikian pula manisnya iman yang kita rasakan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Menghindari Celaan dan Cacian kepada Anak

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ

“Ada tiga perkara, apabila tiga perkara ini ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman.”

مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

“Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari segala-galanya.”

وأنْ يُحِبَّ المرْءَ لا يُحبُّهُ إلَّا للهِ

“Dan ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah semata.”

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ

“Dan ia tidak suka kembali kepada kekufuran.”

كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

“Sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.”

Ummatal Islam,

Seorang ulama terdahulu Dzun Nun Al-Mishri ditanya:

متى أحب ربي ؟

“Kapan aku bisa mencintai Tuhanku (Yaitu Allah Subhanhu wa Ta’ala)?”

Maka beliau mengatakan:

إذا كان ما يبغضه عندك أَمَرّ من الصبر

“Apabila sesuatu yang Allah benci lebih pahit di hatimu dibandingkan pahitnya kesabaran.”

Ummatal Islam,

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita sabar di dunia supaya mendapatkan kebahagiaan untuk selama-lamanya di akhirat. Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang sabar dengan berbagai macam janji yang luar biasa. Namun itu tidak mudah saudaraku sekalian. Sabar itu mudah kita ucapkan, sabar itu pun sangat indah kita dengarkan. Akan tetapi dalam prakteknya ternyata memang getir dan sangat pahit sekali.

Ketika kita bersabar diatas ketaatan untuk menjalani perintah Allah, seringkali kita menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Ketika kita berusaha meninggalkan kemaksiatan, terasa pahit sekali karena maksiat manis sesuai dengan syahwat manusia.

Baca Juga:
Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Surga dan Neraka

Demikian pula ketika kita ditimpa musibah dan ujian, bencana yang menimpa dan menerpa kehidupan kita, sabar pun terasa sangat getir sekali, saudaraku.

Namun semua itu Allah inginkan kepada kita agar kita menjadi hamba-hamba yang tertempa. Karena dengan itu semua lah kesabaran kita menjadi terbina. Siapa yang ia tidak sabar, ia tidak akan diberikan oleh Allah yang lebih baik dari itu.

Oleh karena itulah saudaraku, setiap kita hendaklah melihat jauh kedepan sebagaimana seorang yang berbisnis. Ia sabar untuk mengeluarkan uang terlebih dahulu, ia sabar terkadang harus getir dan pahit di awal-awal membangun bisnisnya. Karena ia tahu ia akan mendapatkan keuntungan yang berlimpah-ruah nantinya.

Dia bisa sabar karena ia tahu dia akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari apa yang ia keluarkan. Demikian pula apalagi kita berbisnis dengan Allah Jalla wa ‘Ala, maka kita sabar sebentar di dunia, Allah berikan kepada kita yang lebih baik dari apa yang kita rasakan di dunia ini. Yaitu surga Allah Jalla wa ‘Ala yang luasnya seluas langit dan bumi, saudaraku.

Oleh karena itulah saudaraku, Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang sabar itu. Allah mengatakan:

…وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَـٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ﴿١٥٧﴾

Berikan kabar gembira bagi mereka yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah.’ Merekalah yang berhak mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan rahmat, dan merekalah orang-orang yang pasti mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-157)

Baca Juga:
Kisah Kesabaran Nabi Yaqub 'alaihissalam saat Berpisah dengan Anaknya - Bagian ke-2 - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Saudaraku seiman..

Tidak mungkin kita bersabar menghadapi ujian-ujian tersebut kalau ternyata kita tidak beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat. Tidak mungkin kita bisa bersabar menghadapi berbagai macam ujian yang menerpa kehidupan manusia di dunia ini, apabila kita tidak mengharapkan ridha Ar-Rahman, tidak mengharapkan pahala Allah Jalla wa ‘Ala.

Demi Allah.. Baik Anda muslim ataupun Anda kafir, yang namanya musibah pasti akan menimpa dalam kehidupan dunia itu. Semua manusia di dunia ini selama ia hidup di dunia, pasti akan merasakan berbagai macam ujian dalam hidupnya. Tapi bagi orang yang beriman, ujian menjadi rahmat untuk dia, menjadi pahala untuk dia, menjadi pengangkat derajat untuk dia.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa kagum kepada seorang mukmin. Rasulullah bersabda:

عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seorang mukmin urusannya baik, dan itu hanya terjadi kepada seorang mukmin. Apabila ditimpa kesenangan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan untuk dia. Apabila ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan buat dia.”

Karena memang demikianlah seorang mukmin. Ia diberikan bimbingan oleh Allah karena ia beriman kepada Allah, ia beriman kepada surga dan neraka, ia beriman bahwasanya hidup di dunia sementara, tidak akan selama-lamanya.

Baca Juga:
Penjelasan Rukun Iman - Pokok Kedua - Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Setiap kita akan merasakan kematian, setiap kita akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seorang mukmin menyadari hal itu, maka musibah bagi dia menjadi mudah dan ringan, bahkan ia berharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika seorang mukmin yakin bahwasanya maksiat itu hanya menimbulkan kesialan di dunia dan akhiratnya, maka mudah bagi dia meninggalkan kemaksiatan. Karena rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka saudaraku, betapa indahnya seorang mukmin itu. Seorang mukmin yang senantiasa bertakwa kepada Allah. Oleh karena itulah Allah memuji mereka dalam Al-Qur’an, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuji mereka dalam sunnahnya, dan Allah pun menyediakan kepada mereka pahala yang besar. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih besar daripada surga Allah Jalla wa ‘Ala.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah Kedua – Keuntungan Besar dengan Sabar

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Sebaliknya, ketika kita tidak sabar menghadapi maksiat, ketika kita lebih mengikuti hawa nafsu dan syahwat kita, lalu kita mengikuti perintah iblis dan bala tentaranya, maka Allah berikan kepada kita berbagai macam kehancuran dan kebinasaan di dunia sebelum akhirat kita.

Baca Juga:
Dalil-Dalil dan Penjelasan Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Orang yang berbuat maksiat terlihat ia tertawa, orang yang berbuat maksiat terlihat sepertinya ia bersenang-senang, padahal Allah berikan kepada dia hatinya itu pahit dan getir. Getirnya maksiat membuat hatinya tidak tentram di dunia ini, saudaraku.

Dan Allah hukum dia, dijadikan ketaatan terasa berat, sehingga untuk menaati Allah ia berat, untuk mengingat Allah lisannya terasa kelu, untuk berdzikir kepada Allah lisannya tak mampu, bahkan ia lebih senang dijadikan oleh Allah dengan nyanyian-nyanyian dan musik daripada membaca Al-Qur’an sebagai sanksi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah tidak suka kepada dia.

Sebagaimana orang-orang munafik di zaman Rasulullah, dijadikan mereka berat kepada kebaikan. Mau pergi shalat berjamaah berat terasa buat mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ

“Seberat-beratnya shalat atas orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh.”

Itu menunjukkan shalat itu berat buat orang munafik. Kenapa dijadikan berat? Karena maksiat mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini sanksi yang lebih besar dibandingkan sanksi yang terlihat oleh mata. Sebab ketika seorang hamba dipalingkan dari ketaatan, ketika ia telah mati yang ia akan dapatkan kesengsaraan, kesakitan, diadzab di dalam kuburnya dan di dalam api neraka. نعوذ بالله نسأل الله السلامة والعافية..

Maka saudaraku.. Kewajiban kita adalah terus sabar untuk menaati Ar-Rahman, kewajiban kita adalah terus sabar untuk meninggalkan kemaksiatan. Karena sesungguhnya kita hidup di dunia tidak tak akan lama.

Baca Juga:
Mempersiapkan Anak Untuk Berdakwah

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali-Imran[3]: 185)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم تب علينا انك انت التواب الرحيم

اللهم اغفر لنا ذنوبنا يا رب العالمين

اللهم ارفع عنا هذا الوباء يا رب العالمين

اللهم انصر المسلمين في كل مكان يا رب العالمين

اللهم أعز الإسلام والمسلمين

اللهم أصلح ولاة أمورنا يا رب العالمين

اللهم ارشد شباب المسلمين لما تحب وترضى يا رب العالمين, ووفقهم لما تحب وترضى يارب العالمين

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Download mp3 Khutbah Jumat

Lihat juga: Khutbah Jumat Singkat Tentang Dunia Bukanlah Tempat Pembalasan

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Keuntungan Besar dengan Sabar” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.