Rodja Peduli

Shahih At-Targhib wa At-Tarhib

Mendengarkan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

By  |  pukul 8:51 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 08 Maret 2021 pukul 8:33 am

Tautan: https://rodja.id/2zk

Mendengarkan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 19 Rajab 1442 H / 3 Maret 2021 M.

Download kajian sebelumnya: Keutamaan Mengajarkan Ilmu

Kajian Hadits Tentang Mendengarkan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kita masuk hadits yang ke-89. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِع مِنَّا شيئا، فَبَلَّغَهُ كما سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أوْعَى مِن سَامِعٍ

“Semoga Allah menghiasi seseorang yang mendengarkan dari kami sesuatu (hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), lalu ia menyampaikannya seperti yang ia dengar, berapa banyak orang yang disampaikan hadits kepadanya ternyata lebih faham daripada orang yang mendengar langsung.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Ini adalah keutamaan besar mempelajari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan orang yang mempelajari hadits dengan kenikmatan/kebahagiaan/kegembiraan yang ada di hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala hiaskan dia.

Sesungguhnya mendengar adalah awal ilmu. Dalam lafadz yang lain disebutkan:

Baca Juga:
Hadits Motivasi Sedekah

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا

“Semoga Allah memberikan nudroh kepada seseorang yang mendengarkan sabdaku, lalu ia berusaha memahaminya, lalu ia menghafalkannya, lalu ia menyampaikan seperti yang ia dengar.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Belajar hadits

Belajar hadits harus talaqqi (belajar langsung mendengar dari mulut Syaikh). Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Semoga Allah menghiasi seseorang yang mendengarkan dari kami.” Berarti ilmu itu harus langsung talaqqi kepada guru yang telah kokoh keilmuannya, bukan sebatas otodidak.

Para ulama mencela orang-orang yang belajar ilmu hanya sebatas otodidak. Karena itu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam anjurkan kepada umatnya talaqqi langsung kepada para ulama.

Banyak mendengar

Seorang yang menuntut ilmu, diawal menuntut ilmu hendaklah dia lebih pandai mendengar, jangan lebih pandai berbicara atau berkomentar. Betapa banyak orang-orang yang mengaku dirinya penuntut ilmu tapi ternyata lebih pandai berbicara dan berkomentar dibandingkan dia mendengar ilmu. Akhirnya dia tidak punya adab terhadap para ulama, bahkan dia melecehkan para ulama hanya karena tidak sesuai dengan pendapat dirinya sendiri. Padahal pendapatnya berdasarkan kepada ilmunya yang dangkal. Dan biasanya orang-orang yang ilmunya dangkal itu pendapatnya berdasarkan perasaan dan semangat saja. Sedangkan para ulama berbicara dengan keilmuan, bukan sebatas dengan semangat dan perasaan.

Baca Juga:
Yang Perlu Dilakukan Oleh Wanita Ketika Sedang Ihram - Bagian 2 - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Berapa banyak di zaman sekarang para pemuda meremehkan para ulama besar yang mereka masyaAllah sudah sangat kuat keilmuannya? Ada yang meremehkan Syaikh Albani, Syaikh Bin Baz dan para ulama yang masyaAllah mereka sudah mempelajari hadits puluhan tahun dan mereka sudah hafal puluhan ribu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti Syaikh Bin Baz hafal Kutubus Sittah (Arab:الكتب السته). Lalu kemudian ada seorang pemuda yang sedang semangat-semangatnya, baru belajar beberapa kitab, karena kemudian pendapat Syaikhnya tidak sesuai dengan perasaan dan semangatnya yang sedang menggelora, akhirnya dia meremehkannya, bahkan menganggap ini bukan ulama, menuduh ini ulama penjilat dan yang lainnya.

Ini semua akibat daripada tidak mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwa seseorang di awal menuntut ilmu hendaknya lebih pandai mendengar. Kenali siapa ulama yang sesungguhnya, itu yang kita benar-benar dengar keilmuannya. Karena di zaman sekarang ini banyak orang yang diulamakan tapi hakikatnya bukankah para ulama, tapi hanya sebatas orang-orang yang pandai beretorika.

Maka dengarkan dulu hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu pahami dulu, setelah itu hafalkan, baru kemudian tahap terakhir adalah menyampaikan sebagaimana hadits itu didengar. Berarti tahap penyampaian itu nanti. Setelah didengar, dipahami, dia kuasai, baru kemudian dia sampaikan.

Menyampaikan hadits

Orang-orang yang menyampaikan hadits tidak boleh menambah dan tidak boleh mengurangi. Atas dasar itulah para ulama berbeda pendapat mengenai periwayatan hadits secara makna. Sebagian ulama mengatakan tidak boleh dengan dasar hadits ini. Apabila melebihi dari sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berarti dia termasuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Penyelenggaraan Jenazah, Shalat Jenazah dan Pemakamannya

Terkadang ada orang yang menyampaikan hadits lalu ia tambah-tambah, maka tambahannya ini yang akan menyebabkan ia disediakan tempat duduknya di neraka. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sementara jumhur ulama berpendapat bahwa boleh meriwayatkan hadits secara makna namun dengan syarat:

أن يكون عَالِمًا بما يحيل المعاني

“Betul-betul paham bahasa Arab yang apabila ia mengubah dengan kata lain tidak merubah makna.”

Berarti syarat orang yang ingin meriwayatkan hadits secara makna dia paham betul tentang bahasa Arab. Dimana ketika dia meriwayatkan secara makna tidak berakibat kepada perubahan makna.

Maka dari itulah hati-hati bagi kita yang bahasa Arabnya masih kurang dalam, yang lebih baik jangan meriwayatkan hadits secara makna, apalagi yang tidak bisa bahasa Arab. Sehingga kalau ingin membawakan hadits secara makna, penuhi syarat yang telah disebutkan oleh para ulama hadits. Jangan sampai Anda meriwayatkan hadits secara makna kemudian terjadi perubahan yang luar biasa dalam hadits tersebut.

Bagaimana kalau membawakan hadits secara terjemahnya saja? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mendengarkan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Mukadimah Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fikih Islam

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.