Rodja Peduli

Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu

Akal Yang Dipuji di dalam Al-Qur’an

By  |  pukul 5:50 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 29 Maret 2021 pukul 7:56 am

Tautan: https://rodja.id/30m

Akal Yang Dipuji di dalam Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 11 Sya’ban 1442 H / 25 Maret 2021 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Akal Yang Dipuji di dalam Al-Qur’an

Melanjutkan pembahasan tentang segi keutamaan ilmu yang menjelaskan bahwa semua sifat-mulia yang dipuji di dalam ayat-ayat Al-Qur’an semua kembalinya kepada ilmu agama. Sebaliknya, semua sifat-sifat tercela kembalinya kepada kejahilan. Oleh karena itu ini merupakan motivasi bagi kita untuk semangat dalam menuntut ilmu.

Sebelumnya: Semua Sifat Terpuji adalah Buah dari Ilmu

Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan:

وقد مدح الله سبحانه العقل وأهله في كتابه في مواضع كثيرة منه، وذم من لا عقل له

Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an memuji akal (pemahaman agama yang benar) dan orang yang berkal (orang yang bisa memahami petunjuk Allah). Sebaliknya, banyak ayat Al-Qur’an mencela orang yang tidak punya akal (yang tidak bisa memahami petunjuk Allah dengan pemahamannya).

Bahkan Allah memberitakan di dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang tidak punya akal inilah yang akan menjadi penghuni neraka, karena mereka tidak menggunakan pendengaran dan akalnya untuk memahami petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Do'a Adalah Obat dan Solusi dari Allah - Kajian Kitab Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa' (Ustadz Mahfudz Umri, Lc.)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapkan penghuni neraka setelah masuk neraka:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: ‘Seandainya dulu kami di dunia mau mendengarkan dan mau menggunakan akal kami untuk memahami petunjuk Allah, maka mestinya sekarang kami tidak termasuk kedalam penghuni neraka yang menyala-nyala.’” (QS. Al-Mulk[67]: 10)

Penghuni neraka adalah orang yang tidak menggunakan pendengaran dan akalnya untuk memahami dan mendengarkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka akal yang dipuji dalam banyak ayat Al-Qur’an merupakan alat semua ilmu, sekaligus merupakan penimbang/pengukur/penilai untuk mengenal mana yang benar dan mana yang salah dari ilmu tersebut.

Kita mengenal mana pendapat yang kuat dan mana yang lemah, sekaligus akal ini adalah sebagai cermin untuk kita bisa melihat mana yang baik/indah dan mana yang buruk. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan:

“Akal itu ibaratnya adalah raja pada tubuh manusia, sedangkan anggota badan, ruh manusia, panca indera, gerakan-gerakannya, semua adalah masyarakat. Ketika akal itu lemah, tidak mampu menegakkan dan menjaga rakyatnya, maka akan sampai berbagai macam keburukan kepada rakyatnya tersebut.”

Ada juga ungkapan Arab yang mengatakan:

من لم يكن عقله أغلب خصال الخير عليه، كان حتفه في أغلب خصال الشر عليه

“Barangsiapa yang tidak menjadikan akalnya sebagai sifat kebaikan yang dominan pada dirinya, maka orang seperti ini kecelakaannya adalah pada sifat keburukan yang dominan pada dirinya.”

Baca Juga:
Perjalanan Ruh Setelah Terpisah dari Jasadnya

Apa yang dimaksud dengan akal?

Terdapat dua macam akal, yaitu:

  1. akal yang merupakan tabiat/watak bawaan manusia, inilah yang disebut bapaknya ilmu, pendidik ilmu dan yang menumbuhkan ilmu.
  2. akal atau pemahaman yang diusahakan atau bisa dikembangkan dan ditingkatkan. Ini merupakan anaknya ilmu atau buah dan hasil dari ilmu.

Untuk akal yang jenis pertama, jelas bahwa semua orang punya akal, yakni kemampuan untuk memahami dan mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Permasalahannya apakah semua orang memanfaatkan potensi ini untuk memahami dan menumbuhkan ilmu yang benar pada dirinya? Jawabnya tidak. Karena penghuni neraka mengakui bahwa mereka dahulu di dunia tidak mau mendengarkan dan menggunakan akalnya untuk memahami petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jadi, akal jenis kedua inilah yang mereka tidak punyai, karena mereka tidak mau memanfaatkannya dalam memahami dan mencari kebenaran.

Jika terkumpul dua jenis akal ini pada diri seorang hamba, maka inilah karunia besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada siapa yang dikehendakiNya.

Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian Tentang Akal Yang Dipuji di dalam Al-Qur’an

Mari turut membagikan link download kajian “Akal Yang Dipuji di dalam Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Buah Manis Beriman Kepada Takdir

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.