Rodja Peduli

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Jangan Marah

By  |  pukul 9:08 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 29 Maret 2021 pukul 8:25 am

Tautan: https://rodja.id/30n

Khutbah Jumat: Jangan Marah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 12 Sya’ban 1442 H / 26 Maret 2021 M.

Khutbah Pertama Tentang Jangan Marah

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Shalawat beriring salam tidak lupa kita limpahkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atas keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan umat beliau sampai hari kemudian.

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi dan meminta wejangan dan nasihat. Dan Nabi berkata kepadanya: لا تَغْضَبْ (jangan marah).

Kemudian dia meminta wejangan lagi, dan Nabi mengulangi kata-kata itu, yaitu لا تَغْضَبْ (jangan marah). Sampai tiga kali, dan Nabi tetap mengatakan kepadanya لا تَغْضَبْ (jangan marah).

Hadits ini memiliki banyak sekali faedah. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan kepada lelaki ini dan juga berpesan kepada umat beliau seluruhnya, agar bisa mengendalikan amarah, bisa mengontrol emosi, jangan jadi seorang yang pemarah dan jangan suka mengumbar kemarahan. Pesan yang singkat, tapi sangat bermanfaat bagi kita semua.

Tentunya, kita paham bahwa Nabi tidaklah menafikan marah sama sekali, tapi Nabi menganjurkan kepada kita agar bisa mengendalikan marah dan bisa menempatkan marah itu pada tempatnya. Karena meletakkan marah tidak pada tempatnya adalah sebuah kekonyolan.

Baca Juga:
Keutamaan Doa dan Dzikir

Di dalam hadits yang lain, Nabi menyebut orang yang bisa mengendalikan marah/emosi sebagai orang yang kuat. Nabi berkata:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Yang kuat itu bukanlah orang yang kuat bergulat, akan tetapi orang kuat adalah yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yaitu dia dapat mengendalikan amarahnya.

Dan terbukti bahwa amarah ini sering mendatangkan penyesalan. Setelah kita melampiaskan marah kita, barulah kita menyesali apa yang sudah terjadi. Ada kata-kata yang tidak pantas, ada perbuatan yang tidak wajar, itu kita lakukan ketika marah. Seolah-olah kita kehilangan pertimbangan akal sehat. Kita melakukan yang sebenarnya kita tidak inginkan, sehingga di dalam bab thalaq, kemarahan ini menangguhkan thalaq tersebut. Nabi mengatakan:

لاطلاق في غلق

“Tidak ada jatuh talak ketika pada saat ghalaq.”

Para ulama menafsirkan ghalaq di sini adalah marah, sehingga dia sadar dan menyadari apa yang dia ucapkannya. Demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang buruknya marah tersebut.

Oleh karena itu Nabi adalah teladan kita, dan beliau adalah seorang yang dapat menempatkan marah itu pada tempatnya.

Nabi tidak pernah marah sama anak-anak. Kalau kita telisik riwayat-riwayat bagaimana Nabi berinteraksi/bermuamalah dengan anak-anak, maka beliau tidak pernah sekalipun memarahi seorang anak. Maka berhentilah memarahi anak, karena itu bukan mendidik.

Sebagian orang tua merasa dia sudah menjadi orangtua yang berprestasi apabila berhasil dan berani memarahi anaknya. Itu adalah suatu pandangan yang sangat-sangat keliru.

Baca Juga:
Objek Penyaluran Zakat Atau 8 Golongan Penerima Zakat

Nabi teladan kita di dalam mendidik, kita dapati beliau tidak pernah memarahi seorang anak. Maka kata-kata seorang ayah dan ibu mengatakan “saya memarahi anak saya,” itu adalah kata-kata yang keliaru. Yang benar adalah “Saya menasihati, membimbing, mendidik, mengarahkan anak saya,” bukan memarahi anak. Karena anak perlu disentuh hatinya dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan.

Maka berhentilah memarahi anak. Karena secara tidak langsung kita mengajari anak itu untuk marah. Banyak orang tua yang mengeluh anaknya jadi pemarah, ternyata anak ini marah-marah karena melihat orang tuanya marah. Dia melihat teladan dari orang tua yang suka marah, sehingga anak ini pun menjadi anak yang pemarah.

Kemudian, Nabi tidak pernah marah dengan Arab Badui, atau orang-orang terbelakang pendidikannya, atau pengetahuannya, atau orang bodoh, atau orang pandir. Karena marah kita kepada orang-orang seperti ini tidak terhormat. Kita tidak dihormati dengan marah kita, dan kita terlihat konyol di hadapannya. Maka Nabi tidak pernah marah sama Arab Badui bagaimanapun Arab Badui itu membuat Nabi kesel.

Berbeda dengan sikap Nabi terhadap para sahabat yang senior, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ali, ‘Usman, Usamah bin Zaid dan sahabat-sahabat terkemuka lainnya. Nabi justru sering marah kepada mereka, tidak sama Arab Badui. Karena marah sama Arab Badui ini tidak terhormat dan tidak dihormati. Arab Badui itu tidak mengerti marah kita. Adapun Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan para sahabat-sahabat senior lainnya, mereka mengerti dan menghormati marah Nabi.

Maka dari itu kita lihat banyak riwayat bagaimana Nabi bermuamalah dengan Arab Badui. Apakah Nabi marah-marah terhadap mereka? Tidak. Nabi memilih sabar dan bersikap santun. Karena yang dihadapi adalah orang yang terbelakang pendidikannya, orang awam, yang kita tidak perlu marah sama mereka. Contohnya di jalan raya, jika kita marah-marah di jalan raya, maka kita akan menjadi tontonan manusia, marah kita tidak dihormati, dan kita juga tidak terhormat dengan marah itu.

Baca Juga:
Kisah tentang Berita Bohong yang Menimpa Aisyah radhiyallahu 'anha / Haditsatul Ifki - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Nabi memberikan contoh bagaimana Nabi menampilkan marah dalam bentuk yang terhormat. Ketika menghadapi seorang Arab Badui yang datang masuk ke masjid, ketika itu Nabi bersama para sahabat, ada Abu Bakar, ‘Umar dan sahabat-sahabat senior lainnya. Lalu Arab Badui itu ternyata mau masuk masjid bukan ikut taklim, ternyata dia buang hajat di pojok masjid.

Siapa yang tidak marah melihat perilaku seperti ini? Mungkin kalau kita di situ waktu itu, kita juga marah. Dan para sahabat marah karena Allah, Nabi juga marah karena Allah. Tapi yang membedakan di sini adalah bagaimana menampilkan marah itu.

Para sahabat bangkit dan ingin memukuli orang itu karena marah. Tapi Nabi menampilkan marah dalam bentuk yang lain. Nabi berkata kepada para sahabat:

دَعُوهُ وَلاَ تُزْرِمُوهُ

“Biarkanlah dan jangan putus buang airnya.”

Setelah orang Baduy tersebut selesai, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta satu ember air untuk menyiram kencingnya tersebut.

Begitulah Nabi menampilkan marah dalam bentuk yang terhormat. Beliau marah, tapi tidak seperti para sahabat yang menampilkan marah dalam bentuk yang lain.

Kemudian setelah itu Nabi manggilnya, bukan untuk dimarahi. Karena beliau paham siapa orang yang berada di hadapan beliau ini. Beliau manggilnya dan menasihati Arab Badui itu dengan bijaksana dan lunak, padahal perbuatannya luar biasa.

Apa kata Nabi kepadanya? “Sesungguhnya masjid tidak didirikan untuk buang hajat, tapi didirikan untuk dzikrullah, shalat dan tilawatul Qur’an.”

Baca Juga:
Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab

Demikian para para jama’ah yang dimuliakan Allah,

Bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa menampilkan marah dalam bentuk yang terhormat dan bermanfaat bagi manusia.

Khutbah Kedua Tentang Jangan Marah

Para jama’ah yang dimuliakan Allah,

Ada beberapa kerugian atau sifat-sifat positif yang terangkat karena marah. Di antaranya adalah:

1. Kasih sayang

Tidak bisa bersatu antara kasih sayang dan kemarahan. Maka dari itu dalam hadits Qudsi, Nabi berkata, bahwa Allah berkata:

إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Sesungguhnya kasih sayang-Ku itu mendahului kemarahan-Ku.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya dua hal ini tidak bisa dilakukan dalam satu waktu. Yaitu antara kasih sayang dan kemarahan. Ketika kita menampilkan kasih sayang, hilanglah kemarahan. Dan ketika kita menampilkan kemarahan, maka terangkatlah kasih sayang itu.

Apalagi di dalam bab mendidik anak, sentuhlah hati anak itu dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan.

2. Kelemahlembutan

Ketika kita marah, hampir mustahil kita bisa lemah-lembut. Mungkin kata-kata kita akan jadi kasar, demikian pula sikap kita akan kasar. Maka dengan kemarahan akan terangkat kelemahlembutan. Kita tidak bisa menampilkan الرفق (kelemahlembutan).

Padahal kelemahlembutan ini apabila ada pada satu urusan akan membuatnya bertambah baik. Dan apabila tercabut maka akan menjadikannya rusak.

Maka dari itu salah satu jenis manusia yang kita tidak perlu marah-marah di hadapannya adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Adalah perbuatan yang salah dan keliru/konyol apabila kita marah-marah kepada orang yang punya kekuatan dan kekuasaan.

Baca Juga:
Amalan Bulan Ramadhan

Kalau kita datang kepada atasan kita dan marah-marah, itu artinya minta dipecat. Karena dia punya kekuatan dan kekuasaan. Terlebih lagi apabila dia adalah seorang penguasa. Kita datang marah-marah kepada penguasa itu sama artinya kita minta ditangkap.

Siapa yang tidak marah dengan Fira’un yang mengatakan: “Aku adalah Tuhanmu yang paling tinggi”? Tapi bagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’Ala kepada Nabi Musa dan Harun ketika akan menghadapi dan mendatangi Firaun ini? Apakah Allah memerintahkan kedua NabiNya untuk datang membentak-bentak dan marah-marah kepada Firaun? Justru Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada kedua NabiNya:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Katakanlah kepada Firaun kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan dia ingat, sadar dan takut.” (QS. Thaha[20]: 44)

Karena marah-marah kepada Firaun itu tidak ada manfaatnya, dia tidak akan menghormati marah kita, bahkan dia akan murka, dia akan menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk membinasakan kita, menangkap bahkan membunuh kita. Mungkin kalau itu dilakukan, kita tinggal nama.

3. Kesabaran

Tidak akan mungkin dikatakan orang itu sabar jika dia meluapkan emosi dan kemarahannya. Kemarahannya itu menunjukkan bahwa dia telah keluar dari lingkaran kesabaran. Maka dengan kemarahan akan hilanglah kesabaran kita.

Kebanyakan orang yang mengatakan “sudah habis kesabaranku,” itu artinya dia ingin melampiaskan kemarahannya. Itu menunjukkan bahwasanya tidak akan bertemu antara kemarahan dan kesabaran.

Baca Juga:
Konsekuensi dari Sahnya Akad Bagian 2 - Kitab Zadul Mustaqni (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

4. Kebijaksanaan

Tindak akan bisa bijaksana orang yang yang dikuasai oleh emosi dan kemarahan. Kita kehilangan pertimbangan akal sehat.

Kadang-kadang orang tua mendoakan keburukan atas anaknya, itu adalah sesuatu yang sangat tidak bijaksana. Dia katakan anaknya anak nakal, anak bandel, itu semua doa yang kalau diamini malaikat maka terjadilah.

Maka kita akan menjadi orang yang ceroboh dan sangat tidak bijaksana ketika marah.

5. Kesantunan

Kita tidak akan bisa menjadi orang yang santun ketika melampiaskan dan meluapkan kemarahan. Bahkan sebaliknya, cenderung kita ingin mendzalimi/menjahati orang yang menjadi pelampiasan marah kita.

6. Keadilan

Kita tidak akan bisa berbuat adil ketika dikuasai oleh emosi dan amarah. Allah berpesan kepada kita:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Janganlah kebencian/kemarahanmu kepada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, sesungguhnya adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah[5]: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemarahan/kebencian akan menghilangkan sikap adil kita kepada manusia.

Demikian, mudah-mudahan khutbah ini bermanfaat bagi kita semua.

Download mp3 Khutbah Jumat: Jangan Marah

Lihat juga: Khutbah Jumat Singkat Tentang Menjaga Amal

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat Tentang Jangan Marah” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.