Rodja Peduli

Sifat Puasa Nabi

Pembatal-Pembatal Puasa

By  |  pukul 3:01 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 23 April 2021 pukul 9:37 am

Tautan: https://rodja.id/31o

Pembatal-Pembatal Puasa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Sifat Puasa Nabi. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 24 Sya’ban 1442 H / 14 April 2021 M.

Kajian Islam Tentang Pembatal-Pembatal Puasa

Banyak perbuatan yang semestinya dijauhi oleh orang yang puasa, karena jika ia mengerjakannya di siang hari bulan Ramadhan, maka rusaklah puasanya dan bertambahlah dosa-dosanya. Perkara-perkara tersebut adalah:

1. Makan dan Minum dengan Sengaja

Allah Azza Sya’nuhu berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Makan minumlah oleh kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam karena waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah berpuasa sampai malam.” (QS. Al-Baqarah[2]: 187)

Difahami dari ayat ini bahwa puasa adalah menahan dari makan dan minum, jika makan dan minum sungguh ia telah berbuka, dan dikhususkan makan dan minum dengan sengaja, karena jika makan dan minum dalam keadaan lupa, atau tidak sengaja, atau dipaksa, maka tidak terkena apa-apa atasnya (puasanya sah). Hal itu ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut ini:

Baca Juga:
Cara Melaksanakan Shalat Qiyamul Lail

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا نَسِيَ فَأَ كَالَ وَشَرِبَ فَلْيَتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“Jika dia lupa lalu makan dan minum, hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberikan makan dan minum oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَاً وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan atas umatku (membebaskan) kekeliruan dan kelupaan, serta apa yang dipaksakan atas mereka.” (HR. Thahawi, Ibnu Hazm, Ad-Daruquthni)

2. Sengaja Muntah

Karena siapa yang muntah tanpa sengaja, maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَليَقْضِ

“Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka tidak ada qadha’ apapun atasnya, dan siapa yang muntah dengan sengaja, maka hendaklah dia mengqadha’.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

3. Haidh dan Nifas

Jika seorang wanita haidh atau nifas, pada sebagian waktu siang, baik itu diawal ataupun di akhirnya, maka dia berbuka dan batal puasanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda.

أَلَيْسَ إِذَا خَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلنَ : بَلَى : قَالَ : فَذَ لِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا

“Bukankah jika wanita haid tidak shalat dan tidak puasa? Para perempuan menjawab: ‘Iya’, Beliau berkata : ‘Itulah ) kurangnya agama seorang perempuan.” (HR. Muslim)

Baca Juga:
Ketika Matahari Terbit dari Barat

Dalam riwayat lain:

تَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّي، وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ دِيْنِهَا

“Dia berdiam beberapa hari tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Itulah kurangnya agama seorang perempuan.” (HR. Muslim)

Telah terdapat perintah untuk mengqadha’ puasa di dalam hadits Mu’adzah, dia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: ‘Mengapa wanita yang haid mengqadha’ puasa tetapi tidak mengqadha shalat?’ ‘Aisyah menjawab: ‘Apakah engkau seorang Haruriyyah? Aku menjawab : ‘Aku bukan Haruri, tapi hanya bertanya kenapa demikian?’ ‘Aisyah menjawab: ‘Dizaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kita haidh ketika puasa, lalu kkita diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Suntikan Nutrisi yang Mengenyangkan

Yaitu menyalurkan nutrisi-nutrisi makanan kepada alat pencernaan dengan maksud memberi asupan makan kepada sebagian orang yang sakit. Maka hal ini membatalkan puasa, karena dia memasukkan ke dalam tubuh.

Dan apabila suntikan itu tidak masuk ke alat pencernaan, akan tetapi dia masuk ke dalam saluran darah, maka dia juga membatalkan, karena dia semakna dengan makan dan minum.

Maka kebanyakan orang yang koma dalam waktu yang panjang, mereka diberikan makanan dengan perantara suntikan-suntikan ini. Demikian pula yang dipakai oleh sebagian orang-orang yang sakit asma, inipun membatalalkan puasa.

5. Jima’ (Hubungan Badan)

Imam Asy-Syaukani Rahimahullah dalam Kitab Ad-Dararul Mudhiyah berkata: “Jima’, tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) bahwa itu membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja, adapaun jika jima’ tersebut terjadi karena lupa, maka sebagian ulama mengategorikan dia sama dengan orang yang makan dan minum dengan keadaan lupa.”

Baca Juga:
Keutamaan Ilmu Dikenal Dari Kebalikannya

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad berkata: “Al-Qur’an menunjukkan bahwa berjima’ termasuk dari yang membatalkan puasa seperti makan dan minum, tidak diketahui di dalamnya terjadi perbedaan pendapat.”

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ

“Maka sekarang gaulilah istri-istri kalian dan carilah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tuliskan untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 187)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan di dalam menggauli. Maka dipahami dari hal itu bahwa puasa adalah menahan dari bersetubuh, makan, dan minum. Barangsiapa yang merusak puasanya dengan berjima’, dia wajib mengqadha’ dan membayar kafarat, dalilnya akan hal itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

“Ada seseorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian ia berkata, ‘Ya Rasulullah, aku telah binasa!’ Rasulullah bertanya, ‘Apa yang membinasakanmu?’ Orang itu menjawab, ‘Aku menggauli istriku di bulan Ramadhan (maksudnya di siang hari)’. Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau sanggup memerdekakan seorang budak?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak sanggup’. Rasulullah bertanya, ‘Apakah engkau sanggup untuk berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Orang ini menjawab lagi: ‘Tidak’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah engkau sanggup untuk memberi makan kepada enam puluh fakir miskin?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak Wahai Rasulullah’ Rasulullah bersabda, ‘Duduklah engkau’. Diapun duduk. Kemudian dibawakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebakul korma. Rasulullah bersabda, ‘Bersedekahlah engkau dengannya’, Orang tersebut menjawab, ‘Tidak ada di antara dua kampung ini seseorang yang lebih miskin daripada saya’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun tertawa hingga terlihat gigi taringnya, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah, berilah makan keluargamu.”

Baca Juga:
Kesetaraan Gender dalam Islam

Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Pembatal-Pembatal Puasa” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.