Rodja Peduli

Zadul Mustaqni

Orang Yang Diberikan Wasiat

By  |  pukul 9:09 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 02 Juni 2021 pukul 7:32 am

Tautan: https://rodja.id/32e

Orang Yang Diberikan Wasiat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 15 Syawal 1442 H / 27 Mei 2021 M.

Download kajian sebelumnya: Hukum Wasiat

Kajian Islam Ilmiah Tentang Orang Yang Diberikan Wasiat

Penulis menjelaskan siapa saja yang boleh menerima wasiat. Bahwasanya sah wasiat tersebut untuk sesuatu yang bisa menerima kepemilikian. Sesuatu yang bisa menerima kepemilikan itu banyak, bukan saja manusia, berakal dan baligh. Akan tetapi janin, orang gila, orang yang tidak berakal bisa menerima kepemilikan. Tentu harta tersebut dipegang oleh walinya.

Begitu juga sesuatu yang bukan manusia, tetapi dia bisa menerima kepemilikan. Misalnya Anda menyerahkan kepemilikan kepada masjid, sedangkan masjid bukan manusia, tapi ada yang mengurusnya. Misalnya juga anak umur 1 bulan diwasiatkan perusahaan, tentu dia tidak akan bisa mengurusnya, ini tetap sah dengan penerima adalah walinya. Nanti walinya yang bertransaksi apakah dia yang mengelola langsung atau dia mewakilkan kepada pihak yang lain untuk mengelolanya.

Begitu juga masjid. Seseorang bisa berwasiat kepada masjid. Misalnya dia mengatakan: “Andai saya wafat, toko bangunan saya ini menjadi milik masjid.” Dengan demikian Nazhir wakaf masjid mengelola toko ini dan hasil dari keuntungannya diberikan kepada masjid.

Baca Juga:
Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 4 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Misalnya juga seseorang berwasiat: “Tabungan saya di Bank Syariah apabila saya wafat, semua yang ada di situ berikan kepada masjid.” Masjid benda mati, tapi dia bisa menerima wakaf.

Maka sesuatu yang bisa menerima kepemilikan sah sebagai penerima manfaat dari wasiat tersebut.

Berwasiat untuk budak

Diperbolehkan seseorang berwasiat untuk budaknya, tapi dengan syarat harus dengan persentase, tidak boleh dengan nominal tertentu seperti 100 juta, 100 gram emas, dan seterusnya.

Dalam syariat, budak adalah seseorang yang didapatkan dari tawanan perang. Yaitu kaum muslimin berperang dengan orang kafir, kemudian orang kafir yang kalah perang tersebut dijadikan budak dan bisa diperjual-belikan. Status budak ini bukan seseorang merdeka yang bisa memiliki sesuatu. Tapi semua hartanya dia milik tuannya. Sehingga kalau misalnya budak ini adalah seseorang yang memiliki profesi keahlian dalam mencari uang, maka uang yang didapatkannya 100% milik tuannya. Kewajiban dari tuannya adalah memberi nafkah kepada budak tersebut. Kalau budak itu sakit, dia berikan nafkah.

Budak tidak bisa memiliki, tapi bisa menerima kepemilikan. Oleh karena itu di sini penulis mengatakan bahwa boleh seseorang berwasiat kepada budaknya. Misalnya seseorang berkata: “Andai saya wafat, sepertiga/seperemat/seperlima/sepersepuluh harta saya untuk budak saya.” Ini diperbolehkan.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Baca Juga:
Tanda-Tanda Orang Yang Berakal

Download mp3 kajian yang lain di mp3.radiorodja.com

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Orang Yang Diberikan Wasiat” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.