Rodja Peduli

Shahih At-Targhib wa At-Tarhib

Khawatir Ketika Tidak Mengamalkan Ilmu

By  |  pukul 8:31 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 18 Juni 2021 pukul 1:09 pm

Tautan: https://rodja.id/336

Khawatir Ketika Tidak Mengamalkan Ilmu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 6 Dzulqo’dah 1442 H / 16 Juni 2021 M.

Download kajian sebelumnya: Hadits Ancaman Untuk Orang Berilmu Namun Tidak Mengamalkannya

Kajian Hadits Khawatir Ketika Tidak Mengamalkan Ilmu

Hadits ke-129

Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

إنما أخشى من ربي يوم القيامة أن يدعوني على رؤوس الخلائق فيقول لي يا عويمر فأقول لبيك رب فيقول ما عملت فيما علمت

“Sesungguhnya yang aku khawatirkan dari Rabbku nanti pada hari kiamat yaitu Allah akan panggil aku di hadapan seluruh manusia lalu Allah berfirman kepadaku: ‘Ya Uwaimir’, aku berkata: ‘Labaik Ya Rabb’ lalu Allah Ta’ala berfirman: ‘Apa yang kamu amalkan terhadap ilmu yang kamu ketahui?'” (HR. Baihaqi)

Subhanallah.. Hadits ini menunjukkan betapa para sahabat orang-orang yang sangat takut kepada Allah. Maka hendaknya kita mencontoh mereka untuk kita merasa takut kepada Allah. Ini dia Abu Darda sangat takut kepada Allah. Abu Darda sangat khawatir dengan ilmu yang ia miliki untuk kelak nanti pada hari kiamat akan dipanggil oleh Allah lalu ditanya tentang ilmunya untuk apa diamalkan.

Baca Juga:
Biografi Singkat Imam Al-Lalika'i

Maka sungguh rasa takut kepada Allah adalah kekuatan yang dahsyat dalam kehidupan dunia ini untuk kita senantiasa mengalahkan hawa nafsu dan syahwat. Dengan dengan rasa takut kepada Allah kita bisa meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebaliknya, orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah, dia tidak peduli dengan adzab Allah, bahkan dia akan menganggap remeh adzab Allah. Sebagaimana halnya orang-orang musyrikin yang tidak takut dan tidak percaya akan adzab Allah, bahkan mereka menantang dan meminta:

اللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاءِ

Ya Allah kalau memang ternyata yang dibawa Muhammad itu benar dari Engkau, turunkan saja kepada kami batu dari langit.” (QS. Al-Anfal[8]: 32)

Sampai begitu mereka menantang karena tidak ada rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka kita orang-orang yang berusaha untuk mengikuti para sahabat Rasulullah, hendaknya kita juga mengikuti tentang bagaimana para sahabat dalam rasa takut mereka kepada Allah. Disebutkan dalam atsar bahwa para sahabat itu lebih takut kepada Allah saat sendirian, sedangkan kita takutnya saat di hadapan manusia saja, tapi ketika kita sendirian kita tidak takut kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Na’udzubillah..

Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang punya ilmu hendaknya dia khawatir seperti halnya kekhawatiran Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu. Yaitu akan ditanya setiap ilmunya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Apa yang kamu amalkan?”

Baca Juga:
Mukadimah – Bagian ke-4 – Kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah

Tentunya ini bukanlah alasan yang bisa diterima bagi orang yang mengatakan: “Kalau begitu saya tidak menuntut ilmu dulu karena takut tidak bisa mengamalkan, takut nanti ditanya ditanya hari kiamat apa yang kamu amalkan dari ilmumu?” Maka kita katakan kepada orang ini bahwa kamu tidak menuntut ilmu pun akan ditanya oleh Allah kenapa kamu tidak menuntut ilmu? Bukankah sudah datang kepada kamu pemberi peringatan? Bukankah Allah sudah turunkan kepada kamu Al-Qur’an? Sudah datang kepada kamu orang-orang yang menjelaskan tentang Al-Qur’an dan hadits dari kalangan para ulama?

Maka kita harus menuntut ilmu. Sebab ketika ktia tidak menuntut ilmu pun kita berdosa di sisi Allah. Dan ketika kita menuntut ilmu dan sudah punya ilmu, maka kita harus mengamalkan ilmu. Sebab kalau kita tidak amalkan, ilmu akan menjerumuskan kita ke neraka.

Jalan keselamatan adalah ilmu dan amal. Namun ini  berat bagi orang yang mengikuti syahwat. Sebab alasan orang yang takut tidak bisa mengamalkan ilmu itu karena dia masih mengikuti syahwat. Sebab kalau hatinya tunduk kepada Allah, ia sadar bahwasanya syahwat akan menghancurkan dirinya dunia dan akhirat, ia menggunakan akal pikirannya yang cerdas bahwa perintah Allah itu isinya semua kebaikan dan semua yang dilarang oleh Allah pasti buruk dan mudharat, pasti itu akan memberikan kekuatan kepada dia untuk senantiasa menaati Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan ia merasa takut untuk diadzab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Syarat-Syarat Si Pewakaf

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Khawatir Ketika Tidak Mengamalkan Ilmu” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.