Rodja Peduli

Al-Adabul Mufrad

Adab Dalam Memandang

By  |  pukul 1:03 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 07 Oktober 2021 pukul 7:17 am

Tautan: https://rodja.id/385

Adab Dalam Memandang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 27 Shafar 1442 H / 05 Oktober 2021 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Adab Dalam Memandang

Bab 332 – Tidak diperbolehkannya seorang menajamkan pandangan kepada saudaranya tatkala dia pergi

Menit ke-4:09 Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan sebuah atsar dari seorang tabi’in yang bernama Mujahid bin Jabr, beliau mengatakan:

يُكْرَهُ أَنْ يُحِدَّ الرَّجُلُ إِلَى أَخِيهِ النَّظَرَ أَوْ يُتْبِعَهُ بَصَرَهُ إِذَا وَلَّى، أَوْ يَسْأَلَهُ مِنْ أَيْنَ جِئْتَ وَأَيْنَ تذهب

“Tidak disukai seorang menajamkan pandangan kepada saudaranya,atau diikuti dengan matanya ketika dia pergi, atau menanyakan kepadanya dari mana engkau datang dan kemana engkau pergi.”

Secara sanad, atsar ini dhaif. Tapi kalau kita melihat sebagai sebuah adab, ketika kita mandang orang, maka tidak boleh memandang matanya dengan pandangan yang tajam, pandangan yang menunjukkan ada ketidaksukaan di dalam hati.

Mata adalah jendela hati. Ketika seseorang memandang orang lain yang pandangan yang penuh dengan kasih sayang, maka pandangannya tidak tajam. Dan kalaupun menyorot ke mata orang tersebut, biasanya akan ada senyuman.

Baca Juga:
Larangan Mengharapkan Bantuan dan Pemberian Manusia

Maka adabnya adalah dengan menyapa dan tunjukkan dengan mata bahwa kita memandang dengan penuh penghormatan.

Bab 333 – Ucapan orang “ويلَك”

Menit ke-11:07 Ungkapan “wailak” adalah sebuah kalimat yang diucapkan bagi orang yang terjatuh dalam kebinasaan. Seakan-akan “dengan perbuatanmu ini engkau hampir binasa/celaka.”

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang sedang menggiring seekor unta/sapi gemuk yang hendak dihadiahkan untuk disembelih di Mekah.

(ارْكَبْهَا) فَقَالَ: (إِنَّهَا بَدَنَةٌ. قَالَ: (ارْكَبْهَا) قَالَ: إِنَّهَا بَدَنَةٌ. قَالَ: (ارْكَبْهَا) قَالَ: فَإِنَّهَا بَدَنَةٌ، قال: (اركبها ويلك)

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada orang tersebut: ‘Engkau naiki unta itu’, lalu sahabat ini mengatakan: ‘Ya Rasulullah ini badanah‘, Nabi mengulangi: ‘Iya, engkau naiki’, maka orang ini mengatakan lagi: ‘Ya Rasulullah ini badanah’…”

Orang ini membantah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanyak tiga kali. Dan yang keempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Naiki unta itu, celaka engkau.” Artinya engkau hampir binasa dengan membantah apa yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menit ke-20:58 Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:

إِنِّي أَكَلْتُ خُبْزًا وَلَحْمًا، فَهَلْ أَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ: وَيْحَكَ أَتَتَوَضَّأُ مِنَ الطيبات

“‘Aku baru saja makan roti sama daging, apakah aku harus berwudhu?’ Ibnu Abbas menjawab: ‘Waihak, apakah engkau berwudhu karena habis memakan makanan yang baik?'” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga:
Hubungan Shalat dengan Kemenangan

Ucapan ‘waihak‘ dikatakan kepada orang yang terjebak dalam kebinasaan/kecelakaan yang dia tidak pantas mendapatkannya. Karena orang ini bertanya dengan pertanyaan yang bagus.

Menit ke-25:11 Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, pada waktu selesai Perang Hunain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mampir di Ji’ranah yang di sana dibagikan harta rampasan perang kepada umat Islam yang pembagiannya tidak rata.

Kalau bicara keadilan bukan berarti sama. Bisa jadi Nabi melihat kepada kebutuhan atau kedudukan orang ini. Disebutkan bahwa Bilal memegang emas atau perak yang belum dijadikan uang. Maka datang seseorang mengatakan:

اعْدِلْ فَإِنَّكَ لَا تَعْدِلُ

“Berlaku adillah engkau, engkau tidak adil (dalam membaginya).”

Allahuakbar.. Bagaimana ucapan ini disebutkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Di sinilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam marah. Karena tidak pantas diucapkan kepada Nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah, yang beliau diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, yang ketika orang-orang berada dalam kesesatan sampai Allah mengutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

وَيْلَكَ فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلُ؟

“Celaka engkau, siapa yang akan berlaku adil kalau aku tidak berbuat adil?”

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Baca Juga:
Keutamaan Ilmu dan Penuntut Ilmu (Ustadz Fachrudin Nu'man, Lc.)

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Adab Dalam Memandang” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.