Rodja Peduli

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Menjaga Keikhlasan

By  |  pukul 3:01 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 23 Agustus 2021 pukul 8:57 am

Tautan: https://rodja.id/35w

Menjaga Keikhlasan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 11 Muharram 1443 H / 20 Agustus 2021.

Khutbah Pertama – Menjaga Keikhlasan

Sesungguhnya keikhlasan adalah sesuatu yang berat. Karena manusia punya sifat suka dipuji oleh orang lain. Ketika kita memiliki sifat seperti itu, maka untuk ikhlas sangatlah sulit sekali. Sehingga pada waktu itu membutuhkan perjuangan untuk berusaha ikhlas. Oleh karena itulah Sufyan Ats-Tsauri berkata:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَتيِ

“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada niat.”

Ayyub As-Sikhtiyani pun mengatakan:

ليس شيء أشد علي من الإخلاص…

“Tidak ada yang lebih berat bagiku dari keikhlasan. Aku berusaha untuk ikhlas, tapi terkadang riya’ itu muncul dengan warna yang lainnya.”

Ummatal Islam.. Karena memang setan tidak akan pernah berhenti dan tidak akan pernah ridha melihat seorang hamba beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika kita beribadah kepada Allah, maka setan berusaha sekuat tenaga agar ibadah kita ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka setan berusaha menjadikan shalat kita tidak khusyuk, kita berpikir kesana-kemari, menjadikan hati kita tidak ikhlas, menjadikan kita supaya mengharapkan pujian manusia dan mendapat sesuatu dari kehidupan dunia. Sehingga akhirnya ibadah kita pun tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Bahaya Riya' Dan Pujian Manusia

Dan ketika kita sudah ikhlas di dalam shalat, setelah selesai shalat setan datang ke hati kita agar amal ibadah kita dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan dimunculkan rasa ‘ujub di hati kita.

Muhasabah dan Muraqabah

Oleh karena itulah saudaraku sekalian. Siapapun yang ingin ikhlas, maka gunakanlah muhasabah di dua tempat dan muraqabah di satu tempat. Muhasabah di dua tempat; yang pertama yaitu sebelum beramal. Sebelum kita melakukan amal shalih apapun, maka kita tanya tentang keikhlasan kita.

Ketika kita hendak shalat, kita tanya dan kita periksa hati kita “Saya shalat karena siapa, untuk tujuan apa?” Ketika kita hendak sedekah, kita tanya keikhlasan kita “Apakah kita bersedekah benar-benar mengharapkan keridhaan Allah semata atau mengharapkan kehidupan dunia?”

Apabila kita tidak melakukan ini, hati kita seringkali berkhianat. Lalu kemudian kita pun tidak ikhlas, ini akan berakibat fatal. Yaitu amal kita tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Bahkan yang ada adalah api neraka.

Tempat yang kedua untuk muhasabah yaitu setelah selesai melakukan amal shalih. Al-Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dua tempat ini dalam kitab Ighatsatul Lahfan. Setelah selesai beramal, kita periksa lagi apakah tadi ketika saya sedang beribadah kemasukan niat-niat bukan karena Allah atau tidak? Apakah ada kekurangan yang terjadi pada shalat dan ibadah saya? Maka segera kita minta ampun kepada Allah dengan istighfar.

Baca Juga:
Manakala Telepon Menjadi Kebutuhan - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Oleh karena itulah -kata Al-Imam Ibnul Qayyim- inilah hikmah mengapa setelah selesai shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon ampun kepada Allah. Setelah selesai shalat Rasulullah mengucapkan “Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.” Apakah shalat dosa? Jawabannya bukan, akan tetapi Rasulullah meminta kepada Allah ampunan akan kekurangan yang terjadi dalam ibadah kita.

Adapun yang ketiga, yaitu muraqabah di satu tempat. Yaitu ketika kita sedang beramal shalih, ketika sedang shalat, kita berusaha memperhatikan dan mengawasi terus hati kita. Terkadang di awal shalat kita ikhlas mengharapkan wajah Allah semata, tapi di tengah shalat mulai muncul niat-niat dan ketidakikhlasan tersebut. Kalau kita tidak awasi diri kita, seringkali kita tidak sadar kemudian ternyata kita jatuh kepada niat-niat yang tidak ikhlas.

Bahaya riya’

Demi Allah, saudaraku.. Riya’ (mengharapkan pujian manusia) merupakan dosa yang besar di mata Allah dan termasuk syirik kecil. Bahkan pelakunya adalah termasuk yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka jahanam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أول من تسعر بهم النار ثلاثة…

“Tiga orang yang pertama kali dibakar dalam api neraka:

  1. alim dan qari’,
  2. orang yang berjihad dijalan Allah hingga mati syahid,
  3. orang dermawan yang senantiasa berinfak.

Maka tiga orang ini dihadirkan di hadapan Allah. Allah bertanya kepada si alim dan qari’: “Apa amalmu?” Maka si alim dan qari’ ini berkata: “Dahulu di dunia aku menuntut ilmu karena Engkau, aku baca Qur’an karena Engkau.”

Baca Juga:
Hukum Do'a Dalam Tasyahud - Kitab Bulughul Maram (Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)

Maka Allah berfirman: “Kamu dusta. Kamu dahulu menuntut ilmu hanya karena ingin disebut alim ulama, kamu dahulu membaca Al-Qur’an hanya yang disebut qari’. Dan kamu sudah mendapatkan sebutan itu.” Lalu kemudian diseretlah ia di atas tengkuknya dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Didatangkan yang kedua, yaitu orang yang mati syahid, lalu Allah bertanya kepadanya: “Apa amalmu?” Maka dia berkata: “Ya Allah, aku berperang dijalan Engkau sampai aku terbunuh di jalan Engkau, karena Engkau.”

Lalu Allah berfirman: “Kamu dusta. Kamu dahulu berperang hanya ingin disebut pemberani, hanya ingin disebut pahlawan. Dan kamu sudah mendapatkan predikat itu.” Maka ia pun diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Adapun yang ketiga, orang yang dermawan, saudaraku sekalian. Allah bertanya kepada dia: “Apa amalmu?” Dia berkata: “Ya Allah, tidak ada satupun tempat yang Engkau suka untuk diinfaqkan padanya kecuali aku sudah berinfaq padanya karena Engkau.”

Allah berfirman: “Kamu dusta. Dahulu kamu berinfaq hanya ingin disebutkan dermawan. Dan kamu sudah mendapatkan sebutan itu.” Maka ia pun diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Subhanallah.. Saudaraku sekalian.. Orang yang mendengar hadits ini seharusnya menjadi takut kalau ternyata niatnya bukan karena Allah. Orang yang mendengar hadits ini sepatutnya menjaga keikhlasan dengan cara kita menyembunyikan amal, tidak perlu kita update status di Facebook kalau saya sedang mengaji, kalau saya sedang melakukan ibadah.

Baca Juga:
Kisah Kesabaran Nabi Yaqub 'alaihissalam saat Berpisah dengan Anaknya - Bagian ke-3 - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Demi Allah, mungkin Anda berkata bahwasannya “Saya ingin agar orang-orang mengikuti perbuatan saya.” Tapi apakah Anda mampu untuk menjaga keikhlasan niat?

Para ulama saja sangat khawatir dari yang namanya riya’ dan mereka bersungguh-sungguh untuk menyembunyikan amal. Siapa kita, saudaraku sekalian? Untuk ikhlas itu bukan sesuatu yang mudah.

Maka berusahalah, saudaraku. Kita senantiasa meminta kepada Allah agar diberikan keikhlasan. ‘Umar bin Khattab saja yang imannya luar biasa senantiasa berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِى كلَّهُ صَالحِاً وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih dan jadikanlah amalanku murni hanya mengharapkan wajahMu.”

Khutbah Jumat kedua – Menjaga Niat dari Riya’

Inilah penyakit yang sangat berat, yang menghantui orang-orang yang rajin beribadah kepada Allah, yang menghantui bahkan menjadi aral yang melintang di hadapan jalan orang yang menginginkan kehidupan akhirat. Yaitu digoda keikhlasannya, mengharapkan kehidupan dunia dari amalnya, mengharapkan pujian manusia, mengharapkan ketenaran, mengharapkan kemasyhuran, padahal itu sama sekali tidak ada manfaatnya di mata Allah Jalla wa ‘Ala.

Kewajiban kita berusaha menjaga niat-niat kita. Kewajiban kita berusaha mengetahui warna-warni riya’. Terkadang kita riya’ dengan memperlihatkan pakaian seakan seorang ulama, terkadang kita riya’ dengan memperlihatkan cara berjalan seakan kita adalah orang yang tawadhu’, terkadang kita riya’ dengan memperlihatkan kepintaran dalam berbicara menyampaikan Al-Qur’an dan hadits, supaya orang mengetahui kalau saya bisa hafal ini dan itu.

Baca Juga:
Tauhid Yang Berhubungan dengan Ibadah

Ini dia Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits, tapi beliau kalau menyampaikan hadits dengan membaca buku. Kenapa beliau melakukan itu? Yaitu untuk menjaga hatinya. Padahal beliau manusia paling hafal sedunia.

Maka dari itulah, bila kita menyadari tentang hakikat riya’ dan bahwasanya itu sangat berbahaya untuk kehidupan hamba, maka kita akan lari selari-larinya dan kita berusaha bahwasanya kita ini adalah seorang hamba yang membutuhkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Download mp3 Khutbah Jumat

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Menjaga Keikhlasan” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.