Rodja Peduli

Ayat-Ayat Ahkam

Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka

By  |  pukul 2:32 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 13 September 2021 pukul 10:03 am

Tautan: https://rodja.id/36x

Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 19 Dzuhijjah 1442 H / 29 Juli 2021 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۖ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Yang demikian itu karena mereka berkata: ‘Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari saja’. Mereka terpedaya dalam agama mereka oleh karena apa yang mereka buat-buat.” (QS. Ali-Imran[3]: 24)

Ayat ini menjelaskan tentang beberapa hal:

Pertama, batilnya angan-angan. Terkadang jiwa memberikan angan-angan kepada seseorang dengan sesuatu yang tidak benar. Mereka berkata: “Kita tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja.”

Orang-orang yang diberi Al-Kitab kemudian tidak mau berpegang teguh dengannya. Mereka percaya diri dan merasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi perbuatan mereka jauh dari apa yang diinginkan oleh Allah, mereka tidak mau berhukum dengan Al-Kitab

Kedua, ini merupakan peringatan bagi seseorang jangan sampai seseorang menyandarkan diri kepada  angan-angan. Karena hal itu merupakan perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Banyak orang yang terjatuh dalam perbuatan maksiat tetapi mereka memberikan angan-angan kepada diri mereka bahwa nanti akan mendapatkan ampunan dari Allah walaupun terjatuh dalam maksiat. Tentu ini adalah angan-angan yang keliru.

Baca Juga:
Bimbingan Tajwid: Praktik Membaca Al-Qur'an Surat Asy-Syu'ara Ayat 36-60 (Ustadz Ali Subana)

Betul bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, tapi jangan lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ‎﴿٤٩﴾‏ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ ‎﴿٥٠﴾‏

Sampaikanlah kepada hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku ini Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan sesungguhnya azabKu adalah azab yang pedih.” (QS. Al-Hijr[15]: 49-50)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memberikan kabar kepada hamba-hambaNya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun dan Maha Penyayang, tapi jangan lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga punya azab yang sangat pedih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras siksaanNya dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah[5]: 98)

Ketiga, mereka itu beriman tentang adanya hari kebangkitan, akan tetapi iman mereka tidak bermanfaat sama sekali. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Mereka berkata:’Kita tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan beberapa hari saja.’

Ini menunjukkan bahwa mereka beriman tentang adanya hari kebangkitan, tetapi keimanan mereka tidak bermanfaat sama sekali. Maka dalam hal keimanan seseorang tidak cukup hanya beriman tentang adanya Allah dan hari akhir semata jika tanpa disertai adanya penerimaan dan ketundukan.

Baca Juga:
Doa Meminta Perlindungan dari Keburukan

Apabila sekedar membenarkan, maka ini bukan keimanan. Bukankah Abu Thalib dahulu berikrar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu benar? Bahkan dia berkata: “Mereka telah mengetahui bahwa putra kami tidak didustakan oleh kami dan tidak berkata dengan perkataan yang batil.” Dan dia juga berkata: “Aku telah mengetahui bahwa agamanya Muhammad adalah sebaik-baik agamanya manusia.”

Lihatlah, pengakuan atau ikrarnya Abu Thalib tidak bermanfaat untuk dirinya karena tidak disertai dengan penerimaan dan ketundukan. Bahkan akhir hayatnya ditutup dengan perkataan dia berada di atas agamanya Abdul Muththalib.

Keempat, seseorang bisa jadi terpedaya dengan keadaannya dari agamanya. Allah berfirman: “Mereka terpedaya pada agama mereka oleh karena apa yang mereka buat-buat“. Seseorang bisa tertipu karena dia shalat, karena dia berzakat, karena dia berpuasa, karena dia berhaji, kemudian dia berkata tentang dirinya: “Tidak mungkin aku diazab”.

Tentunya yang semacam ini karena kurang ilmu. Karena perkaranya bukan engkau shalat semata, atau mengeluarkan zakat semata, atau puasa atau haji, tetapi perkaranya adalah apa amalnya ini diterima atau tidak? Berapa banyak orang yang beramal tidak mendapatkan dari amalnya melainkan hanya kepayahan saja. Hal ini karena ada pembatal amalan, baik pembatal yang mendahuluinya ataupun pembatal yang menyusulnya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Baca Juga:
Aqidah Ahlussunnah Dalam Mengingkari Firqoh Jahmiyyah - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.