Rodja Peduli

Tauhid Asma' wa Shifat

Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’

By  |  pukul 8:38 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 23 September 2021 pukul 12:50 pm

Tautan: https://rodja.id/377

Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’ ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 10 Safar 1443 H / 17 September 2021 M.

Kajian sebelumnya: Ayat-Ayat Yang Menjelaskan Tentang Sifat Istiwa’

Kajian Tentang Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’

Pembahasan tentang sifat istiwa’ menjadi perkara yang diperselisihkan dan ditakwilkan oleh Ahlul kalam. Sementara kita mengetahui dan memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sifat tersebut di dalam 7 ayat dalam Al-Qur’anul Karim. Begitu juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menjelaskan hal itu. Akan tetapi muncul sekte dari Ahlul kalam mengingkari sifat tersebut kemudian mentakwilnya dengan berbagai alasan yang tidak bisa diterima oleh akal yang sehat, disertai dengan berbagai syubhat yang berlandaskan logika semata.

Kita perlu juga menyampaikan sebagian hadits yang disabdakan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini didengar dan diimani oleh para sahabat.

Hadits tentang Sifat Istiwa’

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Hurairah sembari memegang tangan beliau, kemudian menyampaikan kepada Abu Hurairah:

Baca Juga:
Adab Ketika Sedang Dalam Perjalanan

يَا أَبَا هُرَيرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ وَمَا بَينَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ استَوَى عَلَى العَرشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy.” (HR. An-Nasa’i, hasan)

Hadits ini memperkuat dan mempertegas makna yang terdapat dalam ayat-ayat yang kita bacakan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih (sesuai dengan keagungan, kebesaran dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk istiwa’ di atas ‘Arsy.

Dalam hadits Qatadah bin Nu’man Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ

“Setelah Allah selesai menciptakan makhlukNya, kemudian Allah istiwa’ di atas ‘ArsyNya.” (HR. Al-Khallal)

Perkataan ulama tentang istiwa’

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa makna istiwa’ yang dipahami oleh ulama salaf ada empat, yaitu:

  1. العلو
  2. الارتفاع
  3. الاستقرار
  4. السعود

Keempat makna yang dinukilkan dari ulama salaf tentang istiwa’ ini menunjukkan kepada ketinggian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu yang demikian itu sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan karena Allah butuh kepada ‘Arsy, akan tetapi ‘Arsy (bahkan semua malaikat pemikul ‘Arsy) membutuhkan pertolongan Allah.

Diwaktu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup, beliau membacakan ayat Al-Qur’an kepada para sahabatnya, menyampaikan lafadz Al-Qur’an dan juga maknanya secara bersamaan. Bahkan tujuan lafadz Al-Qur’an disampaikan adalah untuk dipahami maknanya.

Baca Juga:
Hukum Qishash bagi Orang yang Membunuh Bayi (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Para sahabat mendengar ayat tersebut. Subhanallah, karena fitrah mereka yang masih lurus, hati mereka yang masih bersih, pikiran yang masih jernih, mereka yang selalu mengimani apa yang datang dari Allah dan RasulNya dan tidak menghakiminya dengan akal, maka tidak satupun dari sahabat Nabi yang mempermasalahkan ayat tentang istiwa’ yang terdapat dalam 7 ayat yang telah kita bacakan sebelumnya.

Diwaktu yang sama ini adalah bantahan yang tidak bisa ditolak. Dimana ini menjelaskan kebatilan penyimpangan pemahaman orang-orang yang merekayasa, mentakwil, dan mengingkari sifat sifat Allah dengan berbagai alasan dan syubhat. Kenapa tidak ada yang komplain di kalangan para sahabat?

Selanjutnya setelah Rasulullah wafat kemudian para sahabat mewariskan ilmu tersebut kepada generasi setelah mereka dari kalangan Tabi’in, mereka juga tidak ada yang mempermasalahkan.

Lalu dari mana asal pemahaman yang menyimpang tentang istiwa’? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Untuk mp3 kajian yang lain: silahkan kunjungi mp3.radiorodja.com

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa'” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Ahlus Sunnah Mengajak Manusia kepada Akhlak yang Mulia - Bagian ke-1 - Poin 79 - Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Ustadz Yazid 'Abdul Qadir Jawas)

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.