Rodja Peduli

Mencetak Generasi Rabbani

Nasihat dan Doa Untuk Anak

By  |  pukul 9:06 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 11 Oktober 2021 pukul 7:31 am

Tautan: https://rodja.id/388

Nasihat dan Doa Untuk Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 28 Shafar 1443 H / 05 September 2021 M.

Kajian sebelumnya: Menjaga Wibawa Pasangan di Hadapan Anak

Kajian Islam Ilmiah Tentang Nasihat dan Doa Untuk Anak

Kita sampai pada bab lampiran-lampiran sebagai pelengkap dari apa yang sudah kita bahas sebelumnya. Di dalam lampiran ini kita membahas beberapa perkara, yaitu:

  1. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi nasihat dan doa yang mungkin bisa menjadi bahan bagi para orang tua untuk menyampaikan dan menjelaskannya kepada anak-anak.
  2. Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang perlu diajarkan, khususnya berkaitan dengan sunnah-sunnah keseharian yang perlu diketahui oleh anak-anak. Dan tentunya ini akan menjadi satu rutinitas yang akan dia lakukan nantinya.
  3. Doa-doa keseharian yang hendaknya dihafalkan oleh anak-anak. Karena dalam Islam hampir semua aktivitas dimulai dengan doa dan diakhiri dengan doa.
  4. Kisah-kisah shahih untuk anak-anak shalih, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  5. Kalimat-kalimat yang tidak patut diucapkan oleh orang tua. Tentunya menjaga lisan di dalam pendidikan itu suatu hal yang sangat perlu, bahkan ini bagian dari pendidikan itu sendiri.
  6. Sikap-sikap yang salah dan sikap-sikap yang seharusnya. Beberapa sikap yang mungkin dipandang biasa, tapi sebenarnya itu tidak biasa. Dan bagaimana seharusnya orang tua bersikap di dalam menghadapi anak-anak mereka.
Baca Juga:
Syarat-Syarat dalam Pengasuhan Bayi (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Nasihat dan Doa Untuk Anak

Wasiat Nabi Ibrahim

Menit ke-5:23 Ini adalah wasiat Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya agar istiqamah memegang agamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim mewasiatkan wasiat ini kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub kepada anak-anaknya juga. Mereka berkata: ‘ Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih bagimu agama ini bagi kamu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 132)

Ini wasiat yang perlu kita sampaikan kepada anak-anak kita. Apapun yang terjadi, bagaimanapun sulitnya kehidupan, bagaimanapun beratnya penderitaan, bagaimanapun hebatnya cobaan, kita tetap harus istiqamah diatas Islam. Karena godaan dan cobaan itu akan mereka hadapi.

Wasiat Nabi Ya’qub

Menit ke-8:19 Wasiat Nabi Ya’kub agar anak-anaknya tetap beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, dan ketiga ia berkata kepada anak-anaknya saat itu: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, yaitu Ilah yang Esa dan kami berserah diri kepadaNya.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 132)

Baca Juga:
Hak-Hak As-Sunnah - Bagian ke-2 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Ini pelajaran yang disampaikan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. Sehingga ketika ayahnya bertanya kepada anak-anaknya, mereka mengetahui jawabannya.

Ini khawatirkan Nabi Ya’kub terhadap anak-anak keturunannya, yaitu apa yang akan mereka sembah sepeninggal beliau. Beliau tidak begitu memusingkan masalah-masalah lain. Artinya bukan masalah lain tidak penting, tapi ada masalah yang lebih penting dalam kehidupan, yaitu aqidah. Itu yang jauh lebih penting dari segalanya. Untuk itulah kita diciptakan, untuk itulah kita ada di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan supaya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)

Ini adalah perkara yang mereka bahwa lahir dan seharusnya ini adalah perkara yang mereka bawa mati. Ketika lahir kita membawa persaksian itu,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ

“Setiap anak terlahir diatas fitrah…”

Demikian orang tua berkewajiban untuk mengawal tauhid ini pada anak-anak sampai mereka kembali bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jangan putus asa dari rahmat Allah

Menit ke-14:57 Demikian pula nasihat Nabi Ya’kub kepada anak-anaknya agar tidak putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia memperkuat keyakinan dan harapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang shalih, taat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah pelajaran yang sangat penting.

Baca Juga:
Anak dan Sifat Amanah - Bagian ke-2 - Fiqih Pendidikan Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Dalam kehidupan adakalanya kita dan anak-anak melakukan kesalahan yang membuat kita terpuruk, tapi jangan pernah putus asa dari rahmat Allah untuk kembali kepadaNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf[12]: 87)

Ini salah satu bentuk motivasi kepada anak-anak kita, juga satu teladan kepada para orang tua untuk meneladani Nabi Ya’kub. Bagaimana memberikan motivasi kepada anak-anak. Walaupun anak-anak itu melakukan kesalahan, tapi tetap memberikan semangat dan motivasi yang baik. Hal ini supaya mereka bisa bangkit dari kesalahan dan memperbaiki keadaan. Bukan kata-kata yang menjatuhkan, kata-kata yang justru menjadi bumerang bagi mereka untuk bertambah larut dalam kesalahan.

Nabi Ya’qub juga tidak berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kekecewaan dan kekesalannya atau kemarahan kepada anak-anaknya yang lain. Beliau tetap menjaga itu, bahkan memberikan motivasi. Sehingga semua masalah bisa terselesaikan dengan baik.

Doa Nabi Ibrahim

Menit ke-28:09 Ini adalah doa Nabi Ibrahim agar keturunannya diselamatkan dari kesyirikan dan istiqamah mengerjakan shalat.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Baca Juga:
Nikmat dan Adzab Kubur

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Allah jadikanlah negeri ini (Mekah) menjadi negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak-anak cucuku agar tidak menyembah berhala.'” (QS. Ibrahim[14]: 35)

Ini satu pelajaran penting bahwa kita tidak boleh merasa aman dari makar setan. Karena tujuan utama mereka adalah menyeret manusia kepada dosa syirik.

Nabi Ibrahim tidak merasa aman atas dirinya dan juga anak-anaknya dari penyembahan berhala. Kalaulah para Nabi itu tidak merasa aman, padahal mereka adalah orang-orang yang dijaga oleh Allah, maka tentunya kita juga lebih merasa tidak aman dari makar-makar setan yang senantiasa berusaha untuk menggelincirkan dan menjatuhkan kita ke dalam dosa syirik itu.

Lihat juga: Syirik Lebih Tersembunyi dari Jalannya Semut

Doa agar anak-anak menegakkan shalat

Menit ke-34:18 Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Allah, jadikanlah aku dan anak-anak keturunanku sebagai orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Ibrahim[14]: 40)

Shalat adalah tiang di dalam agama kita, dan ini adalah syariat yang ada pada syariat syariat Nabi-Nabi terdahulu sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kesibukan atau masalah apapun yang terjadi, shalat jangan ditinggalkan. Karena masih ada harapan kalau orang itu masih shalat. Tapi kalau sudah tidak shalat, bagaimanapun baiknya dia dari sisi-sisi yang lain, ini tinggal tunggu waktu untuk hancurnya. Selama seseorang masih shalat, maka masih bisa diharapkan kebaikan. Tapi kalau sudah tidak shalat lagi, kelihatannya mungkin baik, tapi itu akan tidak baik nantinya.

Baca Juga:
Pintu-Pintu Kebaikan Saling Mengikuti Satu dengan Yang Lainnya

Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Nasihat dan Doa Untuk Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.