Rodja Peduli

Shahih At-Targhib wa At-Tarhib

Agungnya Wudhu

By  |  pukul 9:29 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 11 Oktober 2021 pukul 7:33 am

Tautan: https://rodja.id/38b

Agungnya Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 29 Shafar 1443 H / 06 Oktober 2021 M.

Download kajian sebelumnya: Hukum Wanita Melepas Pakaian di Selain Rumah Suaminya

Hadits ke-180

Dari Abu Darda Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أنا أول من يؤذن له بالسجود يوم القيامة وأنا أول من يرفع رأسه فأنظر بين يدي فأعرف أمتي من بين الأمم ومن خلفي مثل ذلك وعن يميني مثل ذلك وعن شمالي مثل ذلك

“Aku adalah orang yang pertama kali diizinkan untuk sujud pada hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yang pertama kali mengangkat kepalanya pada hari kiamat. Lalu aku melihat ke depanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat yang lain, dari belakangku pun juga demikian, dari kananku demikian dan dari kiri pun demikian juga.”

Lalu kemudian ada seorang laki-laki berkata: “Bagaimana engkau mengenal umatmu, Wahai Rasulullah di antara umat-umat yang lainnya dari semenjak Nabi Nuh sampai umatmu?” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Bab Hibah

هم غر محجلون من أثر الوضوء ليس لأحد ذلك غيرهم وأعرفهم أنهم يؤتون كتبهم بأيمانهم وأعرفهم تسعى بين أيديهم ذريتهم

“Mereka (umatku) ubun-ubunnya bercahaya, kaki dan tangannya bercahaya dari bekas air whudu. Hal itu tidak ada kecuali pada mereka saja. Dan aku juga mengenal mereka bahwa mereka diberikan kitab catatan amalnya dari kanan mereka. Dan aku juga mengenal mereka bahwa berjalan di hadapan mereka anak-anaknya yang beriman.” (HR. Ahmad)

Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang keistimewaan diri, tapi bukan dalam rangka bersombong diri. Hal ini menunjukkan boleh kita menyebutkan kelebihan diri kalau memang dibutuhkan dan tidak menimbulkan ‘ujub, kesombongan, riya’ dan yang lainnya. Maka kalau syarat-syarat ini terpenuhi boleh. Tapi kalau kita tidak menyebutkan karena khawatir terkena penyakit sombong atau ‘ujub atau karena tidak ada kebutuhan, maka jangan. Cukuplah Allah yang tahu tentang kelebihan diri kita.

Menit ke-10:19 Beliau adalah Nabi yang paling utama dibandingkan seluruh Nabi, Rasul yang paling utama dibandingkan seluruh Rasul Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alahi. Maka kita umatnya bergembira, ternyata kita memiliki Nabi yang mempunyai keistimewaan luar biasa. Bergembira dengan cara ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jangan berbuat bid’ah, cukup ikuti saja Rasul, jadikan beliau sebagai suri tauladan, jadikan beliau sebagai panduan untuk hidup kita. Allah berfirman:

Baca Juga:
Dalil Bahwa Al-Qur'an Kalamullah Dan Bukan Makhluk Bagian 4 - Kitab Al-Ibanah

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ…

“Katakan: ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah). Niscaya Allah akan cintai dan ampuni dosa-dosa kamu.” (QS. Ali Imran[3]: 31)

Maka kita bersyukur menjadi umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasa syukur itu kita realisasikan dengan cara mengikuti jejak kaki Rasulullah, mempelajari sunnahnya, mempelajari hadits-haditsnya, lalu kita praktekkan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita menjadi seorang pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sejati.

Dalam aqidah, ibadah dan bahkan dalam seluruh sisi kehidupan, kita jadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai teladan. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ…

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suri tauladan yang baik…” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Agungnya wudhu

Menit ke-13:15 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bagaimana Rasulullah mengenali umatnya. Yaitu mereka ubun-ubunnya bercahaya, kaki dan tangannya pun bercahaya dari bekas air wudhu.

Itu menunjukkan agungnya wudhu, saudaraku. Maka hendaknya kita memperhatikan yang namanya wudhu agar kita dikenali oleh Rasul kita yang mulia nanti pada hari kiamat.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa mereka diberikan kitabnya diarah kanan mereka. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar berusaha untuk mengikuti, mengimani dan menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Tiga Orang Yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengetahui bahwasanya anak-anak mereka yang beriman pun berjalan di hadapan mereka.

Hadits ke-181

Menit ke-15:28 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إذا توضأ العبد المسلم أو المؤمن فغسل وجهه خرج من وجهه كل خطيئة نظر إليها بعينيه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئة كانت بطشتها يداه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فإذا غسل رجليه خرجت كل خطيئة مشتها رجلاه مع الماء أو مع آخر قطر الماء حتى يخرج نقيا من الذنوب

“Apabila seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu, lalu ia mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya semua kesalahan yang dilakukan oleh matanya bersama air atau bersama tetesan terakhir dari air wudhu. Apabila ia mencuci dua tangannya, maka keluarlah dari dua tangannya semua kesalahan yang dilakukan oleh dua tangannya tersebut bersama air atau bersama tetesan terakhir dari air wudhu. Apabila ia mencuci dua kakinya, maka keluarlah setiap kesalahan yang dilakukan oleh dua kakinya bersama air atau bersama tetesan terakhir dari air tersebut. Sehingga ia pun keluar dari wudhu dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Imam Malik, Muslim, Tirmidzi)

Subhanallah, ini menunjukkan akan keistimewaan wudhu. Bayangkan ketika kita mencuci wajah, maka keluarlah dosa-dosa yang dilakukan oleh mata. Ini menunjukkan bahwasanya dosa-dosa yang digugurkan saat berwudhu itu bukan dosa besar, akan tetapi itu adalah dosa-dosa kecil.

Baca Juga:
Hadits Arbain Ke 4 - Proses Penciptaan Manusia dan Takdir dalam Lauhul Mahfudz

Semua yang dilakukan oleh mata berupa melihat sesuatu yang diharamkan, maka pada waktu berwudhu, itu menggugurkan dosa-dosa kita.

Kenapa Nabi hanya menyebutkan mata saja, padahal di wajah ada mulut? Karena mulut rata-rata dosanya besar. Misalnya dosa ghibah, mencaci maki orang, berdusta, berkat atas Allah dengan tanpa ilmu, bersumpah palsu, dan yang lainnya.

Ini merupakan keistimewaan yang Allah berikan kepada orang yang berwudhu. Kalau Antum mengeluh sering buang angin sehingga akhirnya harus sering berwudhu. Kita katakan Alhamdulillah kalau kamu sering berwudhu. Karena sering berwudhu berarti semakin banyak menggugurkan dosa. Maka sungguh merugi orang yang tidak berusaha menggugurkan dosa-dosanya dengan berwudhu, shalat dan amalan-amalan shalih yang lainnya.

Hadits ke-182

Menit ke-21:54 Dari ‘Utsman bin Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من توضأ فأحسن الوضوء خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تحت أظفاره

“Siapa yang berwudhu lalu ia memperbagus wudhunya, maka keluarlah dosa-dosa itu dari jasadnya, sampai-sampai keluar dari bawah-bawah kukunya.”

Dalam satu riwayat yang lain bahwasanya ‘Utsman bin Affan berwudhu, kemudian beliau berkata:

رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ مثل وضوئي هذا ثم قال من توضأ هكذا غفر له ما تقدم من ذنبه وكانت صلاته ومشيه إلى المسجد نافلة

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwudhu seperti wudhuku ini. Lalu Nabi bersabda: ‘Siapa yang berwudhu seperti ini, akan diampuni untuknya semua dosa-dosanya yang telah lalu. Dan shalat serta berjalannya menuju masjid itu menjadi tambahan pahala buat dia.'” (HR. Muslim, An-Nasa’i secara ringkas)

Baca Juga:
Keagungan dan Adab Shalat Malam

Lafadznya begini: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ما من امرىء يتوضأ فيحسن وضوءه إلا غفر له ما بينه وبين الصلاة الأخرى حتى يصليها

“Tidaklah seorang pun berwudhu lalu ia memperbagus wudhunya, kecuali diampuni untuknya antara shalat yang lainnya hingga ia shalat lagi yang berikutnya.”

Hadits ini menunjukkan bahwa kita berwudhunya harus sesuai dengan wudhunya Nabi. Tidak boleh kita berwudhu seenaknya. Maka dalam agama harus mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketika kita shalat, tanya apakah shalat kita sesuai dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau tidak? Lihat dalil-dalinya. Ulama itu sebatas wasilah saja, bukan tujuan. Jangan jadikan ulama seperti Nabi.

Benar kita wajib menghormati ulama karena keilmuan mereka. Tapi kita tidak boleh mengkultuskan mereka. Kita ikuti ulama selama sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena kita akan ditanya di kuburan tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Cahaya Pada Hari Kiamat Dari Bekas Wudhu

Mari turut membagikan link download kajian “Agungnya Wudhu” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Baca Juga:
Bid'ah Pada Kelompok Qadariyah

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.