Rodja Peduli

Mencetak Generasi Rabbani

Cara Menasihati Anak

By  |  pukul 3:24 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 12:50 pm

Tautan: https://rodja.id/38m

Cara Menasihati Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 6 Rabiul Awal 1443H / 12 Oktober 2021 M.

Kajian sebelumnya: Nasihat dan Doa Untuk Anak

Kajian Islam Ilmiah Tentang Cara Menasihati Anak

Saat ini kita telah sampai pada pelajaran yang dapat kita petik dari surat Luqman. Yaitu wasiat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya.

Ini merupakan salah satu surat yang berisi nilai-nilai pelajaran untuk orang tua maupun anak. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dialog antara Luqman dan putranya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ…

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata ketika ia memberikan pelajaran kepada anaknya…” (QS. Luqman[31]: 13)

Awali dengan sapaan

Ini adalah salah satu metode orang-orang shalih sebelum kita dan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan nasihat secara khusus kepada anak-anak. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Ibnu Abbas:

إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ

“Aku akan mengajarkan beberapa pelajaran.”

Tentunya ketika berdialog dengan anak-anak, kita memang mengkhususkan satu pembicaraan itu sebagai sebuah nasihat dari orang tua kepada anak. Diperlukan perhatian dari orang tua kepada anaknya. Dan kata-kata ataupun kalimat yang memancing perhatiannya.

Baca Juga:
Ahlussunnah wal Jamaah Menghadapi Permasalahan dengan Dalil Syar'i Bagian 2 - Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Mengawali pembicaraan dengan sapaan atau seruan ini berfungsi untuk menarik perhatian ataupun meminta supaya memperhatikan apa yang dikatakan. Sehingga ayah berbicara dan anak mendengar/menyimak, tidak saling berbalas kata-kata.

Prioritas

Luqman berkata:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ

“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah.” (QS. Luqman[31]: 13)

Semua perkara dalam agama itu penting, tapi dari yang penting itu ada yang lebih penting. Sehingga kita harus bisa menentukan skala prioritas di dalam memberikan pelajaran kepada anak.

Perkara yang terpenting di sini adalah perkara yang berkaitan dengan aqidah tauhid. Karena ini merupakan sebab manusia itu diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa tugas terpenting orang tua adalah mengawal tauhid anaknya. Karena dia lahir dengan segel tauhid yang melekat pada dirinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap bayi lahir dengan membawa fitrahnya (tauhid).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka di sini Luqman berpesan agar jangan melakukan syirik, baik itu syirik kecil apalagi syirik besar.

Jelaskan alasannya

Luqman berkata:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman[31]: 13)

Terkadang dalam memberikan pelajaran kepada anak, tidak hanya perkara-perkara pokok tanpa menjelaskan alasan. Tapi kita perlu menjelaskan alasan. Misalnya mengapa dia harus shalat, mengapa tidak boleh berbohong, dan seterusnya.

Baca Juga:
Al-Qur'an Sebagai Pembeda

Seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melarang Al-Hasan kurma zakat, maka Nabi menjelaskan kepada Al-Hasan kenapa ia dilarang tidak boleh memakan kurma zakat. Yaitu karena beliau adalah cucu Nabi, maka tidak halal memakan harta zakat.

Kadang-kadang orang tua bisa menyuruh, bisa memerintah, dan bisa melarang, tapi tidak bisa menjelaskan alasan. Maka dari itu orang tua tentunya harus membekali diri juga dengan pengetahuan.

Perintah atau larangan yang tidak disertai dengan alasan membuat anak justru penasaran. Akhirnya dia tetap melakukan itu hingga dia tahu kenapa dia diperintah atau dilarang.

Banyak perintah dan larangan di dalam Al-Qur’an maupun hadits. Allah menjelaskan alasan kenapa manusia perlu shalat, Allah jelaskan keutamaan-keutamaan shalat.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Shalat yang kamu kerjakan itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut[29]: 45)

Allah menjelaskan alasan dibalik perintah dan larangan. Karena syariat ini penuh hikmah. Hingga kita tahu mengapa kita harus shalat, mengapa tidak boleh bohong, buruknya khianat, buruknya dosa dan maksiat.

Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Cara Menasihati Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Baca Juga:
Penyakit pada Anak dan Solusi Pengobatannya - Dialog Kesehatan Herbal (Sinse Abu Muhammad Faris Al-Qiyanji)

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.