Rodja Peduli

Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid

Merealisasikan Tauhid Dengan Sebenar-Benarnya

By  |  pukul 9:45 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 18 Oktober 2021 pukul 10:19 am

Tautan: https://rodja.id/38o

Merealisasikan Tauhid Dengan Sebenar-Benarnya adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 06 Rabiul Awal 1443 H / 13 Oktober 2021 M.

Kajian Tentang Merealisasikan Tauhid Dengan Sebenar-Benarnya

Yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah memurnikan dan membersihkannya dari kotoran-kotoran kesyirikan, perbuatan bid’ah dan maksiat.

Kalau kita perhatikan bab ini termasuk daripada keutamaan tauhid sebagaimana bab yang pertama. Namun ini disendirikan karena agungnya bab ini serta keutamaan paling tinggi dari keutamaan tauhid.

Setiap muslim mendapatkan keutamaan tauhid. Entah itu mendapatkan keamanan, petunjuk, masuk surga, diharamkan dari neraka, ataupun diberatkan timbangan dan diampuni dosa. Tetapi ada keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang, yaitu orang-orang yang benar-benar merealisasikan tauhid, benar-benar menerapkan kewajiban-kewajiban dari dua kalimat syahadat.

Kewajiban dari ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah’ adalah tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah. Dan kewajiban dari ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah’ adalah tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Inilah yang disebut dengan menerapkan tauhid dengan sebenar-benarnya. Tentu tidak semua orang bisa menerapkan hal itu.

Baca Juga:
Pengakuan Adalah Hujjah Yang Pengaruhnya Terbatas - Ushul Fiqih

Maka para ulama mengatakan bahwa penerapan tauhid yang sebenarnya adalah dengan cara:

  1. meninggalkan segala macam kesyirikan, baik syirik besar ataupun syirik kecil,
  2. meninggalkan perbuatan bid’ah dengan segala macam jenis perbuatan bid’ah,
  3. meninggalkan maksiat dengan segala macam jenis maksiat.

Dengan demikian maka seseorang benar-benar menerapkan tauhid. Dan dengan itulah dia akan mendapatkan keutamaan yang paling istimewa dari tauhid, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Bisa saja seorang muslim mendapatkan keutamaan tauhid. Tapi mungkin dia dipenuhi dengan maksiat, dipenuhi dengan perbuatan bid’ah. Tentunya berbeda dengan yang benar-benar menerapkan tauhid. Sehingga dirinya terlepas dari kesyirikan (besar atau kecil), terlepas dari perbuatan bid’ah, dan terlepas dari perbuatan maksiat.

Sifat Nabi Ibrahim Merealisasikan Tauhid

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh kepada kebenaran). Dan sekali-kali ia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. An-Nahl[16]: 120)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan sifat-sifat ini. Dimana sifat-sifat ini adalah puncak dari penerapan tauhid dengan sebenar-benarnya.

1. Suri tauladan

Menit ke-11:37 Maksudnya yaitu pemimpin yang dicontoh, pendidik/pengajar kepada kebaikan. Dan yang seperti itu tidaklah beliau dapatkan kecuali karena menyempurnakan kedudukan sabar dan keyakinan. Dengan sabar dan keyakinan inilah seseorang akan mendapatkan kepemimpinan dalam agama.

Baca Juga:
Tempat Tinggal Yang Abadi - Tafsir Surat As-Sajdah Bagian 3

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah[32]: 24)

2. Mengerjakaan ketaatan

Menit ke-15:22 Dengan seperti inilah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menjadi orang yang benar-benar menerapkan tauhid. Jadi orang yang bertauhid semestinya lebih banyak ibadahnya.

Yang sudah ngaji tauhid semestinya dia lebih banyak amalan-amalan sunnahnya setelah amalan-amalan wajib. Bukan berarti bersandar kepada tauhid kemudian dia malas-malasan beramal.

Jika shalat qabliyah ba’diyah jarang dia kerjakan, dzikir setelah shalat jarang dia kerjakan, membaca Al-Qur’an jarang dia kerjakan, maka ini sebenarnya menunjukkan kurangnya tauhid. Karena orang yang benar-benar menerapkan tauhid, dia akan menjadi orang yang semangat dan gigih untuk beribadah. Dan jika beribadah maka ibadahnya lama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu wahai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada siksa akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar[39]: 9)

Baca Juga:
Penjelasan dan Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Hijr Ayat 56 - Kitab Al-Qaulul Mufid (Ustadz Abu Haidar As-Sundawy)

Ini menunjukkan bahwasanya sungguh berbeda orang yang ahli ibadah dengan yang tidak beribadah. Dan ayat ini juga menunjukkan bahwasanya orang yang bertauhid adalah orang yang ahli ibadah. Sedangkan orang-orang musyrik tidak beribadah.

3. Hanif (Menghadap kepada Allah)

Menit ke-19:54 Yang disebut dengan Al-Hanif adalah orang yang selalu menghadap kepada Allah, berpaling dari setiap apa saja selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka orang yang hanif adalah orang yang selalu berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak pernah menoleh kepada selain Allah.

4. Memurnikan keikhlasan

Menit ke-21:22 Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam bukan termasuk orang yang melakukan kesyirikan. Hal ini karena murninya keikhlasan, sempurnanya kejujuran, dan jauhnya beliau dari kesyirikan.

5. Bersyukur

Dan kalau kita perhatikan firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 121, maka kita akan dapati bahwa ada sifat yang ke-5, yaitu:

…اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“…lagi yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilih dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl[16]: 121)

Beliau adalah orang yang senantiasa pandai bersyukur atas pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana potret lengkap penerapan tauhid yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Sejagat Raya Ampunan Dengan Tauhid” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Baca Juga:
Do'a Adalah Obat dan Solusi dari Allah - Kajian Kitab Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa' (Ustadz Mahfudz Umri, Lc.)

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.