Rodja Peduli

Mencetak Generasi Rabbani

Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat

By  |  pukul 8:48 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 01 November 2021 pukul 8:14 am

Tautan: https://rodja.id/39f

Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Rabi’ul Awal 1443 H / 26 Oktober 2021 M.

Kajian sebelumnya: Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan

Kajian Islam Ilmiah Tentang Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat

Kita sudah sampai pada poin lampiran- lampiran, yaitu beberapa hadits-hadits Nabi yang berisi nasihat-nasihat yang penting untuk kita sampaikan kepada anak-anak. Yang pertama telah kita sampaikan hadits Abdullah bin Abbas yang berisi wejangan tentang muraqabah, tauhid, dan iman kepada takdir.

Hadits lain yang penting juga kita sampaikan untuk anak-anak adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu tentang perintah untuk bersungguh-sungguh menjadi anak yang kuat dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan berandai-andai. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah.”

Ini memotivasinya untuk menjadi pribadi yang kuat, baik lahir maupun batin/mental/rohani/jiwa. Sehingga menjadi anak yang tegar dan siap untuk menghadapi tantangan-tantangan.

Sampaikan kepada anak-anak kita bahwa Allah lebih menyukai hamba yang kuat. Banyak kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekuatan dan tidak bisa dilakukan dengan kelemahan. Maka jadilah mukmin yang kuat.

Baca Juga:
Rukun Wudhu atau Wajib-Wajib Wudhu

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan:

وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Dua-duanya baik,” hal ini karena keduanya adalah orang-orang yang beriman, hanya saja yang kuat lebih disukai Allah dan lebih baik daripada yang lemah.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Sungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu,” yaitu memiliki kekuatan mental, kesungguhan, dan keuletan di dalam meraih cita-cita dan keinginan. Tidak mudah menyerah, tidak mudah mundur, tidak mudah berputus asa, dan terus mencoba.

Banyak di sana anak-anak yang mudah menyerah, tidak gigih dalam meraih cita-citanya, dan bahkan terkadang anak-anak itu belum mencoba tapi sudah menyerah kalah, merasa tidak mampu. Ini adalah satu perasaan yang harus disingkirkan dari dirinya dan diganti dengan optimisme.

وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Teruslah memohon pertolongan kepada Allah, dan jangan kamu lemah.” (HR. Muslim)

Biasakan anak memiliki hubungan dengan Allah, terutama di dalam hal meminta. Jika butuh pertolongan, maka pintu yang harus kita ketuk adalah pintu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hakekatnya tanpa pertolongan Allah kita tidak bisa apa-apa.

Hanya saja kadang-kadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya tapi manusia tidak merasa ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan selalu meminta pertolongan kepada Allah, seorang hamba harusnya menjadi hamba yang kuat, karena dia bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Baca Juga:
Hukum seputar Aqiqah (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Sesungguhnya kekuatan itu adalah milik Allah seluruhnya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)

Hamba yang merasa dia ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia menjadi hamba yang kuat. Ini perlu kita tanamkan kepada anak-anak untuk menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah, tidak mudah mundur sebelum dia berusaha semaksimal mungkin.

“Jangan bersikap lemah,” baik mental maupun fisiknya. Jadi anak harus dimotivasi untuk menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Hidup ini penuh tantangan dan rintangan yang bertubi-tubi. Perlu jiwa yang kuat untuk bisa menghadapinya.

Menanamkan iman kepada takdir

Menit ke-8:31 Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا

“Jika ada sesuatu musibah yang menimpa kamu, maka jangan kamu katakan: ‘Kalau aku tadi melakukan ini niscaya tidak akan begini dan begitu.’”

Iman kepada takdir perlu kita tanamkan kepada anak-anak sejak dini. Bahwa ada satu hal yang perlu dia imani, yaitu takdir. Bahwa segala sesuatu sudah ditulis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di Lauhul Mahfudz 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Artinya segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah, atas pengetahuan Allah, atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah yang menciptakannya.

Mungkin kita bisa memanfaatkan berbagai momen supaya menumbuhkan iman kepada takdir itu dalam hatinya. Sehingga dia kokoh di dalam menghadapi kehidupan. Karena didalam hidup ini tidak selamanya kita mendapatkan yang manis-manis, yang baik-baik, yang enak-enak. Kadang-kadang kita harus mencicipi yang pahit, mengalami suatu yang buruk, sesuatu yang tidak kita inginkan.

Baca Juga:
Kisah Kesabaran Nabi Yaqub 'alaihissalam saat Berpisah dengan Anaknya - Bagian ke-3 - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Bagian terberat di dalam iman kepada takdir adalah mengimani takdir yang buruk, meyakini bahwa itu juga adalah ketetapan dan ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa Allah menghendaki itu, Allah yang menciptakan itu.

Bagi orang dewasa yang sudah dapat berpikir secara jernih, dia bisa menerima terdiri yang buruk itu. Tapi bagi anak-anak, kalau tidak dilatih kadang-kadang mereka tidak bisa menerima, mereka bertanya-tanya kenapa itu terjadi, kenapa ini terjadi, kenapa tidak terjadi sebaliknya?

Orang tua harus memanfaatkan momen itu untuk menanamkan iman kepada takdir yang benar kepada anak-anak mereka. Maka salah satu hadits yang bisa kita pakai untuk menanamkan itu kepada anak-anak adalah hadits ini. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا

“Jika ada sesuatu musibah yang menimpa kamu, maka jangan kamu katakan: ‘Kalau aku tadi melakukan ini niscaya tidak akan begini dan begitu.’”

Ini untuk mencegah kita mengingkari atau tidak menerima takdir yang buruk itu.

Jangan berandai-andai

Menit ke-14:04 Jangan biasakan anak berandai-andai terhadap sesuatu yang tidak baik. Misalnya mengatakan “seandainya tidak terjadi seperti ini, harusnya seperti ini.” Tentu ini adalah satu hal yang terkadang muncul dalam hati. Maka perlu dilatih untuk bisa menerima sesuatu yang tidak diinginkan, kemudian mengajarkan doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka ucapkanlah:

Baca Juga:
Hak-Hak As-Sunnah - Bagian ke-1 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas segala kondisi.”

Hal ini agar dia bisa menerima itu dengan keimanannya kepada takdir.

Perkataan yang juga harus kita ajarkan kepada anak yaitu:

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini adalah takdir Allah, apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.”

Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.