Masjid Al-Barkah

Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu

Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh

By  |  pukul 12:46 pm

Terakhir diperbaharui: Rabu, 10 November 2021 pukul 8:35 am

Tautan: https://rodja.id/39w

Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 28 Rabi’ul Awal 1443 H / 04 November 2021 M.

Kajian sebelumnya: Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah

Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh

Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta:

Tiga puluh delapan, kedudukan ilmu pada ruh manusia adalah seperti kedudukan ruh pada badan. Yakni kalau ruh itu adalah kehidupan bagi badan manusia, maka ilmu adalah kehidupan bagi ruh manusia.

Maka jiwa/ruh manusia adalah bangkai yang hidupnya adalah dengan ilmu. Sebagaimana tubuh manusia adalah bangkai yang hidupnya dengan ruhnya. Sehingga fungsi ilmu adalah menghidupkan hati/jiwa/ruh pada diri manusia.

Sedangkan orang yang kaya dengan harta, perkara maksimal yang bisa dicapainya adalah menambah kehidupan bagi tubuhnya. Subhanallah ini jelas perbedaan yang sangat jauh sekali.

Orang-orang yang tidak punya ilmu agama disebutkan di dalam Al-Qur’an:

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ…

“Mereka adalah orang-orang yang mati dan tidak hidup sama sekali…” (QS. An-Nahl[16]: 21)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ…

“Wahai Rasulullah, kamu tidak bisa memperdengarkan kebenaran terhadap orang-orang yang sudah mati…” (QS. Ar-Rum[30]: 52)

Baca Juga:
Untuk Siapa Loyalitas Seorang Mukmin?

Maksudnya di sini adalah orang-orang yang mati hatinya. Makanya kedudukan ilmu pada ruh manusia adalah seperti kedudukan ruh pada badan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan petunjuk yang diturunkanNya kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ruh. Maksudnya ini ruh bagi jiwa.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا…

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu (wahai Rasulullah) ruh dari perintah Kami…” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

Agama ini adalah ruh bagi jiwa manusia. Artinya jiwa manusia akan kering dan mati ketika tidak disirami dengan wahyu dari petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu seorang penyair Arab mengatakan:

وَفي الجَهلِ قَبلَ المَوتِ مَوتٌ لِأَهلِهِ · وَأَجسادُهُم قَبلَ القُبورِ قُبورُ

“Kejahilan terhadap ilmu sebelum orangnya mati, telah terlebih dahulu mematikan jiwanya. Dan tubuh-tubuh mereka telah menjadi kubur sebelum tubuhnya sendiri masuk ke dalam kuburan.”

Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang selalu berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga puluh sembilan, kedudukan hati manusia seperti raja bagi anggota badan, sedangkan ilmu adalah perhiasan yang menghiasi raja, perlengkapan yang menjadikan penampilan raja itu semakin indah.

Baca Juga:
Al-Mustakfi Billah

Ini adalah penjelasan yang diterangkan oleh para ulama sehubungan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim tentang kedudukan hati pada anggota badan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal (daging), kalau segumpal daging itu baik maka anggota badannya baik, dan kalau segumpal daging itu rusak maka semua anggota badannya akan rusak, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati (manusia).” (HR. Muslim)

Dari sinilah para ulama mengambil kesimpulan hukum bahwa hati itu kedudukannya seperti raja, sedangkan anggota badan ini hanya prajurit dan pengawal yang mengikuti perintah sang raja.

Hati membutuhkan ilmu sebagai perhiasan, perlengkapan dan perbendaraan hartanya. Dengan ilmu inilah tegaknya kerajaan hati tersebut. Sementara seorang raja pasti membutuhkan perbekalan, harta dan perhiasan.

Adapun fungsi harta, pencapaian maksimalnya hanyalah sebagai perhiasan dan keindahan bagi badan (rakyat). Hal itupun kalau dia membelanjakan harta tersebut untuk menghiasi badannya. Tapi kalau dia sendiri hanya menyimpan hartanya, tidak menggunakannya untuk mempercantik badannya, maka ini tidak menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan menjadikan kekurangan dan bencana bagi dirinya.

Empat puluh, harta memang dibutuhkan, tapi batasan nilai yang dituju dengan harta hanyalah sekedar mencukupi, menegakkan dirinya, dan memenuhi kebutuhan yang mendesak. Sehingga dia mampu untuk menunaikan persiapannya dan membekali dirinya dalam perjalanannya menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Keutamaan Takut Kepada Allah Bagian 2 - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Inilah kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdoa dalam doa beliau:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

“Ya Allah jadikanlah rezeki yang Engkau anugerahkan kepada keluarga Muhammad rezeki yang secukupnya (tidak lebih dan tidak kurang).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini doa yang dibaca oleh hamba Allah yang paling mulia. Karena kalau harta yang dibawanya melebihi kadar yang sekedar cukup saja, maka ini akan menyembuhkannya bahkan membuat dia berhenti dalam perjalanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga keburukan dari kelebihan harta yang dibawanya lebih banyak daripada kemaslahatan untuk dirinya. Semakin bertambah kekayaannya dengan harta, maka dia semakin tertunda dalam perjalanan dan tertinggal dari mempersiapkan diri untuk safar yang ada di hadapannya.

Adapun ilmu yang bermanfaat; semakin dia menambah ilmunya, maka semakin bertambah pula persiapannya dan menambah bekalnya dalam perjalanan tersebut. Hal ini karena ilmu ketika dibawa tidak kelihatan. Ilmu ketika semakin bertambah bukan semakin melalaikan, tapi semakin mengingatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin memotivasi dia untuk melakukan kebaikan dan langkahnya semakin mantab dalam perjalanannya menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan taufik, hanya kepadaNya kita memohon pertolongan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolonganNya.

Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Baca Juga:
Kisah Dalam Mengingkari Bid’ah

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.