Rodja Peduli

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Tolong-Menolong

By  |  pukul 8:25 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 22 November 2021 pukul 10:10 am

Tautan: https://rodja.id/3ac

Khutbah Jumat: Tolong-Menolong ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 07 Rabi’ul Akhir 1443 H / 12 November 2021 M.

Khutbah Pertama Tentang Tolong-Menolong

Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl[16]: 18)

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apapun nikmat yang kamu miliki semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. An-Nahl[16]: 53)

Allah hanya meminta kita untuk bersyukur kepadaNya dengan menyembahNya semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain.

Kita bersyukur kepada Allah pada kesempatan siang ini kita masih diberi kesehatan, kita masih diberi kehidupan, kita masih dijaga di atas Islam dan iman.

Kemudian shalawat dan salam tidak lupa kita limpahkan untuk Nabi kita, teladan kita, junjungan kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atas keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan umat beliau sampai hari kemudian.

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Bagi hamba yang mengharapkan dan menginginkan turunnya pertolongan Allah kepada dirinya, maka salah satu sebab turunnya pertolongan Allah atas seorang hamba adalah dengan membantu sesama. Jadilah orang yang ringan tangan, suka membantu sesama, ini merupakan salah satu faktor Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan di dalam hadits:

Baca Juga:
Memaksimalkan Amal Shaleh di Hari-Hari Terakhir Bulan Ramadhan - Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Bahkan menolong sesama itu merupakan sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong kita, bukan hanya di dunia, bahkan nanti saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan, yaitu di akhirat kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan membantu kita. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan di dalam sebuah hadits:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Maka apapun kelebihan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita, baik itu berupa harta, kekuatan, jabatan, ilmu, maka kita membaginya dengan sesama. Kita membantu orang yang lemah, kita mengajari orang yang bodoh, kita membela orang yang lemah/miskin, karena kita memiliki kelebihan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dan tidak Allah berikan kepada yang lain, karena rezeki manusia memang tidak ada yang sama. Maka barangsiapa yang memiliki kelebihan, gunakanlah itu untuk membantu sesama/saudaranya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا

“Mudahkan urusan manusia, bantu mereka dan jangan menyulitkan orang lain.” (HR. Bukhari Muslim)

Perkara yang bisa kita bantu untuk saudara kita, maka bantulah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan salah satu di antara tingkatan iman, bahkan tingkatan iman yang paling rendah adalah:

Baca Juga:
Menapak Jejak Pemimpin Para Ulama (Ustadz Abuz Zubair Hawary, Lc.)

إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim)

Ini adalah bentuk mungkin yang sangat ringan/sepele kita membantu sesama. Ada rintangan di jalan, kayu atau sejenisnya, kita singkirkan, kita membantu sesama. Maka bantuan yang kita berikan untuk manusia ini akan berbuah manis pada akhirat kelak, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan surga dengan amalan yang sangat sederhana itu.

Sebagaimana seorang laki-laki yang menolong seekor anjing yang kehausan, lalu bagaimana menolong manusia yang kehausan? Menolong anjing yang kehausan saja berbuah surga. Seorang laki-laki melihat seekor anjing yang kehausan sampai ia menjulurkan lidahnya karena sangking hausnya, kemudian dia membuka sepatunya, menciduk air dengan sepatunya itu dan dia memberikan kepada anjing tersebut sehingga anjing itu pun selamat nyawanya:

فَشَكَرَ اللَّهُ له، فأدْخَلَهُ الجَنَّةَ

“Allah mensyukuri perbuatannya (karena membantu sesama makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memasukkan laki-laki itu ke dalam surga.” (HR. Bukhari)

Demikian pula di dalam sebuah hadits yang lain riwayat Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang berjalan, kemudian dia melihat ada batang kayu melintang di tengah jalan, lalu ia berkata dalam hatinya:

وَاللهِ لَأُنَـحِّـيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ

“Demi Allah, aku akan menyingkirkan batang kayu ini dari kaum muslimin.” (HR. Muslim)

Baca Juga:
Islam Diasingkan (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Itu membantu kaum muslimin, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyukuri perbuatannya dan memasukkannya ke dalam surga dengan perbuatan itu.

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata dalam sebuah hadits masih riwayat Muslim:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ

“Sungguh aku melihat seorang laki-laki yang berada di dalam surga, karena batang kayu yang dia singkirkan dari tengah jalan.” (HR. Muslim)

Menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan tingkatan iman yang paling rendah, bentuk menolong sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala membantu hamba itu bukan hanya di dunia, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantunya kelak sampai di akhirat.

Maka barangsiapa yang ingin mengharapkan turunnya pertolongan Allah dalam hidupnya, maka bantulah sesama, bantulah saudara-saudara kita yang perlu bantuan. Mungkin kita punya kelebihan, mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita keistimewaan. Janganlah kelebihan dan keistimewaan itu kita gunakan untuk menyombongkan diri dan berbangga diri dengan kelebihan yang Allah berikan kepada kita. Tapi bantulah hamba-hamba Allah yang lain, karena kelebihan itu merupakan ujian. Apakah kita gunakan pada tempat yang semestinya atau justru kita gunakan untuk berbangga diri, untuk menyombongkan diri di hadapan makhluk-makhluk Allah yang lainnya.

Oleh karena itu, tumbuhkanlah di dalam diri kita semangat membantu, semangat berbagi. Apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain, maka lakukanlah. Jadilah orang yang ringan tangan, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meringankan beban kita di dunia maupun di akhirat:

Baca Juga:
Semua Anak Hebat

Khutbah Jumat Kedua Tolong-Menolong

Merupakan salah satu kehormatan/rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dia sebagai hamba yang rendah hati. Dia sadar bahwa segala kelebihan yang Allah berikan kepadanya adalah titipan sekaligus cobaan. Apakah dia mampu menggunakannya dengan sebaik-baiknya? Ingat bahwa setan ada di balik semua itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan di dalam Al-Quran berkaitan dengan ini:

وَشَارِكْهُمْ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ

“Dan bersekutulah kamu hai Iblis terhadap Bani Adam dalam urusan harta dan anak-anak mereka.” (QS. Al-Isra[17]: 64)

Setan ikut campur dalam setiap kelebihan yang Allah berikan kepada kita. Tujuannya adalah agar kelebihan-kelebihan yang Allah berikan itu justru bukan menguntungkan kita, tidak berfaedah bagi kita, tapi justru membawa mudharat bagi kita. Harta yang bisa kita gunakan sebagai batu loncatan untuk meraih surga justru menyeret kita ke neraka. Kekuatan yang bisa kita gunakan untuk membawa kita ke surga, justru menyeret kita ke neraka. Kepintaran/ilmu yang kita miliki yang seharusnya bisa membawa kita ke surga, (karena campur tangan setan) kita justru masuk neraka karenanya.

Maka dari itu, jadilah hamba yang senantiasa menggunakan setiap kelebihan yang Allah berikan kepada kita untuk membantu saudara-saudara kita yang mungkin tidak seberuntung kita hidupnya.

Ingat bahwa manusia tidak ada yang sama rezekinya. Salah satu hikmah Allah membeda-bedakan rezeki satu sama lainnya adalah agar bisa melaksanakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Baca Juga:
Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 4 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ

“Dan tolong menolonglah kamu di dalam kebaikan dan di dalam kebenaran.” (QS. Al-Maidah[5]: 2)

Karena kita perlu orang lain dan orang lain perlu kita. Kita perlu membantu orang lain sebagaimana kita pada saat-saat tertentu -bagaimanapun kelebihan yang Allah berikan kepada kita;  harta, kekuatan, jabatan, ilmu dan lain sebagainya- ada banyak momen dimana kita perlu bantuan orang lain.

Maka salah satu hikmah Allah membedakan rezeki satu dengan yang lainnya adalah agar kita bisa saling tolong-menolong di dalam kebaikan dan kebenaran.

Demikianlah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempermudah urusan kita, memberikan menurunkan pertolonganNya kepada kita di dunia dan di akhirat, dan menjadikan kita hamba yang beruntung yang meraih surgaNya.

Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Tolong-Menolong

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Tolong-Menolong” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.