Rodja Peduli

Hadits Arbain Nawawi

Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan

By  |  pukul 2:24 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 30 November 2021 pukul 9:50 am

Tautan: https://rodja.id/3at

Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 18 Rabi’ul Akhir 1443 H / 23 November 2021 M.

Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi

Status program kajian Hadits Arbain Nawawi: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara

Kajian Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم -فِيْمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ.

وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat beliau dari Tuhan beliau Tabaraka wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian dia menjelaskannya;

Baca Juga:
Adab dan Akhlak Kepada Orang Tua

Barangsiapa yang bertekad untuk berbuat baik tapi dia kemudian tidak mengamalkan kebaikan itu, maka Allah mencatatnya di sisiNya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna.

Dan jika dia berniat untuk berbuat baik kemudian dia mengamalkan kebaikan itu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatatnya di sisiNya dan melipatgandakannya menjadi 10 kebaikan, atau menjadi 700, atau menjadi lebih banyak lagi.

Dan jika dia berniat untuk melakukan keburukan kemudian tidak mengamalkannya, maka Allah mencatatnya sebagai kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berniat untuk berbuat keburukan kemudian dia mengamalkan keburukan itu, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah sebuah kabar dan informasi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menyampaikan kepada kita bahwasanya Dia mencatat amalan-amalan kebaikan kita, pun juga amalan-amalan keburukan kita. Maka kita harus hati-hati dengan amalan kita. Kita harus meyakini bahwasanya seluruh amal baik pasti dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amalan-amalan buruk kita juga dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menegaskan bahwasanya akan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Masing-masing dari kita akan ditanya tentang amalannya. Apa yang sudah kita lakukan di dunia? Kita semuanya akan mempertanggungjawabkan itu dengan pertanggungjawaban yang sangat detail di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita semuanya harus menyiapkan diri untuk itu. Andai kematian menutup kehidupan kita sama sekali, maka kita bisa santai-santai. Tapi kematian hanyalah menutup kehidupan dunia kita saja. Dibalik kematian itu masih ada kehidupan yang lebih besar, kehidupan yang lebih penting, yang merupakan kehidupan sejati. Kebahagiaan kita di sana tergantung pada amalan kita saat masih di dunia.

Baca Juga:
Kajian Kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah - Hadits 1341-1346 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Maka selagi kita masih punya nafas, selagi kita masih punya nyawa, hendaknya kita ingat bahwasanya dunia ini hanya sementara. Kita harus mengupayakan kebahagiaan kita di akhirat yang merupakan negeri yang abadi dan kehidupan yang sejati. Jangan sampai kita terlena. Ingat bahwasanya semua amalan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan secara lebih detail tentang bagaimana Dia mencatat amalan-amalan kebaikan maupun keburukan.

Berniat melakukan kebaikan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang berniat/bertekad untuk melakukan suatu amalan kebaikan, Allah sudah mencatatkan untuknya karena niat beramal baik itu satu kebaikan yang sempurna.”

Niat di sini berarti sudah ada tekad, tidak hanya sekedar terbetik atau terpikir, tapi sudah lebih maju dari itu dimana kita sudah punya keinginan yang kuat dan tekad yang bulat untuk melakukan suatu amal.

Misalnya seseorang ingin shalat, ingin puasa, ingin zakat atau yang semacamnya. Meskipun kita akhirnya tidak jadi menjalankannya karena tidak mampu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mencatat niat baik itu sebagai sebuah kebaikan yang sempurna.

Ini adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk amal shalih dan kebaikan sekedar bertekad untuk mengamalkannya saja sudah membuat kita dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukan sebuah kebaikan yang sempurna.

Ini juga dijelaskan dengan hadits yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ قَدْ أَشْعَرَهَا قَلْبَهُ وَحَرَصَ عَلَيْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً

“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dari orang tersebut bahwasanya hatinya benar-benar bersemangat untuk mengamalkannya, maka itu sudah dicatat sebagai sebuah amal shalih di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ahmad)

Baca Juga:
Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 2 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Benar-benar mengamalkan kebaikan

Menit ke-15:12 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Adapun kalau dia bertekad melakukan suatu amal shalih kemudian benar-benar mengamalkannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencatat untuknya 10 kebaikan, atau menjadi 700, atau menjadi lebih banyak lagi.”

Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا…

“Barangsiapa yang melakukan suatu amal kebaikan, maka dia mendapat pelipatgandaan menjadi 10 kali pahalanya…” (QS. Al-An’am[6]: 160)

Atau menjadi 700 kali lipat, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ…

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir dan pada setiap bulirnya terdapat 100 biji…” (QS. Al-Baqarah[2]: 261)

Atau bisa lebih dari itu jika Allah menghendaki. Seperti pahala yang diberikan kepada orang-orang sabar yang akan mendapatkan pahala mereka tanpa perhitungan. Juga orang-orang yang berpuasa yang akan diberikan pahalanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung tanpa dibatasi oleh angka-angka ini.

Ini adalah orang yang terbaik, yaitu yang berniat untuk beramal shalih kemudian benar-benar merealisasikan tekad dan niatnya diatas muka bumi.

Mengurungkan niat buruk

Menit ke-18:20 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang berniat berbuat buruk kemudian dia tidak jadi mengamalkannya, maka Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna.”

Adapun tentang amal yang buruk, kalau kita baru sekedar niat saja kemudian tidak jadi mengamalkannya, dan kita meninggalkannya karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah mencatat niat buruk itu sebagai sebuah kebaikan yang sempurna. Hal ini karena niat buruk itu kita tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan maksiat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebuah bentuk takwa.

Baca Juga:
Pentingnya Perkara Ubudiyah dalam Islam - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Adapun kalau tidak jadi meninggalkan amal yang buruk ini adalah karena tidak mampu, orangnya sudah berusaha untuk bermaksiat tapi takdirnya dia tidak bisa menjalankan maksiat itu, maka yang seperti ini dia sudah mendapatkan dosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam sebuah hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dari umatku bisikan-bisikan hatinya selagi dia belum berbicara atau beramal.” (HR. Bukhari)

Jadi kalau ada bisikan-bisikan untuk berbuat buruk, maka itu belum dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala selagi belum berbicara atau beramal.

Dalam konteks orang yang berniat buruk kemudian dia sudah berjalan, sudah berusaha mengejar maksiat itu, tapi kemudian tidak bisa menjalankannya karena takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berarti dia sudah beramal, dia sudah melangkah, tidak hanya sebatas niat dalam hati, dia tidak meninggalkannya karena Allah, tapi dia meninggalkan perbuatan buruk itu karena tidak bisa menjalankannya. Maka yang seperti ini masih tetap dicatat berbuat buruk di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini semakin jelas dengan penjelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ

Baca Juga:
Makna Ulama Rabbani

“Jika dua orang muslim berjumpa dengan pedang mereka, maka orang yang membunuh dan juga yang terbunuh masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kenapa orang yang terbunuh juga masuk nereka? Ini mengherankan bagi para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan:

إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Orang yang terbunuh ini sebenarnya juga punya tekad untuk membunuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dia sudah bertekad membunuh, bahkan sudah mengayunkan pedangnya juga. Tapi karena takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dia kalah siasat dan kalah kuat dibanding lawannya, maka akhirnya dia yang terbunuh.

Melakukan keburukan

Menit ke- Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika dia bertekad untuk melakukan sebuah keburukan kemudian dia benar-benar mengamalkannya, maka Allah mencatat di sisiNya satu keburukan saja.”

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا

“…Dan barangsiapa yang melakukan suatu keburukan, maka dia tidak diganjar kecuali dengan yang sepertinya…” (QS. Al-An’am[6]: 160)

Jadi hanya dicatat melakukan satu keburukan saja. Namun keburukan ini bisa jadi menjadi satu titik yang tebal, kalau kita menjalankannya diwaktu yang terhormat atau di tempat yang suci.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, untuk kondisi yang keempat ini dijelaskan:

أو محاها الله

“Atau Allah menghapuskannya.” (HR. Muslim)

Jadi Allah mencatatnya satu keburukan saja atau Allah menghapuskannya. Allah menghapuskannya dengan berbagai sebab yang bisa menggugurkan dosa, baik berupa istighfar, taubat atau amal-amal shalih yang kita lakukan.

Kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pada hadits ini dijelaskan bahwa barangsiapa yang berniat berbuat baik, maka dia sudah dicatat melakukan kebaikan yang sempurna. Kalau kemudian dia menjalankannya, maka dilipatgandakan menjadi 10, 700 atau tanpa batas. Sedangkan orang yang berniat untuk berbuat buruk kemudian dia tinggalkan perbuatan buruk itu karena Allah, maka dia justru dicatat sudah melakukan sebuah kebaikan yang sempurna. Dan kalau akhirnya melakukan keburukan ini, maka dia hanya dicatat melakukan satu keburukan saja. Ini adalah anugerah dan kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Kalimat Tauhid adalah Pemersatu Umat dan Syarat untuk Masuk Surga - Bagian ke-2 - Jakarta 1438 / 2017 (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Maka logikanya, harusnya semua orang bisa meraih surga dengan tingkatnya yang tinggi. Hal ini karena Allah Maha Murah. Maka kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللهِ إِلَّا هَالِكٌ

“Maka tidak ada yang binasa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali memang orang-orang yang benar-benar buruk.” (HR. Muslim)

Kalau akhirnya timbangan keburukan lebih berat daripada timbangan amal kebaikannya, berarti keburukannya sungguh banyak. Karena aturan Allah sangat memudahkan kita.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu pernah mengatakan:

ويل لمن غلبت آحاده عشراته

“Sungguh celaka orang yang satunya mengalahkan sepuluhnya.”

Maksud beliau adalah bahwasanya orang yang keburukan-keburukannya mengalahkan kebaikan-kebaikannya, berarti dosanya sangat banyak.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama “Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan” ini ke jejaring sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.