Rodja Peduli

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Kehidupan Hati

By  |  pukul 5:03 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 30 November 2021 pukul 9:47 am

Tautan: https://rodja.id/3au

Khutbah Jumat: Kehidupan Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 14 Rabi’ul Akhir 1443H / 19 November 2021M.

Khutbah Pertama Tentang Kehidupan Hati

Sesungguhnya kehidupan hati adalah merupakan kehidupan yang hakiki. Dimana seorang hamba yang hatinya hidup, maka Allah berikan kepada dia berbagai macam kenikmatan. Dan kenikmatan yang paling luas adalah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, kenikmatan beramal shalih.

Maka ketika seorang hamba diberikan oleh Allah hati yang hidup, dia bisa melihat kebenaran, dia bisa merasakan akan adanya penyakit-penyakit yang masuk ke dalam dirinya.

Orang yang hatinya hidup, maka ia lebih bahagia dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dibandingkan ia memaksiati Allah ‘Azza wa Jalla.

Oleh karena itulah kewajiban seorang hamba lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan kesehatan badannya. Dahulu para sahabat Rasulullah Shalawatullahi ‘Alaihi wa Salamuhu diberikan oleh Allah keistimewaan dan keutamaan bukan dengan banyaknya amal, akan tetapi dengan kebeningan hati mereka.

Baca Juga:
Keutamaan Shalat Dhuha

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Tidaklah para sahabat diberikan keutamaan oleh Allah karena banyaknya shalat atau banyaknya puasa mereka. Akan tetapi mereka diberikan keutamaan oleh Allah karena apa yang ada di hati mereka.”

Dalam riwayat yang lain Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada teman-temannya: “Kalian lebih banyak shalatnya, kalian lebih banyak puasanya dibandingkan para sahabat. Tapi para sahabat lebih utama dari kalian.”

Lalu teman-temannya Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Kenapa hal itu terjadi?” Kata Al-Hasan Al-Bashri: “Karena hati mereka lebih mengharapkan akhirat dibandingkan kalian. Dan hati mereka lebih zuhud terhadap kehidupan dunia dibandingkan kalian.”

Subhanallah..

Seorang mukmin lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya. Adapun orang-orang yang terkena penyakit hati berupa kemunafikan, dia lebih memperhatikan kesehatan badannya dan tidak peduli dengan hatinya.

Allah mensifati orang-orang munafik dalam surah Al-Munafiqun, Allah berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ

“Apabila kamu melihat mereka, badan-badan mereka membuat kamu kagum.” (QS. Al Munafiqun[63]: 4)

Karena orang-orang munafik lebih memperhatikan badannya, tapi mereka tidak peduli dengan hatinya. Sedangkan mukmin sangat memperhatikan hatinya, dia khawatir kalau ternyata kemunafikan itu masuk ke dalam dirinya.

Muhammad bin Al-Munkadir berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku bertemu dengan tiga puluh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semua mereka mengkhawatirkan kemunafikan itu ada pada diri mereka.” (HR. Bukhari)

Baca Juga:
Perintah Untuk Berjamaah dan Larangan Dari Berpecah-Belah

Bayangkan, para sahabat yang imannya luar biasa ternyata mereka semua mengkhawatirkan dan takut kalau ternyata hatinya ditimpa penyakit kemunafikan. Karena sesungguhnya penyakit-penyakit hati (apalagi penyakit kemunafikan) akan membinasakan akhirat seorang hamba. Keselamatan kita di akhirat bukan tergantung kepada harta benda, tapi keselamatan di akhirat tergantung kepada hati kita Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ‎﴿٨٩﴾

“Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah membawa hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 88-89)

Apa yang dimaksud dengan selamat? Kata Ibnul Qoyyim selamat dari mengagungkan selain Allah, selamat dari berbagai macam penyakit-penyakit hati berupa kesombongan, berupa hiqd (dengki), cinta dunia yang berlebihan dan yang lainnya.

Hati yang berpenyakit menyebabkan amal pun tidak bermanfaat

Ketika hati dipenuhi dengan hawa nafsu dan syahwat, seringkali ilmu itu tidak ada manfaatnya. Lihatlah bagaimana Allah menceritakan seorang laki-laki yang bernama Bal’am yang hidup di zaman Nabi Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam.

Allah ajarkan kepadanya ayat-ayatNya, Allah ajarkan kepadanya tentang ilmu Allah ‘Azza wa Jalla, tapi ternyata ia memiliki penyakit hati, yaitu cinta dunia dan mengikuti hawa nafsu.  Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ‎﴿١٧٥﴾‏ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ…

Baca Juga:
Bacaan Doa Iftitah dan Sunnah-Sunnah Shalat

“Bacakan kepada mereka (wahai Muhammad) tentang berita orang yang telah Kami ajarkan ayat-ayat Kami, lalu ia lepas darinya, lalu setan mengikutinya, lalu ia pun menjadi tersesat. Kalaulah Kami kehendaki Kami akan angkat derajatnya dengan ayat-ayat Kami itu. kan tetapi ia lebih condong kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya.” (QS. Al-A’raf[7]: 175-176)

Ternyata hatinya penuh dengan penyakit cinta dunia, hatinya penuh dengan penyakit mengikuti hawa nafsu, sehingga akhirnya ilmu yang telah Allah ajarkan itu tidak ada manfaat dalam hidupnya.

Hati bagaikan tanah

Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan hati bagaikan tanah dan ilmu bagaikan air hujan, Rasulullah bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا

“Perumpamaan hidayah yang aku bawa bagaikan air hujan yang menimpa tanah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Air hujan bagaikan ilmu, sangat bermanfaat sekali. Sedangkan tanah bagaikan hati. Tapi ketika tanah itu tidak cocok untuk mendapatkan air hujan, ia menjadi malapetaka, ia menjadi longsor. Sehingga tidak ada manfaatnya air hujan yang Allah turunkan tersebut.

Demikian pula hati. Hati yang banyak penyakitnya, hati yang dipenuhi dengan syahwat dan mengikuti hawa nafsu, ketika mendapatkan ilmu, maka ilmu hanya menjadi malapetaka untuk dirinya.

Oleh karena itulah, perhatian kita kepada hati harus melebihi perhatian kita kepada badan. Karena sesungguhnya hati itulah kehidupannya lebih utama daripada kehidupan badan kita.

Baca Juga:
Biaya Panen dan Biaya Pembelian

Khutbah Jumat Kedua – Menjaga Kesehatan Hati

Ada tiga cara untuk memelihara kesehatan hati kita. Disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan, bahwasanya kesehatan hati tidak ada bedanya dengan kesehatan badan kita. Memelihara kesehatan badan itulah cara memelihara kesehatan hati. Yaitu:

  1. Yang pertama, menjaga stamina badan kita agar senantiasa kuat sehingga tidak mudah terserang penyakit. Demikian pula stamina iman yang ada di hati kita pun harus dijaga.
  2. Yang Kedua, tidak mengkonsumsi makanan yang bisa merusak badan kita. Demikian pula hati tidak mengkonsumsi sesuatu yang bisa merusak hati kita.
  3. Yang Ketiga, mengeluarkan unsur yang bisa merusak badan kita, demikian pula hati.

Menjaga stamina hati

Cara menjaga stamina hati adalah dengan cara beramal shalih. Kita berusaha membiasakan amalan shalih, kita membiasakan membaca Al-Quran setiap harinya, kita biasakan shalat tahajud bertaqarrub dan bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla, kita biasakan lisan kita berdzikir memuji Allah dan membesarkan-Nya. Karena itu adalah merupakan kekuatan hati kita. Ibadah dan amal shalih berupa shalat, puasa, zakat, sedekah dan yang lainnya itu kekuatan iman kita dan hati kita.

Jauhi yang bisa merusak hati

Jangan mengkonsumsi yang bisa merusak hati kita yaitu maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena maksiat itu melemahkan keimanan, maksiat menjadikan seorang hamba berat melaksanakan ketaatan.

Baca Juga:
Mukmin VS Kafir - Tafsir Al-Qur'an Surat As-Sajdah (Ustadz Maududi Abdullah, Lc. dan Ustadz Abuz Zubair Hawary, Lc.)

Berapa banyak orang-orang yang berbuat maksiat dan kita lihat lisannya kelu untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Hatinya pun tidak merasakan nikmat ketika ia shalat akibat maksiat yang ia lakukan kepada Allah.

Membuang hal-hal yang merusak hati

Keluarkan perkara yang bisa merusak hati kita dengan cara banyak istighfar dan taubat kepada Allah, minta ampun kepada Allah, istighfar kepada Allah.

Demi Allah, apabila seorang hamba diberikan oleh Allah taufik kepada dua ini (taubat dan istighfar), sungguh ia diberikan kepada sesuatu yang luar biasa. Karena sesungguhnya istighfar dan taubat itu yang menyebabkan Allah mengampuni dosa seorang hamba, walaupun sebanyak apapun dosanya. Sebagaimana dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ! لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُك عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتنِي غَفَرْتُ لَك

“Wahai anak Adam kalaulah dosamu sampai ke awang-awang di langit (saking banyaknya dosamu itu) kemudian kamu minta ampun kepadaKu, aku pasti ampuni dosamu.” (HR. Tirmidzi)

Subhanallah, saudaraku.. Betapa bahagianya seorang hamba yang diberikan oleh Allah hidayah kepada taubat dan istighfar, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Beruntung seorang hamba yang mendapatkan dalam catatan amalnya nanti di hari kiamat banyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ibn Majah)

Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Kehidupan Hati

Baca Juga:
Malu Adalah Kunci Dari Semua Kebaikan

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Kehidupan Hati” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.