Rodja Peduli

Tafsir Al-Quran

Urutan Pertama Dalam Memberikan infaq – Surah Al-Baqarah 215

By  |  pukul 8:25 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 11 Desember 2021 pukul 8:54 am

Tautan: https://rodja.id/3b5

Urutan Pertama Dalam Memberikan Infaq – Surah Al-Baqarah 215 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 25 Rabi’ul Akhir 1443 H / 30 November 2021 M.

Download juga kajian sebelumnya: Hikmah Allah Menguji HambaNya – Surah Al-Baqarah 214

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 215

Ayat ini turun tentang seorang sahabat bernama Amr bin Jamuh yang memiliki banyak harta. Beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang apa yang bisa diinfaqkan dan kepada siapa. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka infaqkan. Katakanlah: “Apa-apa yang kalian infaqkan dari kebaikan (harta) maka hendaklah diinfaqkan untuk kedua orang tua, dan karib kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal”. Dan apa-apa yang kalian lakukan dari kebaikan (berupa infaq dan sedekah), maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 214)

Baca Juga:
Khutbah Jumat: Tolong-Menolong

Faedah Surah Al-Baqarah Ayat 215

1. Semangat para sahabat

Semangat para sahabat -semoga Allah meridhai mereka- untuk bertanya tentang ilmu. Dimana di dalam Al-Qur’an pertanyaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dari 12 pertanyaan yang langsung Allah jawab.

Maka dari itu bertanya tentang ilmu itu dianjurkan, tapi dengan syarat:

Pertama, bertanya dalam perkara-perkara yang kita butuhkan. Dimana pertanyaannya memang bermanfaat untuk agama kita. Adapun pertanyaan yang tidak bermanfaat, maka hal seperti ini makruh hukumnya. Makanya kata para ulama bahwa para Salaf terdahulu membenci pertanyaan kecuali pertanyaan yang menimbulkan amal. Adapun kalau pertanyaan itu tidak menimbulkan amal apa-apa, maka mereka tidak menyukainya.

Kedua, tidak banyak bertanya. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang banyak bertanya.

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

“Karena sesungguhnya yang banyak membinasakan orang-orang sebelum kalian itu banyak bertanya dan menyelisihi Nabi mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihat juga: Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya

Maka silahkan bertanya kepada ahli ilmu dalam perkara-perkara yang kita butuhkan. Justru kalau kita tidak bertanya lalu kemudian berijtihad sendiri padahal kita bukan ahlinya, seringkali kita jatuh kepada kesalahan.

2. Jawaban yang bagus

Menit ke-5:56 Di antara termasuk kebagusan dalam menjawab adalah memberikan tambahan melebihi yang ditanyakan. Dimana tambahan tersebut dibutuhkan oleh yang bertanya.

Baca Juga:
Shalat Timbangan Iman Seseorang

Mereka bertanya tentang apa yang mereka infaqkan, tapi ternyata jawabannya dua; jawaban pertama tentang apa yang mereka infaqkan, yaitu harta yang halal. Jawaban kedua adalah kepada siapa hendaknya mereka infaqkan.

Ini sama seperti ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang “Bolehkah berwudhu dengan air laut?” Jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Ia suci dan mensucikan airnya dan halal bangkainya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i)

Padahal bangkainya tidak ditanya oleh sahabat tadi, tapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengetahui bahwa pasti mereka akan butuh jawaban itu.

3. Keutamaan berinfaq kepada orang tua dan karib kerabat

Menit ke-8:08 Keutamaan berinfaq kepada orang tua dan karib kerabat, dan bahwasanya itu lebih dikedepankan diatas fuqara’ dan masakin. Hal ini karena di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dulu kedua orang tua, kemudian setelahnya karib kerabat, baru kemudian anak yatim, kemudian orang miskin, baru kemudian ibnu sabil.

Ini menunjukkan bahwa kita dalam berinfaq hendaknya faham siapa dulu yang kita dahulukan. Ternyata Allah mendahulukan orang tua, setelah itu karib kerabat, baru yang lain. Oleh karena itu kita dalam sedekah itu jangan asal. Hendaknya kita memahami siapa yang harus kita dahulukan siapa yang diakhirkan.

4. Hak anak yatim

Menit ke-9:34 Anak-anak yatim itu punya hak dalam infaq, walaupun anak-anak yatim itu kaya (punya harta). Hal ini karena Allah mengkhususkan mereka dalam penyebutan ini. Allah tidak menyebutkan anak yatim yang farkir.

Baca Juga:
Bab Menuangkan Bekas Air Wudhu Kepada Orang Yang Pingsan - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya dalam keadaan dia masih kecil (belum baligh). Mereka punya hak diberikan infaq walaupun mereka punya harta dan mendapatkan warisan banyak.

5. Ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu

Menit ke-10:45 Ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu. Karena Allah berfirman: “Apa-apa yang kalian lakukan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Artinya Allah tahu apa yang kalian lakukan dari kebaikan, sekecil apapun. infaq yang kalian infaqkan walaupun kalian sembunyikan (tidak ada orang yang tahu), maka Allah tahu. Kalaupun misalnya infaqnya salah orang, tapi Allah tahu bahwa niat kamu memang mau berinfaq, tetap kamu dapat pahala.

6. Balasan Allah

Menit ke- Setiap perbuatan kebaikan, baik itu menginfaqkan harta, atau amalan anggota badan, atau mengajarkan ilmu, atau berjihad dijalan Allah, atau yang lain, Allah tahu dan Allah pasti memberikan balasan, Allah tidak mungkin berbuat dzalim.

Dan terkadang amalan yang kita anggap remeh ternyata itu yang menjadi sebab utama kita masuk surga. Disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Isra’ dan Mi’raj diperlihatkan kepada Rasulullah seorang laki-laki sedang mondar-mandir di surga. Ternyata gara-gara dia menyingkirkan batang pohon yang melintang di jalan.

Makanya kita jangan menganggap kecil kebaikan sekecil apapun juga. Karena bisa jadi amalan yang kecil itu justru sebab kita masuk ke dalam surga. Sebagaimana kita pun jangan menganggap remeh dosa sekecil apapun juga. Karena bisa jadi dosa kecil itulah yang menjadi sebab kita masuk kedalam api neraka.

Baca Juga:
Buktikan Keimananmu (Ustadz Abuz Zubair Hawary, Lc.)

7. Jangan menganggap remeh kebaikan

Menit ke-13:49 Seorang manusia jangan menganggap remeh perbuatan kebaikan sedikitpun juga, walaupun hanya tersenyum di depan saudara/teman kita. Nabi bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Selamatkan kalian dari api neraka walaupun berinfaq dengan setengah kurma.” (HR. Muslim)

Lihat juga: Khutbah Jum’at: Bahaya Meremehkan Dosa dan Menganggap Kecil Amalan

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Urutan Pertama Dalam Memberikan Infaq – Surah Al-Baqarah 215

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Urutan Pertama Dalam Memberikan Infaq – Surah Al-Baqarah 215” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.