Masjid Al-Barkah

Mukhtashar Shahih Muslim

Bahaya Teman Yang Buruk

By  |  pukul 8:09 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 23 Desember 2021 pukul 1:11 pm

Tautan: https://rodja.id/3bk

Bahaya Teman Yang Buruk merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 8 Jumadil Awal 1443 H / 12 Desember 2021 M.

Kajian sebelumnya: Awal Iman Adalah Ucapan Laa Ilaaha Illallah

Kajian Hadits Bahaya Teman Yang Buruk

Dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari ayahnya, ketika Abu Thalib telah hadir kematiannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang. Dan ternyata beliau mendapati di sisi Abu Thalib ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Hai Paman, ucapkan Laa Ilaaha Illallah yang dengan kalimat itu aku akan bersaksi untukmu nanti di sisi Allah.”

Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah: “Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus mengatakan “Ucapkan Laa Ilaaha Illallah” dan mengulang-ulanginya. Dan ternyata Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah pun juga sama mengatakan demikian terus. Sehingga akhirnya ternyata diakhir hayatnya Abu Thalib menyatakan bahwa dirinya diatas agama ayahnya dan tidak mau mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.

Baca Juga:
Persaksian Dari Allah Bagi Orang Yang Berilmu

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ

“Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang oleh Allah.” Maka Allah pun menurunkan firmanNya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidaklah Nabi dan orang-orang yang beriman layak untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrikin walaupun mereka karib-kerabat, setelah jelas kepada mereka bahwa mereka penduduk neraka jahanam.” (QS. At-Taubah[9]: 113)

Dan Allah pun turunkan tentang Abu Thalib, Allah berfirman kepada RasulNya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada siapa yang kamu suka, akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki, dan Allah lebih tahu siapa yang berhak mendapatkan hidayah.” (QS. Al-Qashash[28]: 56)

Hadits ini kita ambil faidah:

Mendatangi orang kafir

Bolehnya mendatangi orang kafir yang sedang sakaratul maut untuk mentalqin Laa Ilaaha Illallah. Kalau antum punya saudara yang kafir kemudian dia menuju kematiannya, maka gunakan kesempatan itu suruh dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.

Mentalqin mayat

Disyariatkan mentalqin mayat dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sebagaimana dalam hadits:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ

“Talqinkan mayat kalian dengan ucapan Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Muslim)

Baca Juga:
Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan? - Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Adapun ditalqin dengan “Allah” karena beranggapan Laa Ilaaha Illallah terlalu panjang dan dikhawatirkan hanya mengucapkan Laa Ilaaha, maka kita katakan bahwa jangan menolak dalil dengan akal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memerintahkan “Talqinkan mayatmu dengan ucapan Laa Ilaaha Illallah,” lalu kamu tolak dengan mengatakan kasihan mayatnya kepanjangan. Siapa yang lebih tahu tentang kebaikan, kamu atau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Tentu Rasulullah lebih tahu daripada kita.

Jika mayat baru mengucapkan Laa Ilaaha ternyata meninggal dunia, maka ia tetap dianggap mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Ini karena niatnya dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Allah Maha Tahu kalau si hamba ini mau mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Maka jangan diganti. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah menentukan hal ini.

Bahaya teman-teman yang buruk

Menit ke-10:43 Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi Abu Thalib, ternyata di sisi Abu Thalib sudah ada dua pentolan Quraisy yang sangat memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah.

Biasanya ketika seseorang meninggal dunia yang ada disekitarnya pasti orang-orang terdekatnya. Kalau ternyata orang-orang terdekat Antum adalah orang-orang yang buruk, merekalah yang akan berada di sekitaran sekitar Antum. Tapi kalau teman-teman Antum orang-orang yang shalih, merekalah yang akan berada di sekitaran Antum, biidznillah.

Oleh karena itulah teman-teman yang buruk ini berbahaya dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Baca Juga:
Besarnya Kedudukan Do'a Dalam Islam - Kajian Kitab Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa' (Ustadz Mahfudz Umri, Lc.)

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ

“Seseorang itu di atas agama teman akrabnya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Maka dalam Islam tidak ada istilah “gaul sama siapa saja”. Terkadang banyak pemuda merasa malu disebut kuper (kurang pergaulan). Gara-gara takut disebut kuper akhirnya bergaul dengan siapa saja lalu tersesat jalan. Padahal kalau kurang pergaulan dengan orang-orang buruk itu bagus. Tapi kalau kurang pergaulannya sama orang-orang shalih inilah yang tidak bagus.

Semestinya kita bergaul dengan orang shalih yang bisa menambah keilmuan dan keimanan serta mengingatkan kita kepada kehidupan akhirat. Itulah tanda teman yang shalih.

Dalam surah Al-Furqan ayat 52, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan tentang penduduk neraka yang masuk neraka gara-gara temannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

… يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ‎﴿٢٧﴾‏ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ‎﴿٢٨﴾‏

“Dia berkata: ‘Aduh, andaikan aku tidak jadikan dia sebagai teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari kebenaran setelah kebenaran datang kepadaku.'” (QS. Al-Furqon [25]: 28-29)

Kalau menyesalnya di dunia tidak masalah, tapi ini menyesalnya di neraka. Masuk neraka gara-gara salah berteman. Makanya masalah pertemanan dalam Islam sangat diperhatikan.

Lihat juga: Khutbah Jum’at: Memilih Teman Yang Shalih

Walaupun tentunya berteman dengan orang shalih itu butuh kesabaran juga. Karena teman kita yang shalih itu bukan malaikat, dia juga manusia yang punya kekurangan. Makanya Allah menyuruh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk sabar terhadap orang-orang shalih itu. Allah berfirman:

Baca Juga:
Menjadi Pendengar Yang Baik

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…

“Sabarkan dirimu bersama orang-orang yang senantiasa menyeru Rabbnya diwaktu pagi dan petang, dan jangan palingkan matamu dari mereka hanya karena mengharapkan kehidupan dunia…” (QS. Al-Kahfi[18]: 28)

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Bahaya Teman Yang Buruk

Mari turut membagikan link download kajian “Bahaya Teman Yang Buruk” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.