Masjid Al-Barkah

Fiqih Do'a dan Dzikir

Keistimewaan Waktu Pagi

By  |  pukul 2:11 pm

Terakhir diperbaharui: Minggu, 23 Januari 2022 pukul 12:37 pm

Tautan: https://rodja.id/3cs

Keistimewaan Waktu Pagi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Jumadil Akhir 1443 H / 17 Januari 2022 M.

Kajian Tentang Keistimewaan Waktu Pagi

Banyak orang yang tidak mengerti atau belum memahami betapa istimewanya waktu pagi. Atau mereka sudah mengerti betapa mahalnya waktu di pagi hari akan tetapi karena kalah dengan dorongan nafsu akhirnya menyia-nyiakan waktu paginya.

Kita tahu bahwa pagi itu memang udaranya dingin, kalau sudah mendekati subuh rasa-rasanya kasur terasa semakin empuk, selimut terasa semakin hangat, mata terasa semakin berat untuk dibuka. Itulah godaan ketika adzan subuh berkumandang.

Ketika seseorang kemudian bisa mengalahkan dorongan nafsunya sehingga tetap mau bangkit dari kasur untuk menunaikan shalat subuh, ternyata godaan di waktu pagi pun masih datang, yaitu setelah subuh. Karena ternyata setelah subuh akan timbul godaan seakan-akan tidur habis subuh itu sangat nikmat (dengan berbagai alasan).

Lain cerita ketika orang sedang sakit atau baru datang berpergian. Tapi ketika dalam kondisi sehat wal afiat kemudian tetap meringkuk di atas kasur, maka ini adalah sesuatu yang harus diperbaiki dari seseorang.

Karena pagi adalah waktu yang paling indah, istimewa dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menghargai waktu pagi, mereka sangat berupaya memanfaatkan waktu pagi sebaik mungkin.

Baca Juga:
Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 3 - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Ada seorang Tabiin bernama Abu Wa’il (salah satu murid Abdullah Ibnu Masud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu). Dia bercerita bahwa pada suatu hari beliau dan beberapa teman-temannya berkunjung ke rumah Sang Guru. Begitu sampai ke depan pintu rumah Ibnu Mas’ud, mereka pun mengucapkan salam. Setelah dijawab salamnya, lalu mereka dipersilahkan masuk. Tapi ternyata Abu Wa’il tetap berdiri di depan pintu seakan-akan ada yang menghalangi.

Akhirnya pembantunya Ibnu Mas’ud keluar dan menyampaikan silahkan masuk. Begitu mereka masuk ternyata Ibnu Mas’ud sedang duduk menghadap kiblat dan berdzikir. Beliau berhenti sebentar kemudian bertanya kepada murid-muridnya: “Kalian tadi kenapa tidak segera masuk?” Murid-muridnya menjawab: “Wahai guru, kami khawatir jangan-jangan ada salah satu anggota keluargamu yang sedang tidur.”

Maka Ibnu Mas’ud berkata: “Apa kalian pikir keluarganya Ibnu Mas’ud itu pemalas?” Artinya saat itu kalau ada orang tidur setelah subuh dan tidak ada alasan apa-apa (bukan sedang sakit/kelelahan) maka itu terkesan kebiasaannya para pemalas.

Akhirnya muridnya diam dan Ibnu Mas’ud melanjutkan dzikirnya sampai matahari terbit. Ketika matahari terbit, Ibnu Mas’ud berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا وَلَمْ يُهْلِكْنَا بِذُنُوبِنَا

“Segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan hidup untuk kita di pagi ini dan tidak membinasakan kita akibat dosa-dosa yang kita kerjakan.” (HR. Muslim)

Dari satu kisah ini dan masih ada kisah-kisah yang lain itu menunjukkan betapa para ulama Salaf sangat menghargai waktu pagi. Mereka berupaya untuk mengoptimalkan pagi itu dalam kebaikan. Sebab kalau pagi itu dioptimalkan untuk kebaikan, maka sisa hari itu akan dipenuhi dengan produktivitas dalam melakukan kebajikan.

Baca Juga:
Amalan Bulan Ramadhan

Syaikh ‘Abdurrazzaq Al-Badr Hafidzahullah menyampaikan bahwa pagi hari itu seperti masa muda sedangkan sore dan malam seperti masa tua. Apabila seseorang pada masa mudanya rutin melakukan sebuah kebiasaan, maka biasanya kebiasaan itu akan terbawa sampai masa tuanya. Jadi kalau orang dimasa mudanya mempunyai kebiasaan jelek, itu biasanya akan terbawa sampai masa tua atau sebaliknya. Atau sebaliknya kalau ada orang punya kebiasaan baik dimasa mudanya, maka itu akan terbawa sampai masa tuanya.

Ketika pagi harinya digunakan untuk berdzikir, berarti mengawali pagi hari dengan kebaikan. Maka kebaikan itu akan bertahan sampai sore bahkan malam. Ibarat seseorang mempunyai kebiasaan dimasa muda, maka kebiasaan baik itu akan terbawa sampai masa tuanya. Ketika dipagi hari seseorang mengawalinya dengan semangat, maka sisa harinya pun akan terbawa dengan kesemangatan.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.

Download mp3 Kajian Keistimewaan Waktu Pagi

Mari turut membagikan link download kajian “Keistimewaan Waktu Pagi” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Baca Juga:
Celaan Terhadap Bid'ah dan Para Pelakunya

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.